<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>densus 99 anti thagut</title>
	<atom:link href="http://dadangmustofa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dadangmustofa.wordpress.com</link>
	<description>perjuangan seorang mu'min sejati takan pernah berakhir hingga kedua telapak kakinya telah menginjak pintu jannah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Jan 2012 05:40:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dadangmustofa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/dbfa2f41d2f5282d7a87e802d2647a01?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>densus 99 anti thagut</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dadangmustofa.wordpress.com/osd.xml" title="densus 99 anti thagut" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dadangmustofa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jihad tidak BERGANTUNG dengan tokoh</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/07/09/jihad-tidak-bergantung-dengan-tokoh/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/07/09/jihad-tidak-bergantung-dengan-tokoh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 11:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[jihadnews]]></category>
		<category><![CDATA[menang kalah perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Pemandangan sehari-hari yang kita saksikan sekarang ini adalah ketergantungan umat Islam dalam masalah jihad kepada orang atau tokoh tertentu. Barangkali mereka tidak mengatakannya secara langsung, mungkin hanya terlihat dari sikapnya. Sebagai bukti, tak sedikit kaum muslimin akan mengatakan kepada Anda: “Agama Islam ini adalah agama Alloh, jika orang yang berkhidmad kepada agama-Nya meninggal Alloh akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=271&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemandangan sehari-hari yang kita saksikan sekarang ini adalah ketergantungan umat Islam dalam masalah jihad kepada orang atau tokoh tertentu.</p>
<p>Barangkali mereka tidak mengatakannya secara langsung, mungkin hanya terlihat dari sikapnya. Sebagai bukti, tak sedikit kaum muslimin akan mengatakan kepada Anda:<span id="more-271"></span> “Agama Islam ini adalah agama Alloh, jika orang yang berkhidmad kepada agama-Nya meninggal Alloh akan ciptakan makhluk lain yang menjadi pelayan agama Islam yang akan membelanya.”</p>
<p>Sayangnya, ketika tiba giliran untuk merealisasikan kata-katanya ini dalam praktek nyata, kita tidak akan jumpai langkah kongkret dan berarti dari manhaj ini dalam kehidupan.</p>
<p>Siapa yang mau memperhatikan kondisi umat Islam hari ini dari sisi temperamen dan gaya berbicara pemeluknya, akan menjumpai sebuah kenyataan yang tidak bisa dianggap sebelah mata; ada orang-orang yang menggantungkan setiap hal kepada tokoh tertentu, bukan hanya dalam masalah jihad, bahkan dalam masalah dakwah, usaha memperbaiki masya-rakat, amar makruf nahi munkar, dan lain sebagainya.</p>
<p>Yang menjadi fokus kami dalam pembahasan ini adalah menegaskan bahwa jihad tidak bergantung dengan pimpinan atau tokoh-tokoh tertentu. Menggantungkan jihad dengan tokoh, baik itu komandan (<em>qiyadah</em>) ataupun mujahidin merupakan bahaya besar yang mengancam kekokohan akidah tentang syiar jihad dalam hati kaum muslimin di sepanjang zaman. Ini akan melemahkan keyakinan diri bahwa jihad akan tetap berlangsung dan relevan di setiap zaman. Bahkan, ini akan menjadi penghalang utama secara psikologis dan manhaj ketika seseorang hendak menapaki jalan jihad serta ingin mengkonsentrasikan diri terhadap syiar agama yang agung ini.</p>
<p>Alloh Ta‘ala telah mendidik shahabat Muhammad SAW untuk hanya bergantung kepada-Nya jua dan kepada agama-Nya. Alloh menerang-kan kepada mereka bahwa menggan-tungkan diri dengan tokoh adalah cara yang tidak benar, akan berdampak kepada tergantungnya perjuangan dengan orang tersebut sehingga bisa jadi perjuangan berhenti dengan meninggalnya seorang tokoh.</p>
<p>Alloh Ta‘ala melarang para shahabat –<em>Radhiyallohu ‘Anhum—</em> menggantungkan diri kepada tokoh-tokoh tertentu, belum pernah Alloh melarang orang lain seperti larangan ini kepada mereka, Alloh melarang shahabat menggantungkan syiar-syiar agama dengan makhluk terbaik yang pernah Alloh ciptakan, dialah Muhammad bin Abdulloh SAW. Alloh melarang mereka bergantung dengan pribadi Nabi Muhammad SAW, Alloh berfirman:</p>
<p>{وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِينْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ}</p>
<p><em> “Muhammad tidak lain adalah seorang rosul yang telah lewat sebelumnya para rosul. Apakah ketika ia mening-gal atau terbunuh, kalian berbalik ke belakang? siapa yang berbalik ke belakang, tidaklah ia membahayakan Alloh sedikitpun, dan Alloh akan mem-beri balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” </em><a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ayat ini turun untuk mendidik shahabat –<em>Ridhwanulloh ‘Alaihim</em>—, melarang mereka untuk menggunakan methode (manhaj) yang rusak, yang bisa merusak ibadah; yaitu menggantungkan amal kepada orang tertentu.</p>
<p>Menggantungkan amal di sini bukan selalunya mempersekutukan Alloh dengan tokoh tersebut, bukan, karena ini bisa menjadi syirik kecil, bahkan bisa juga menjadi syirik besar; maksud kami menggantungkan amal dengan tokoh adalah ketika seorang muslim beranggapan bahwa ibadah yang ia lakukan, khususnya jihad, tidak akan menuai sukses, tidak akan mengalami kemajuan dan tidak akan mendapatkan hasil apapun kalau bukan karena Alloh menjadikan tokoh ini atau tokoh itu berada di barisan depan para pejuang yang lain. Inilah gambaran minimal yang Alloh larang untuk menjadikannya sebagai manhaj. Alloh telah melarang shahabat Rosululloh SAW memakai manhaj ini.</p>
<p>Perkataan para <em>mufassirun </em>(ahli tafsir) berikut ini akan semakin memperjelas apa yang kami maksud, akan menerangkan betapa bahayanya manhaj tersebut yang pasti akan berujung kepada ditinggalkannya agama, atau paling tidak usaha memperjuangkannya menjadi lemah.</p>
<p>Baiklah, Ibnu Katsir berkata menafsirkan ayat yang kami sebutkan di atas (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: I/ 410), “Ketika perang Uhud, di kala sebagian kaum muslimin mundur dan sebagian lagi terbunuh, syetan berteriak: “Muhammad terbunuh!” Ketika itu seorang bernama Ibnu Qomi‘ah kembali ke barisan kaum musyrikin seraya mengatakan, “Aku berhasil membunuh Muhammad,” Padahal sebenarnya Rosululloh SAW hanya terkena pukulan pada bagian kepala sehingga beliau terluka. Hal ini mengguncangkan hati kebanyakan kaum muslimin kala itu dan mereka menganggap Rosululloh SAW sudah terbunuh. Mereka terlalu berlebihan membayangkan Nabi SAW, seperti kisah kebanyakan nabi yang diceritakan Alloh. Akhirnya, terjadilah kelemahan semangat, perasaan takut mati dan malas berperang. Saat itulah turun firman Alloh: <em>“Muhammad tidak lain adalah seorang rosul yang telah lewat sebelumnya para rosul&#8230;”</em> maksudnya, Beliau pun sama dengan para rosul yang lain dalam mengemban risalah dan beliau juga bisa dibunuh. Ibnu Abi Najih menuturkan dari ayahnya bahwasanya ada seorang lelaki dari Muhajirin yang melewati seorang lelaki Anshor yang sedang berlumuran darah, ia berkata: “Hai fulan, tahukah kamu, Muhammad sudah terbunuh.” Orang Anshor itu menjawab, “Jika Muhammad terbu-nuh, ia telah menyampaikan risalah, maka berperanglah membela agama beliau yang sekarang kalian yakini.” Maka turunlah ayat: <em>“Muhammad tidak lain adalah seorang rosul yang telah lewat sebelumnya para rosul…”</em> (Diriwayatkan oleh Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>afidz Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab <em>Dala&#8217;ilun Nubuwwah</em>). Kemudian Alloh berfir-man mengingkari kelemahan yang terjadi ketika itu: <em>“Apakah ketika ia meninggal atau terbunuh, kalian berbalik ke belakang?” </em>artinya, kalian mundur ke belakang, <em>“&#8230;siapa yang berbalik ke belakang, tidaklah ia membahayakan Alloh sedikitpun, dan Alloh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,” </em>mereka adalah orang-orang yang berbuat taat kepada Alloh, berperang membela agama-Nya, mereka mengikuti rosul-rosul-Nya, baik ketika ia masih hidup atau sudah meninggal dunia. Demikian juga terdapat riwayat-riwayat yang bisa dipertanggung jawabkan keshahihannya di dalam <em>Kitab-kitab hadits shohih, musnad </em>dan <em>Sunan</em> serta buku Islam lain dari banyak jalur yang menunjukkan hal ini secara absolut, saya telah menyebutkan sebelumnya dalam dua <em>Musnad Abu Bakar </em>dan<em> Umar –radhiyallohu ‘anhuma—</em>, di sana disebutkan bahwa Abu Bakar As-Shiddiq ra membaca ayat di atas ketika Rosululloh SAW wafat. Bukhori berkata bahwa Aisyah ra mencerita-kan, “Abu Bakar ra datang menaiki kuda dari kediamannya di daerah Sanh, kemudian ia turun dari kudanya dan masuk ke masjid, ia tidak mengatakan apapun kepada manusia sampai masuk ke rumahku (Aisyah), ia mengusap Rosululloh SAW dalam keadaan jasad beliau tertutup kain yang berhias tinta, kemudian ia membuka wajah beliau, kemudian ia peluk dan kecup wajah beliau seraya menangis kemudian berkata: “Demi ayah dan ibuku; Demi Alloh, Alloh tidak akan mengumpulkan dua kematian pada dirimu, adapun kematian yang telah ditetapkan untuk-mu, engkau telah menjemputnya.”</p>
<p>Az-Zuhri berkata, Abu Salamah bercerita kepadaku dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Abu Bakar keluar, saat itu Umar berkhutbah di hadapan manusia, Abu Bakar berkata, “Duduklah wahai Umar.” Kemudian Abu Bakar berkata, “<em>Amma ba‘du</em>, barangsiapa beribadah kepada Muhammad, sesungguhnya beliau telah meninggal dunia, dan siapa yang beribadah kepada Alloh sesungguhnya Alloh Mahahidup dan tidak pernah mati. Alloh berfirman: <em>“Muhammad tidak lain adalah seorang rosul yang telah lewat sebelumnya para rosul. Apakah ketika ia meninggal, kalian berbalik ke belakang? siapa yang berbalik ke belakang, tidaklah ia membahayakan Alloh sedikitpun, dan Alloh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” </em></p>
<p>Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Demi Alloh, saat itu orang-orang merasa ayat ini seolah baru diturunkan, yaitu ketika Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang membaca ayat tersebut, tidak ada satu orangpun tidak kude-ngar membacanya, Sa‘id bin Musay-yib menceritakan kepadaku bahwasa-nya ‘Umar berkata: “Demi Alloh aku baru tersadar setelah Abu Bakar membacakannya, akupun bercucuran keringat sampai-sampai kedua kakiku tak sanggup menyangga tubuhku dan akupun jatuh tersungkur.”</p>
<p>Abul Qosim At-Thobaroni berkata dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya ‘Ali mengata-kan ketika Rosululloh SAW masih hidup, <em>“Apakah jika Muhammad meninggal atau terbunuh, kalian akan berbalik ke belakang&#8230;” </em>Demi Alloh kami tidak akan mundur ke belakang setelah Alloh memberi kami hidayah, demi Alloh seandainya beliau wafat atau terbunuh aku benar-benar akan berperang membelanya sampai aku mati, demi Alloh aku adalah saudaranya, aku adalah walinya, aku adalah sepupunya, aku adalah ahli warisnya, siapakah yang lebih berhak membelanya selain aku?”</p>
<p>Sedangkan firman Alloh pada ayat selanjutnya:</p>
<p>{وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوْتَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ كِتَاباً مُؤَجَّلاً}<strong> </strong></p>
<p><em>“Tidaklah satu jiwa meninggal kecuali atas izin Alloh, sebagai ketetapan yang sudah pasti.” </em><a href="#_ftn2">[2]</a><em> </em>artinya, tidak ada seorangpun yang mati kecuali atas takdir Alloh sampai ia habiskan batas waktu yang Alloh tentukan untuknya, oleh karena itu Alloh berfirman: <em>“…sebagai ketetapan yang sudah pasti.” </em></p>
<p>Sama seperti firman Alloh:</p>
<p>{وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلاَ يُنْقَصُ منِ ْعمُرُهِ ِإلاَّ فِي ِكِتَابٍ}<strong> </strong></p>
<p><em>“Tidaklah orang yang berumur ditambah dan dikurangi umurnya kecuali sudah tercantum dalam Kitab (Lauhul Mahfudz).” </em><a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Seperti juga firman Alloh:</p>
<p>{هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ طِيْنٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلاً وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ}<strong></strong></p>
<p><em>“Dialah yang telah menciptakan kamu dari tanah kemudian menentukan ajal, ajal pasti itu ada di sisi-Nya&#8230;”</em> <a href="#_ftn4">[4]</a><em> </em></p>
<p>Ayat ini menjadi penyemangat bagi orang-orang yang ciut nyalinya sekaligus pendorong bagi mereka untuk berperang, karena maju ataupun mundur sama sekali tidak akan mengurangi atau menambah umurnya, sebagaimana diceritakan Ibnu Abi Hatim, Al-‘Abbas bin Yazid Al-‘Abdi berkata kepadaku, Aku mendengar Abu Mu‘awiyah bercerita dari Al-A`masy dari Hubaib bin Shohban ia berkata: Ada seorang dari kaum muslimin –yaitu Hujr bin ‘Adi— mengatakan: “Apa yang menjadikan kalian tidak bisa menyeberang ke tempat musuh melewati sungai Dajlah ini? <em>“Tidaklah satu jiwa mati kecuali atas izin Alloh dengan ketetapan yang sudah pasti.” </em>Kemudian ia nekat menyeberang sungai itu dengan kudanya, ketika melihat ia maju maka orangpun semuanya maju, ketika musuh melihat hal itu mereka mengatakan: “Orang gila&#8230;orang gila&#8230;” dan merekapun lari.” Sampai di sini perkataan Ibnu Katsir <em>Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>imahulloh</em>.</p>
<p>Penulis kitab <em>Zadul Masir</em> berkata ketika menafsirkan ayat ini:</p>
<p>“Alloh Ta‘ala berfirman, <em>“Muhammad tak lain adalah seorang rosul &#8230;”</em>, Ibnu ‘Abbas berkata: Ketika perang Uhud syetan berteriak: Muhammad terbu-nuh! Maka sebagian kaum muslimin mengatakan, “Jika Muhammad terbunuh kita akan menyerah, mereka (kaum musyrikin) itu adalah keluarga dan saudara kita, seandainya Muhammad hidup tentu kita tidak akan kalah,” kemudian orang-orang itu memilih untuk lari dari perang maka turunlah ayat ini.</p>
<p>Adh-Dho<span style="text-decoration:underline;">h</span>ak berkata: Orang-orang munafik berkata, Muhammad telah terbunuh, kembalilah kalian kepada agama pertama kalian; maka turunlah ayat ini.</p>
<p>Qotadah berkata: Sebagian orang mengatakan, Seandainya ia nabi tentu ia tidak terbunuh.”</p>
<p>Penulis <em>Fathul Qodir </em>berkata (I/ 385) menafsirkan ayat ini:</p>
<p><em>“Muhammad tak lain adalah seorang rosul yang telah lewat para rosul sebelumnya&#8230;”</em></p>
<p>“Sebab turun ayat ini adalah sebagai berikut: Ketika Nabi SAW terluka di perang Uhud, syetan berteriak: Muhammad telah terbunuh! Mende-ngar itu sebagian kaum muslimin me-rasa putus harapan sampai ada yang mengatakan: Muhammad terbunuh, menyerah saja kita, merekapun saudara kita juga.</p>
<p>Sebagian lagi mengatakan: Kalau Muhammad itu rosul, ia tidak akan terbunuh.</p>
<p>Maka Alloh mematahkan persangkaan mereka ini dan mengkhabarkan bahwa beliau hanyalah seorang rosul yang sebelumnya telah lewat rosul-rosul, beliaupun akan berlalu sebagaimana mereka juga berlalu, jadi kalimat dalam firman Alloh: <em>“&#8230;telah lewat para rosul sebelum beliau,” </em>adalah kata sifat bagi Rosululloh, sedangkan kontek pembatasan kalimat dalam ayat tersebut adalah pembatasan yang bersifat khusus, karena seolah aneh bagi mereka kalau beliau bisa meninggal dunia, mereka menetapkan bagi beliau dua sifat yaitu sebagai pengemban risalah dan sifat bahwa beliau tidak bisa meninggal, maka Allohpun mementahkan anggapan mereka tersebut dengan menetapkan bahwa beliau adalah seorang rosul yang tidak sampai menyandang sifat tidak bisa meninggal dunia.</p>
<p>Ada juga yang berpendapat pembata-san dalam ayat ini bersifat pembata-san kebalikan, karena Ibnu Abbas membaca ayat di atas begini: <em>&#8220;Qod Kholat min <span style="text-decoration:underline;">qoblu</span> rusulun&#8230;&#8221; </em>(“Para rosul sebelumnya telah berlalu&#8230;”). Setelah itu, Alloh mengingkari sikap mereka dengan berfirman: <em>“Apakah kalau ia meninggal atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang.” </em>maksudnya, bagaimana kalian meno-lak kembali dan meninggalkan agama yang ia bawa ketika ia meninggal atau terbunuh padahal kalian tahu bahwa para rosul sebelumnya telah berlalu sementara  para pengikut mereka tetap konsisten dengan agamanya meskipun mereka kehilangan pimpi-nannya karena wafat atau terbunuh? Firman Alloh: <em>“&#8230;barangsiapa berbalik ke belakang&#8230;”</em> yakni mundur dari perang serta murtad dari Islam, maka ia tidak akan membahayakan Alloh sedikitpun, tapi ia membahayakan dirinya sendiri, <em>“…dan Alloh pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,” </em>yakni orang-orang yang bersabar, yang terus berperang dan mencari kesyahidan, karena dengan itu berarti mereka telah men-syukuri nikmat Alloh yang Dia berikan kepadanya yaitu nikmat agama Islam, dan siapa yang melaksanakan perintah-Nya berarti ia telah mensyu-kuri nikmat yang Alloh berikan kepa-danya.” Sampai di sini perkataan penulis <em>Rahimahulloh</em>.</p>
<p>Penulis kitab <em>Shohibul ‘Ujab fi Bayaani `l-Asbaab</em> berkata,</p>
<p>“Firman Alloh Ta‘ala: <em>“Muhammad tidak lain adalah seorang rosul yang telah lewat sebelumnya para rosul…” </em>Thobari meriwayatkan melalui jalur Sa‘id bin Abi ‘Urubah dan jalur Ar-Robi‘ bin Anas keduanya menceri-takan, “Ketika kaum muslimin kehila-ngan Nabi SAW pada peristiwa Uhud, sebagian mengatakan: Kalau ia nabi tentu tidak akan terbunuh;</p>
<p>Sebagian lagi mengatakan: Terus berperanglah kalian seperti nabi kalian berperang sampai Alloh menangkan kalian atau kalian susul nabi kalian. Maka turunlah ayat ini. Robi` menambahkan: Ada seorang lelaki Muhajirin melewati seorang lelaki Anshor yang bersimbah darah, orang Muhajirin ini mengatakan: ‘Tidak tahukah kamu, Muhammad sudah terbunuh.’ Orang Anshor itu menjawab: ‘Kalaulah Muhammad ter-bunuh, beliau telah menyampaikan ri-salah; berperanglah kalian di atas agama yang beliau sampaikan.’Maka turunlah ayat ini.</p>
<p>Kemudian dari jalur Asbath dari As-Suddi: Diriwayatkan bahwa ketika pecah perang Uhud&#8230;.dst (selanjutnya ia menyebutkan kisah seperti di atas), di antara isi kisahnya disebutkan bahwa saat itu tersebar berita Muhammad telah terbunuh, maka ada yang mengatakan: “Seandainya saja dari kita ada utusan kepada Abdulloh bin Ubay supaya ia meminta jaminan keamanan untuk kita dari Abu Sufyan, wahai manusia, kembalilah kepada kaum kalian sebelum kalian terbunuh.” Ketika itu, Anas bin Nadhr berkata, “Hai manusia, jika Muham-mad telah terbunuh, sesungguhnya robb Muhammad tidak bisa terbunuh, maka berperanglah kalian di atas agama yang telah kalian peluk.” Sementara itu, Rosululloh SAW pergi ke sebuah batu, sedikit demi sedikit kaum muslimin berkumpul ke tempat beliau, maka turunlah ayat tentang orang yang mengatakan bahwa Muhammad telah terbunuh tadi: <em>“Muhammad tak lain adalah seorang rosul dst&#8230;” </em></p>
<p>Sedangkan dari jalur Ibnu Ishaq ia berkata, Al-Qosim bin Abdur Rohman bin Rofi‘ Al-Anshori –ia seorang lelaki dari Bani ‘Adi bin Najjar—menceri-takan kepadaku bahwasanya Anas bin Nadhr menghampiri beberapa orang Muhajirin dan Anshor yang angkat ta-ngan (pertanda menyerah), ia berka-ta: “Apa yang menjadikan kalian duduk-duduk saja?” Mereka mengata-kan: “Rosululloh SAW telah terbunuh.” “Kalau begitu, apalagi yang akan lakukan dalam hidup jika beliau sudah meninggal? Marilah kita mati seperti beliau mati,” kata Anas, lalu ia maju ke arah musuh dan terus berperang hingga terbunuh.” Sampai di sini perkataan penulis –<em>Rahimahulloh</em>—</p>
<p>Perkataan ahli tafsir mengenai sebab turun (<em>asbabun nuzul</em>) dan tafsir dari ayat ini terlalu panjang untuk disebutkan seluruhnya di sini, tetapi dari perkataan mereka yang sudah kami sebutkan di atas kita bisa simpulkan bahwa orang-orang yang menyertai Rosululloh SAW di Uhud dan mendengar berita terbunuhnya beliau saat itu terbagi ke dalam dua jalan (manhaj). Pertama, para pengikut manhaj yang tercela dan kedua pengikut manhaj yang terpuji. Pengikut manhaj tercela adalah mereka yang diingatkan Alloh dalam ayat tadi dan diingatkan akan bahaya manhaj yang mereka tempuh, yaitu menggantungkan amal dengan tokoh walaupun tokoh itu adalah Rosululloh SAW, para pengikut manhaj tercela inipun terbagi menjadi dua, satu kelompok patah semangat dalam berjuang, mereka ditimpa kelemahan dan keciutan nyali disebabkan peristi-wa dahsyat yang mereka alami sampai mereka berfikir untuk mencari selamat agar tidak terbunuh serta meminta jaminan keamanan dari orang-orang kafir; satu kelompok lagi adalah orang-orang yang kesesatannya lebih parah, mereka ini sampai meyakini keyakinan kufur dan menyatakannya terus terang, merekalah yang mengatakan bahwa kalau beliau nabi tentu tidak terbunuh, atau yang mengatakan kembali saja kalian kepada agama pertama kalian sebelum kalian nanti terbunuh.</p>
<p>Perkataan dua kelompok tercela seperti inilah yang hari banyak sekali digaungkan oleh banyak dari kaum muslimin, mereka menggembar-gemborkannya dalam artikel-artikel, majalah dan  jaringan-jaringan in-formasi; “Kalau jihad yang dilakukan Taliban dan mujahidin arab itu benar, tentu mereka tidak menarik diri dari kota dan tidak akan kalah…” kata mereka. Sebagian lagi mengatakan, “Sebaiknya mujahidin Afghan itu meletakkan senjata saja, menyerah kepada pemerintahan mereka supaya kesusahan mereka berakhir.”</p>
<p>Lihat, ibarat petang dengan malam, tidak ada bedanya, sama saja antara mereka dengan kelompok yang kami kisahkan di atas. Kalau pada kasus perang Uhud, untuk mengang-gap agama Muhammad batil mereka menjadikan kekalahan perang sebagai tolok ukur, mereka mengingkari risalah beliau ketika mendengar berita terbunuhnya beliau, padahal mereka turut berperang bersama beliau saat itu.</p>
<p>Hari ini, manhaj batil itu kembali terulang dengan lebih jelas dari orang-orang sesat itu, mereka mengatakan kekalahan Taliban dan mujahidin menunjukkan manhaj mereka adalah batil. Lihatlah, sejarah kembali teru-lang, orang yang sesat dari jalan yang luruspun memiliki contoh terdahulu yang memberikan teladan pada setiap kejahatan.</p>
<p>Namun, orang-orang yang berada di atas petunjuk dan agama Islam yang benar adalah kelompok kedua, kelompok manhaj yang terpuji, manhaj itu dinukil hingga sampai kepada kita oleh pakar-pakar tafsir, langsung dari kancah peperangan U<span style="text-decoration:underline;">h</span>ud; merekalah yang menyambut berita terbunuhnya Nabi SAW dengan kata-kata Anas bin Nadhr ra ketika ia melewati orang-orang Muhajirin dan Anshor yang meletakkan tangan, ketika itu ia berkata: “Apa yang menyebabkan kalian duduk-duduk saja?” mereka menjawab, “Rosululloh SAW sudah terbunuh.” “Kalau begitu, apa yang kalian perbuat dalam hidup setelah beliau terbunuh? Mari kita mati seperti beliau mati.” Lalu ia maju menyerang musuh dan terus berperang sampai terbunuh.</p>
<p>Manhaj ini juga tercermin pada diri Abu Bakar Ash-Shiddiq ra yang mengatakan ketika Rosululloh SAW wafat: “Barangsiapa beribadah kepada Muhammad, sesungguhnya beliau telah meninggal; barangsiapa beriba-dah kepada Alloh sesungguhnya Alloh Mahahidup dan tidak akan pernah ma-ti.”</p>
<p>Juga tercermin dalam diri ‘Ali bin Abi Tholib setelah ia membaca ayat: <em>“Muhammad tidak lain adalah seorang rosul…dst”</em> ia mengatakan: “Demi Alloh, kami tidak akan pernah mundur setelah Alloh memberi kami hidayah, demi Alloh kalaulah beliau meninggal atau terbunuh, aku akan tetap berperang membela beliau sampai aku mati.”</p>
<p>Inilah manhaj shahabat <em>–radhiyallohu ‘anhum—</em> seluruhnya, merekalah orang-orang yang ber-ibadah kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, setelah Rosululloh SAW wafat merekalah yang menyambung jalan dan tidak patah arang dalam berjihad, dakwah dan ibadah, mereka tetap berjalan di atas manhaj yang diajarkan Rosululloh SAW kepada mereka. Ketika menderita kekalahan, mereka praktekkan firman Alloh Ta‘ala:</p>
<p>{وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ}<strong></strong></p>
<p><em>“Janganlah kalian merasa hina dan rendah, kalian adalah tinggi jika kalian beriman.” </em><a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dan firman Alloh Ta‘ala:</p>
<p>{أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ}<strong></strong></p>
<p><em>“Apakah ketika kalian ditimpa musibah yang sebelumnya telah menimpa kali-an, kalian mengatakan: Bagaimana ini bisa terjadi? Katakan (hai Muham-mad): Itu berasal dari diri kalian sen-diri, sesungguhnya Alloh Mahakuasa atas segala sesuatu.” </em><a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ketika memperoleh kemenangan, mereka praktekkan firman Alloh Ta‘ala:</p>
<p>{وَاذْكُرُوْا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيْلٌ مُّسْتَضْعَفُوْنَ فيِ اْلأَرْضِ تَخَافُوْنَ أَنْْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ}<strong></strong></p>
<p><em>“Ingatlah ketika dulu kalian sedikit dan tertindas di bumi, kalian takut manusia menerkam kalian kemudian Alloh memberikan tempat kepada kalian dan menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya serta memberi kalian rezeki berupa kebaikan-kebaikan agar kalian bersyukur.”</em> <a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Inilah manhaj kebenaran yang Alloh ridhoi untuk kita; yaitu amal (perjuangan) digantungkan berdasar-kan dalil-dalil syar‘i, menghukumi sesuatu benar atau salah tidak dengan hasil-hasil yang dicapai, tetapi berdasarkan dalil-dalil Al-Quran dan sunnah, dalam kejadian apapun.</p>
<p>Kalau ada orang yang menilai peperangan-peperangan berdasarkan hasil akhirnya dengan tolok ukur ini, mau tidak mau ia akan mengatakan –<em>wal ‘iyadzu billah</em>, kita berlindung kepada Alloh—bahwa perang Uhud adalah peperangan batil, Rosululloh SAW tidak tepat menentukan langkah dengan melakukan perang tersebut, karena beliau kalah, sedangkan kekalahan adalah indikasi batilnya sebuah manhaj. Inilah menurut orang-orang yang jahil dan suka membuat kekacauan dalam tubuh kaum muslimin.</p>
<p>Sudahlah, pokoknya pengikut manhaj bathil di mana mereka mengingkari kenabian Nabi Muham-mad SAW dan kebenaran agama Islam adalah mereka yang mengkaitkan agama dengan orang dan menggan-tungkan jihad dengan tokoh. Manhaj yang mereka pegang ini berdampak kepada kerusakan besar, mereka akan mengingkari <em>khithah</em> awal dengan alasan ketidak tepatan atau beralasan dengan kegagalan hasil yang dicapai. Ketika seseorang sampai kepada manhaj seperti ini, bisa dipastikan ia akan terperosok ke dalam jurang kekufuran, keputus asaan dan sikap apatis. Inilah manhaj kebanyakan kaum <em>ruwaibidhoh</em> hari ini, yang tidak lagi memiliki rasa malu kepada Alloh dan hamba-hamba-Nya, setiap kejadian ia berpendapat lain dari sebelumnya, jika melihat kemenangan mereka bertambah semangat, mengu-lang-ulang pujian dan rasa salut. Sebaliknya, ketika menyaksikan kekalahan dan ujian dari Alloh terha-dap para hamba-Nya, mereka akan menganggap sesat, membid‘ah-bid‘ahkan, mengkritik, mencaci dan mencela.</p>
<p>Barangkali di antara hikmah Alloh SWT mengapa mujahidin tertimpa kekalahan adalah untuk menyaring orang-orang yang berada dalam barisan mereka, itu pertama; selanjutnya menyaring orang-orang yang tadinya simpati dan menganggap dirinya bagian dari mujahidin. Alloh telah kuak trik-trik dan sifat-sifat mereka secara mendetail, Alloh berfirman:</p>
<p>{وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَّعَهُمْ شَهِيْداً، وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِّنَ اللهِ لَيَقُوْلَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَالَيْتَنِيْ كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوْزَ فَوْزًا عَظِيْماً}<strong></strong></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang-orang yang sangat berlam-bat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata:&#8221;Sesungguhnya Alloh  telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka” Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Alloh , tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia:&#8221;Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula).”</em> <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dan berfirman:</p>
<p>{اَلَّذِيْنَ يَتَرَبَّصُوْنَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللهِ قَالُوْا أَلَمْ نَكُنْ مَّعَكُمْ وَإِنْ كـــَانَ لِلْكَافِرِيْنَ نَصِيْبٌ قَالُوْا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فَاللهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِيْنَ عَلَى اْلمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلاً}<strong></strong></p>
<p><em>“(yaitu) orang-orang yang menunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mu&#8217;min). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Alloh  mereka berkata:&#8221;Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu&#8221; Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata:&#8221;Bukankah kami (turut berpe-rang) bersama kamu&#8221; Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: &#8220;Bu-kankah kami turut memenangkan kamu, dan membela kamu dari orang-orang mu&#8217;min.” Maka Alloh  akan memberi keputusan di antara kamu di hari dan Alloh  sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” </em><a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Memang, Jihad ini tidak akan mampu dilaksanakan kecuali oleh orang yang pantas memikulnya, karena untuk mencapai kemenangan dan kekuasaan di muka bumi ibarat unta menempuh luasnya padang pasir. Demikian juga hari ini, tidak ada yang mampu membela panji jihad ini selain orang yang sudah menyiapkan dirinya untuk menanggung bala dan ujian. Adapun orang yang bermanhaj tak jelas dan mengambang, tidak menger-ti apakah sebenarnya dirinya berposisi sebagai pembela jihad ataukah yang menentang, maka cukuplah dengan ayat-ayat di atas Alloh menyingkap teknik-teknik berkelit mereka, dan dalam surat At-Taubah diungkapkan bagaimana mereka tampak dihinakan lantaran teknik-teknik berkelit gaya syetan yang mereka gunakan seka-ligus mengungkap kedok dari manhaj mereka yang batil.</p>
<p>Sesungguhnya menggantungkan jihad atau pertempuran dengan orang-orang tertentu hanya akan membuah-kan kekalahan yang jelas. Kalaulah kekalahan itu bukan di medan pertem-puran, secara moril kekalahan itu sudah terjadi berupa rasa <em>futur </em>(patah arang) dari berjihad ketika suatu saat nanti para komandan itu hilang yang mana tadinya mereka sangka keme-nangan hanya bisa diraih dengan keberadaan mereka.</p>
<p>Maka dari itu, keliru kalau kaum muslimin menggantungkan urusan kepada orang atau tokoh tertentu. Sebab itu, jihad ini harus dibebaskan dari ikatan berupa tokoh-tokoh. Benar kita memang memerlukan ke-<em>qiyadah</em>-an untuk mempersatukan para muja-hidin, kita juga memerlukan <em>qiyadah</em> untuk menyusun langkah dan strategi; tetapi hilangnya <em>qiyadah</em> bukan berarti ikatan antar kaum muslimin dengan jihad harus lepas. Karena sebagaimana dulu jihadlah yang mela-hirkan para komandan sekelas mere-ka, dengan terus berlangsungnya jihad kelak akan lahir juga komandan-komandan baru yang profesional. Sejarah menjadi bukti; tidak ada satu zamanpun berlalu setelah wafatnya Nabi SAW kecuali di sana ada singa-singa yang membela agama ini, sampai-sampai tidak mungkin orang bisa mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada singa-singa pembela agama. Para wanita muslimat tak pernah mandul untuk melahirkan orang-orang sekelas Umar bin Khotob, Ali bin Abi Tholib, Kholid bin Al-Walid, Miqdad, ‘Ikrimah, Sholahuddin dan Komandan Quthz (atau Qatazh). Umat ini ibarat hujan, tidak bisa ditebak di mana berkah kebaikannya berada; apakah saat pertama kali turun atau ketika hujan mau berhenti.</p>
<p>Walaupun kaum muslimin kehi-langan komandannya, mereka yang sudah tergembleng untuk tidak meng-gantungkan jihad dengan simbol tokoh akan semakin mantab berjalan di atas manhaj dan jalan yang ia yakini. Sebab mereka beribadah kepada robb yang mewajibkan jihad, bukan kepada komandan jihad. Komandan itu akan muncul di bumi pertempuran ketika ia sendiri menantang maut sebagaimana prajuritnya menantang maut, bahkan komandanlah yang senantiasa mencari kesyahidan, yang menunggu-nunggu hari di mana ia bertunangan dengan <em>huurun ‘Iin</em> (bidadari nan bermata jeli), menunggu saat-saat mulia untuk bisa melihat Alloh robb semesta alam; para komandan itu sangat-sangat merindukan hari itu, ia berusaha meraih dan selalu mencita-citakannya.</p>
<p>Jika para komandan itu berhasil meraih apa yang ia cita-citakan, misalnya Mulla Muhammad ‘Umar terbunuh, Syaikh Usamah terbunuh, Komandan Syamil Basayev terbunuh, Komandan Khothob terbunuh, atau komandan jihad di bumi manapun terbunuh –semoga Alloh tetap melindungi mereka semua—, maka tercapainya apa yang mereka cita-citakan berarti sebuah kemenangan besar bagi mereka. Adapun jihad tidak akan pernah terbengkalai, sebab Alloh telah jamin keberlangsungannya hingga hari kiamat dan menjanjikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya jika mereka memenuhi syarat-syarat terperolehnya kemenangan, baik para komandan itu bersama mereka atau terbunuh di jalan Alloh Ta‘ala.</p>
<p>Maka sudah tidak selayaknya kita menggantungkan jihad dengan orang atau mengikat suatu peperangan dengan tokoh, sebagaimana dikatakan Syaikh Sulaiman Abu Ghoits belum lama ini: “Kalau Usamah terbunuh, seribu Usamah akan lahir memikul panji jihad sepeninggalnya.”</p>
<p>Syaikh Usamah sendiri mengata-kan dalam salah satu tayangan wawancara ketika beliau ditanya tentang kemungkinan hancurnya jaringan yang menghubungkan antara tanzim Al-Qaeda dengan mujahidin Afghan dan Arab jika beliau terbunuh: “Terbunuhnya saya, saya rasa itu adalah kesyahidan di jalan Alloh Ta‘ala, inilah yang justru saya cita-citakan, saya memohon kepada Alloh agar berkenan menganugerahi saya kesyahidan, Usamah tidak lain hanyalah satu dari bagian umat Islam, dalam tubuh umat masih banyak perwira-perwira yang siap menjadi tumbal agama ini dengan mengga-daikan nyawa dan apa saja yang ia miliki, jadi Usamah bukan satu tokoh yang mewakili umat, ia hanyalah pemikul manhaj yang oleh anggota umat Islam lainnya juga diyakini.”</p>
<p>Sebagai penutup pembahasan ini, sekali lagi kami ingatkan kaum musli-min seluruhnya agar jangan menggan-tungkan jihad dengan simbol tokoh atau menggantungkan peperangan dengan orang. Ini adalah manhaj batil dan sangat tidak baik yang bisa merusak agama dan dunia.</p>
<p>Jihad ini adalah salah satu dari syiar Alloh Ta‘ala; di antara prinsip baku yang tidak akan berubah adalah ia terus berlangsung hingga hari kiamat.</p>
<p>Dulu, setelah Nabi Muhammad SAW wafat, manhaj jihad para shahabat –<em>Radhiyallohu ‘anhum</em>—tidak pernah berubah, bahkan penaklukan-penaklukan terus berlangsung. Ketika Abu Bakar ra meninggal, negara Islam semakin meluas dan syiar jihad tidak terpengaruh dengan kematian beliau.</p>
<p>Ketika ‘Umar bin Khothob terbu-nuh, kaum muslimin justeru semakin tersebar di seluruh penjuru dunia. Demikianlah keadaan kaum muslimin dari generasi ke generasi.</p>
<p>Di antara prinsip baku kita adalah: Jihad ini sebuah keyakinan dan syiar agung, ia tidak bisa berubah atau terganggu dengan hilangnya tokoh atau komandan tertentu.</p>
<p>Kita memohon kepada Alloh agar menunjuki kita jalan yang lurus, mengangkat keadaan umat kita dan mengangkat harga dirinya di atas bangsa-bangsa kafir di seluruh penju-ru bumi, sesungguhnya Allohlah yang berhak dan Mahakuasa untuk itu.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> QS. Ali Imron: 143</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> QS. Ali Imron: 144</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> QS. Fathir: 11</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> QS. Al-An‘am: 2</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> QS. Ali Imron: 139</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> QS. Ali ‘Imron: 165</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> QS. Al-Anfaal: 26</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> QS. An-Nisâ’: 72 – 73.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> QS. An-Nisa’:141</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=271&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/07/09/jihad-tidak-bergantung-dengan-tokoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jihad akan terus berlangsung (ada) hingga hari kiamat.</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/07/09/jihad-akan-terus-berlangsung-ada-hingga-hari-kiamat/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/07/09/jihad-akan-terus-berlangsung-ada-hingga-hari-kiamat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 00:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[jihadnews]]></category>
		<category><![CDATA[menang kalah perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Rambu pertama: Jihad akan terus berlangsung (ada) hingga hari kiamat. Hari ini, seluruh dunia –kecuali yang dirahmati Alloh— berdiri satu barisan dengan kekuatan ediologinya, politiknya, ekonominya, informasinya, teknologi dan nasionalismenya, dan dengan segala kekuatannya, di hadapan salah satu syiar agama kita yang hanif (lurus), syiar itu adalah jihad fi sabilillah. Sebuah syiar yang Alloh wajibkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=267&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rambu pertama:</p>
<p>Jihad akan terus berlangsung (ada) hingga hari kiamat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hari ini, seluruh dunia –kecuali yang dirahmati Alloh— berdiri satu barisan dengan kekuatan ediologinya, politiknya, ekonominya, informasinya, teknologi dan nasionalismenya, dan dengan segala kekuatannya, di hadapan salah satu syiar agama<span id="more-267"></span> kita yang <em>hanif</em> (lurus), syiar itu adalah jihad fi sabilillah. Sebuah syiar yang Alloh wajibkan kepada kita dengan firman-Nya:</p>
<p>{كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ}</p>
<p><em>&#8220;Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu kalian tidak suka; bisa jadi kalian tidak suka kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Alloh Maha tahu sedangkan kalian tidaklah mengetahui.&#8221;</em> <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dan dengan firman-Nya:</p>
<p>{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّم وَبِئْسَ الْمَصِيْر}</p>
<p><em>&#8220;Wahai Nabi, jihadlah melawan orang kafir dan munafik dan bersikap keras-lah kepada mereka, tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan sungguh itu sejelek-jelek tempat kem-bali.”</em> <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>{قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلاَ بِاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَلاَ يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُوْنَ}</p>
<p><em>&#8220;Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, tidak mengharamkan apa yang Alloh dan rosul-Nya haramkan dan tidak menganut agama yang benar (Islam) dari kalangan ahli kitab, sampai mereka membayar jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina.&#8221;</em> <a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dalam ayat terakhir yang turun tentang jihad, Alloh berfirman menegaskan kewajiban ini:</p>
<p>{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}<em> </em><em> </em></p>
<p><em>“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika me-reka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebas-kanlah mereka, sesungguhnya Alloh Maha-pengampun lagi Mahapenyayang.”</em> <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Orang-orang kafir berusaha menghapus syiar jihad ini dan memberikan label kepadanya dengan label terorisme dan tindak kejahatan, menjuluki para pelakunya sebagai kaum teroris, orang-orang ekstrim, fundamentalis dan radikal.</p>
<p>Ditambah lagi, orang-orang mu-nafik ikut membantu mereka dengan menjelekkan dan menghalang-halangi jihad dengan cara-cara syetan, ada yang mengatakan jihad dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensive), tidak ada jihad ofensiv (menyerang terlebih dahulu). Ada juga yang mengatakan bahwa jihad disya-riatkan hanya untuk membebaskan negeri terjajah. Ada juga yang mengatakan bahwa jihad menjadi wajib kalau sudah ada perintah dari penguasa –padahal penguasa itu menjadi antek yahudi dan salibis—. Sekali waktu ada yang mengatakan bahwa jihad sudah tidak relevan untuk zaman kita sekarang, zaman kedamaian dan undang-undang baru internasional, <em>Na`udzubillah min dzalik, </em>kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan-kesesatan ini.</p>
<p>Meski ada saja alasan, dorongan, istilah-istilah munafik dan kufur berbentuk apapun yang bertujuan menghapus panji jihad, kalau dirunut ujungnya sebenarnya jalan jihad ini –sejak   zaman Rosul SAW— sudah jelas bagi umat Islam, rambu-rambunya sudah ditetapkan, pemahaman dan fikihnya sudah gamblang, kita tidak perlu lagi menambahkan pemahaman-pemaha-man jihad yang baru yang tidak bias diselewengkan oleh siapapun, baik di belahan bumi timur maupun barat.</p>
<p>Khazanah kita sudah terlalu cukup untuk ditambahi, dari khazanah itulah kita menimba rukun, syarat, kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dan sunnah-sunnah dalam urusan jihad, kita juga mengambil pilar-pilar disyariatkannya jihad dari khazanah tersebut.</p>
<p>Lebih dari itu, Alloh dan rosul-Nya SAW telah mengkhabarkan bahwa jihad akan terus berlangsung sampai nanti Alloh wariskan bumi dan penduduknya kepada orang-orang sholeh. Khabar dari Alloh dan rosul-Nya ini termasuk perkara baku yang tidak kami ragukan lagi dan tidak akan kami tanyakan kepada siapapun setelah Alloh dan rosul-Nya SAW menegaskan hakikat ini.</p>
<p>Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini dari Al-Quran dan Sunnah sangatlah banyak, seperti firman Alloh Ta`ala:</p>
<p>{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ، يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذَالِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ}</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, ba-rangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya,  Alloh akan datangkan satu kaum yang Dia cintai dan merekapun mencintai-Nya, lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak takut celaan orang yang mencela. Itulah anugerah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Alloh Mahaluas lagi Mahamengetahui.”</em> <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Firman Alloh: <em>&#8220;&#8230;mereka berji-had&#8230;&#8221;</em> menunjukkan jihad akan terus berlangsung, konteks ayat ini menun-jukkan bahwa siapa saja mening-galkan sifat-sifat dalam ayat ini, Alloh akan datangkan kaum lain yang  Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai Alloh, merekalah yang akan menyandang sifat-sifat tadi.</p>
<p>Alloh juga berfirman:</p>
<p>{وَقَاتِلُوْهُمْ حَتَّى لاَ تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ}<em> </em></p>
<p><em>“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Alloh, jika  mereka ber-henti maka sesungguhnya Alloh Maha-mengetahui apa yang mereka kerja- kan.”</em> <a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Makna fitnah di sini adalah kekufuran, jadi perang akan terus berlangsung sampai tidak ada lagi kekufuran. Para ulama mengatakan: Kekufuran di muka bumi tidak akan pernah habis kecuali di zaman Nabi Isa turun di akhir zaman, di saat beliau mengha-pus jizyah dan mematahkan salib ser-ta membunuh babi, beliau hanya me-nerima Islam. Setelah itu Alloh wafatkan beliau beserta orang-orang beriman yang mengikuti beliau, saat itulah tidak ada di muka bumi yang mengucapkan &#8220;Alloh, Alloh,&#8221; maka kiamatpun terjadi menimpa makhluk paling buruk saat itu.</p>
<p>Lebih menegaskan bahwa jihad ini akan terus berlangsung, Alloh Ta`ala berfirman dalam ayat jihad yang terakhir turun, yaitu <em>ayatus Saif</em> (ayat pedang):</p>
<p>{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}<em> </em><em> </em></p>
<p><em>“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sho-lat serta menunaikan zakat, bebas-kanlah mereka, sesungguhnya Alloh Mahapengampun lagi Mahapenya-yang.”</em> <a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Dalam Al-Quran, ayat yang me-nunjukkan terus adanya jihad sangat-lah banyak.</p>
<p>Adapun dalil terus berlangsung-nya jihad dalam As-Sunnah, maka lebih banyak lagi. Di antaranya adalah sabda Rosul SAW sebagaimana diriwayatkan <em>Al-Jama`ah</em> serta yang lain, dari ‘Urwah Al-Bariqi ra ia berkata, Rosululloh SAW bersabda,</p>
<p>(اَلْخَيْلُ مَعْقُوْدٌ فِيْ نَوَاصِيْهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْأَجْرُ وَاْلمَغْنَمُ)</p>
<p><em>&#8220;Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, yaitu pahala dan ghanimah.&#8221;</em></p>
<p>Ibnu Hajar berkata dalam <em>Fathul Bari</em> ketika Bukhori menjadikan hadits ini sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad baik bersama orang jahat ataupun orang baik, “Sebelumnya, Imam Ahmad sudah lebih dahulu menjadikan hadits ini sebagai dalil (terus berlangsungnya jihad), sebab Nabi SAW menyebutkan terus adanya kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, kemudian beliau maknai kebaikan itu dengan pahala dan ghanimah, sedangkan ghanimah yang disejajarkan dengan pahala pada kuda hanya terjadi ketika ada jihad. Hadits ini juga berisi anjuran berperang dengan menggu-nakan kuda. Juga berisi kabar gembira akan tetap bertahannya Islam serta pemeluknya hingga hari kiamat, sebab ada jihad berarti ada mujahidin, mujahidin sendiri adalah orang-orang Islam. Hadits ini senada dengan hadits yang berbunyi: <em>“Akan senantiasa ada satu kelompok umatku yang berpe-rang di atas kebenaran.”</em> Al-Hadits.” Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas.</p>
<p>Imam Nawawi berkata dalam kitab <em>Syarah Shohih Muslim</em>-nya keti-ka mengomentari hadits ini, “Sabda Rosululloh SAW: <em>“Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat,” </em>ditafsirkan oleh hadits lain dalam hadits shohih: <em>“Kebaikan itu adalah pahala dan ghanimah.” </em>Hadits ini menunjukkan bahwa Islam dan jihad akan tetap eksis hingga hari kiamat, maksud hingga hari kiamat adalah hingga sesaat sebelum kiamat terjadi, yakni ketika datang angin harum dari Yaman yang mencabut nyawa setiap mukmin, laki-laki maupun perempuan, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits shohih.”</p>
<p>Sampai di sini perkataan An-Nawawi.</p>
<p>Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan yang lain dari Anas bin Malik ra ia berkata, Rosululloh SAW bersabda,</p>
<p>(وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جُوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ)<em> </em></p>
<p><em>“Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kejahatan orang jahat ataupaun keadilan orang adil.”</em></p>
<p>Menerangkan hadits ini, penulis kitab <em>`Aunul Ma`bud </em>(Syarah Sunan Abu Dawud) mengatakan: Hadits yang berbunyi: <em>“Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku,” </em></p>
<p>Maksudnya sejak dimulainya era di mana aku (Rosululloh) diutus, <em>“hingga umatku yang terakhir” </em>maksudnya adalah Nabi Isa atau bisa juga Imam Mahdi, <em>“…memerangi Dajjal…” </em>Dajjal dalam konteks hadits di sini sebagai kata obyek. Setelah Dajjal terbunuh, selesailah sudah jihad. Mengenai peristiwa Ya&#8217;juj dan Ma&#8217;juj, jihad tidak dilakukan karena tidak mungkin bisa melawan mereka, dalam kondisi seperti ini jihad tidak wajib atas kaum muslimin berdasarkan nash ayat surat Al-Anfal. Adapun setelah Alloh binasakan Ya`juj dan Ma`juj, tidak ada lagi orang kafir di muka bumi selama Nabi Isa masih hidup di bumi. Adapun orang yang kembali kafir setelah kematian Nabi Isa AS, mereka tidak diperangi karena baru saja kaum muslimin seluruhnya diwafatkan dengan hembusan angin harum dan karena orang-orang kafir terus ada hingga hari kiamat. Inilah pendapat Al-Qoriy. Al-Munziri tidak mengomen-tari hadits ini.” Selesai perkataan beliau.</p>
<p>Sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad, seperti tertera dalam <em>Shohih Bukhori Muslim</em> serta kitab hadits lain, redaksinya milik Muslim, dari Jabir ra Nabi SAW bersabda:</p>
<p>(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ)<em> </em><em> </em></p>
<p><em>“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat tiba.”</em></p>
<p>Dalam lafadz Bukhori disebutkan:</p>
<p>(لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ)</p>
<p><em>“Tidak akan terpengaruh oleh orang yang melemahkan semangat dan menyelisihi mereka.”</em></p>
<p>Dalam lafadz Imam Ahmad: <em>“Mereka tidak mempedulikan orang yang menyelisihi dan melemahkan sema-ngat mereka.&#8221; </em></p>
<p>Sabda beliau: <em>“Akan senantiasa ada&#8230;” </em>menjadi dalil akan tetap berlangsungnya jihad meskipun kon-teks hadits ini sudah cukup untuk menetapkan bahwa jihad akan tetap berlangsung.</p>
<p>An-Nawawi berkata dalam <em>Syarah Shohih Muslim</em>-nya: “Saya katakan: Kemungkinan, kelompok ini terpisah-pisah dalam sekian banyak jenis kaum muslimin, di antara mereka ada yang pemberani sebagai pelaku perang, ada juga yang ahli fikih, ahli hadits, orang-orang zuhud, orang yang beramar makruf nahi munkar, ada juga pelaku kebaikan lain, tidak mesti mereka berkumpul menjadi satu, bisa saja mereka berpencar-pencar di berbagai belahan dunia. Hadits ini berisi sebuah mukjizat nyata, karena ciri seperti ini –alhamdulillah— selalu ada dalam umat sejak zaman Nabi SAW hingga sekarang, dan akan selalu ada hingga tiba ketetapan Alloh sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.” Selesai perkataan An-Nawawi.</p>
<p>Dalil yang lain adalah sabda Nabi SAW,</p>
<p>(أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَّسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَالِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ )<strong> </strong></p>
<p><em>“Aku diperintah untuk memerangi ma-nusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang hak) selain Alloh dan bahwa Muhammad utusan Alloh, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, jika mereka lakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka dise-rahkan kepada Alloh.”</em></p>
<p>Dalam hadits ini, beliau menjadi-kan tujuan akhir peperangan adalah Islam, bermakna jika semua manusia sudah Islam maka tidak lagi ada perang.</p>
<p>Di sisi lain, banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa tidak mungkin seluruh manusia akan menjadi Islam. Demikian juga ada hadits-hadits yang menunjukkan bah-wa kekufuran akan ada hingga hari ki-amat.</p>
<p>Jika demikian, berarti perang akan selalu ada bersamaan dengan adanya kekufuran sampai tiba ketetapan Alloh Ta‘ala.</p>
<p>Sedangkan maksud ketetapan Alloh dalam hadits ini, ada yang mengatakan masuk Islamnya manusia di zaman Nabi Isa, ada juga yang berpendapat hari kiamat, ada yang mengatakan berhembusnya angin yang mencabut nyawa kaum mukmi-nin, hanya saja makna yang ditun-jukkan hadits ini sangat jelas menun-jukkan bahwa perang akan selalu ada selama kekufuran ada.</p>
<p>Nash-nash lain yang menunjuk-kan bahwa jihad akan terus berlang-sung hampir tak terhitung, para imam Islampun sepakat dan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa jihad akan terus berlangsung. Rosul SAW sendiri mengkhabarkan hal ini sebagai sebuah berita yang tidak akan pernah berubah dan berganti.</p>
<p>Semua nash ini menjelaskan bahwa tidak akan pernah mungkin satu zaman berlalu sejak diutusnya Nabi SAW hingga hari kiamat kosong dari panji jihad pembela kebenaran yang diangkat di jalan Alloh Ta‘ala, ini adalah pengkhabaran yang pemung-kirnya bisa kufur kepada Alloh Ta`ala.</p>
<p>Jika kita meyakini hakikat ini, kita jadikan ini sebagai bagian terpenting dalam hidup kita, dan kita asumsikan sebagai salah satu prinsip baku yang kita konsentrasikan kehidupan kita ke arahnya, maka tidak akan mungkin kita akan mau tertinggal dalam memberikan andil kepada panji jihad dan berdiri di bawahnya walau bagaimanapun susahnya kondisi. Karena panji jihad di zaman kapanpun selalu terkait dengan <em>Thoifah Manshuroh</em> (kelompok yang ditolong, kelompok yang menang) yang diridhoi Alloh.</p>
<p>Thoifah manshuroh sendiri –menurut Imam Nawawi— tidak mesti harus ada di satu tempat, bisa saja dalam satu zaman kelompok ini berada di berbagai tempat. Thoifah manshuroh ini berperang di atas kebenaran dan mereka menang, zaman kapanpun tidak akan pernah kosong dari Thoifah manshuroh yang berperang dan mengangkat panji jihad.</p>
<p>Jika kita meyakini akidah ini, kita bisa pastikan bahwa kekuatan kufur dunia dan negara-negara munafik yang turut membantu mereka sampai kapanpun tidak akan pernah mampu memadamkan panji jihad, tidak akan mampu menumpas para mujahidin atau menghapus syiar jihad ini. Mungkin mereka bisa mengisolasinya di satu atau dua tempat, tapi untuk merontokkannya di zaman sekarang, itu hal yang mustahil walaupun seluruh jin dan manusia berkumpul untuk melakukannya. Karena panji jihad ini diangkat atas ketetapan dan izin Alloh Ta‘ala serta tidak mungkin akan diletakkan karena Alloh sendirilah yang menetapkan bagi diri-Nya sendiri untuk meninggikan panji ini sampai umat terakhir Muhammad SAW memerangi Dajjal bersama Isa bin Maryam AS. Inilah hakikat yang mesti kita jadikan titik tolak  pertama, inilah keyakinan yang sudah semesti-nya kita memerangi musuh berdasar-kan keyakinan ini. Akidah yakin dan percaya penuh dengan janji Alloh SWT bahwa jihad akan tetap berjalan hingga hari kiamat.</p>
<p>Keputus asaan kaum muslimin hari ini setelah peristiwa mundurnya mujahidin dari kota-kota di Afghanis-tan bukan menunjukkan  mujahidin putus asa dan berhenti berjihad, selamanya bukan. Mereka tetap yakin jihad ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat, kondisi mayoritas kaum muslimin yang begitu mengenaskan juga tidak akan selamanya berarti bahwa kekuatan kufur internasional mampu merontokkan panji jihad di dunia. Sayang, kebanyakan kaum muslimin tidak memahami hakikat permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, tidak membaca sejarah umat, sejarah para nabi, khususnya dalam Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Seluruh dunia menentang janji Alloh bahwa jihad ini akan tetap berlangsung, sementara kami tetap percaya kepada Alloh dan kami bersumpah bahwa kekuatan kufur dunia yang memerangi Alloh SWT akan kalah. Undang-undang baru internasional berdiri di atas pemahaman yang sudah ditentukan, slogannya sangat jelas; pemahaman itu adalah jihad adalah terorisme, semua mujahid adalah teroris, para teroris harus ditangkap dan terorisme harus dibasmi; maknanya, para wali Alloh itu harus ditangkap dan syariat Alloh SWT harus dilenyapkan. Maka, hasil akhir peperangan seperti ini sudah bisa ditebak, dulu Alloh sudah menceritakan itu dalam kitab-Nya, Rosululloh SAW sudah menerang-kannya dalam sunnahnya. Rosululloh SAW bersabda –sebagaimana riwayat Imam Bukhori, Ahmad dan yang lain, dari Abu Huroiroh ra—,</p>
<p>(مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ)<strong></strong></p>
<p><em>“Alloh berfirman: Barangsiapa memu-suhi wali-Ku, Aku maklumkan perang dengannya…”</em> artinya, Ku maklumkan bahwa ia pasti hancur, perang Alloh adalah melawan siapa saja yang memusuhi wali-Nya karena kesetiaan mereka kepada Alloh, dan orang menganggap para wali itu sebagai musuh lantaran komitmen mereka di atas agamanya.</p>
<p>Dalam redaksi lain disebutkan: <em>“Aadzantuhuu bil Harbi…”</em></p>
<p>(Aku umumkan perang kepadanya), bentuknya <em>nakiroh</em>, artinya perang itu mencakup semua makna hukuman. Dalam riwayat Ahmad:</p>
<p><em>“Barangsiapa menyakiti wali-Ku…” </em>Hanya menyakiti saja sudah berarti perang.</p>
<p>Dalam riwayat lain: <em>“…sungguh ia telah menghalalkan perang melawan-Ku.” </em></p>
<p>Hukuman ini tidak selalunya nampak seperti yang menimpa umat-umat lain, tapi bisa juga hukuman itu disegerakan, bisa juga ditunda, Allohlah yang berhak menunda, tapi Alloh tidak pernah mengabaikannya.</p>
<p>Adapun hasil akhir dari perang ini, Alloh telah mengisahkannya dalam Al-Quran, kita ambil misalnya firman Alloh Ta‘ala:</p>
<p>{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ اْلأَشْهَادُ}<strong></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami pasti menolong (memenangkan) para rosul Kami dan orang-orang beriman di dunia dan di hari ketika saksi-saksi tegak.”</em> <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Alloh juga berfirman menegaskan bahwa musuh orang-orang beriman pasti kalah:</p>
<p>{إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللهِ فَسَيُنْفِقُوْنَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُوْنَ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا إِلىَ جَهَنَّمَ يُحْشَرُوْنَ}<strong></strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta mereka untuk memalingkan dari jalan Alloh, maka mereka akan menginfakkannya kemu-dian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan, dan orang-orang kafir itu akan dikum-pulkan di neraka Jahannam.”</em> <a href="#_ftn9">[9]</a><em> </em></p>
<p>Alloh mengajak kita untuk mengambil pelajaran dari kejadian pada saat perang Badar, pada <em>Yaumul Furqon</em> (hari pembedaan antara yang hak dan batil):</p>
<p>{ قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِِ اْلتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لَعِبْرَةً لِأُوليِ اْلأَبْصَارِِ}<em> </em><em></em></p>
<p><em>“Sungguh telah ada tanda-tanda kebesaran Alloh bagi kalian pada dua kelompok yang bertemu dalam pe-rang; satu kelompok berperang di jalan Alloh, sementara kelompok yang lain kufur, mereka melihat orang beriman dua kali lipat dari mereka jika dilihat mata. Dan Alloh menguatkan dengan pertolongan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, sesungguhnya pada yang demikian terdapat pela-jaran bagi mereka yang berpandangan jeli.”</em> <a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Pertanyaan yang selalu mengusik hati dan menyusup ke hati orang-orang lemah adalah: Mengapa Alloh tidak menolong Pemerintahan Islam Taliban dalam perangnya melawan pasukan sekutu hingga hari ini? padahal Pemerintahan itulah yang mampu mengangkat syiar penerapan syariat Islam dan memegang teguh Al-Quran dan Sunnah, seluruh dunia bersatu menyerangnya sampai-sampai Taliban dipaksa mundur dari kota-kota yang mereka kuasai, mengapakah ini terjadi?</p>
<p>Kami katakan, Alloh memiliki hikmah mengapa itu terjadi, hikmah pertama diterangkan dalam firman Alloh Ta‘ala:</p>
<p>{ذَالِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللهُ لاَنْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ}</p>
<p><em> “Yang demikian itu, kalau Alloh berkehendak pasti akan menangkan mereka atas orang-orang kafir, akan tetapi untuk menguji sebagian atas sebagian yang lain, dan orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh, maka amalan mereka tidak akan pernah disia-siakan.” </em><a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Bisa saja Alloh memenangkan Taliban atas mereka (bahkan Alloh sangat Mahakuasa) sendirian, bisa saja Alloh mematikan dan meluluh lantakkan seluruh kekuatan mereka sekejap mata, akan tetapi Alloh membiarkan orang-orang kafir itu menguasai kaum muslimin untuk memberikan ujian, artinya untuk menguji kaum muslimin dan mencoba kejujuran mereka meskipun orang-orang kafir berkuasa atas mereka, jika mereka sabar dan semakin berpegang teguh dengan agama mereka serta lari dan mengadukan perkaranya kepada Alloh Ta‘ala, maka Alloh akan menolong mereka setelah melihat bahwa mereka memang layak memperoleh kemenangan, Alloh akan mantabkan kekuasaan agama yang Dia ridhoi bagi mereka (Islam), tentunya setelah mereka memenuhi syarat-syarat tercapainya kekuasaan di muka bumi. Alloh Ta‘ala berfirman:</p>
<p>{وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُوْنَنِيْ لاَ يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَالِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ}<strong></strong></p>
<p><em>“Alloh berjanji kepada orang-orang beriman dari kalian, pasti Ia kuasakan mereka di muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka dikua-sakan, dan akan memantabkan posisi agama mereka yang Alloh ridhoi bagi mereka dan akan menggantikan keadaan takut mereka dengan kea-manan, mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mensekutukan dengan apapun terhadap-Ku, dan barangsiapa kufur setelah itu, maka mereka adalah orang-orang fasik.” </em><a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Dan berfirman:</p>
<p>{قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللهِ وَاصْبِرُوْا إِنَّ اْلأَرْضَ لِلَّهِ يُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَاْلعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ}<strong></strong></p>
<p><em>“Musa berkata kepada kaumnya: &#8216;Minta tolonglah kalian kepada Alloh dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini adalah milik Alloh, Alloh mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya, dan hasil akhir adalah milik orang-orang bertakwa.” </em><a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Dan berfirman:</p>
<p>{وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ}<strong></strong></p>
<p><em>“Dan telah Kami tetapkan dalam Zabur bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sho-leh.” </em><a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Dan berfirman:</p>
<p>{إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ اْلمَلاَئِكَةُ أَلاَّ تخََاَفُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْ أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ}<strong></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhan kami adalah Alloh kemudian mereka istiqomah, malaikat turun kepada mereka: Janganlah kalian takut dan sedih dan bergem-biralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian. Kami adalah pelindung kalian di kehidupan dunia dan akhirat, di sana kalian mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dan di sana terdapat apa yang kalian minta.” </em><a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Jadi, syarat dimantabkannya posisi (<em>tamkiin</em>) di muka bumi harus terpenuhi dahulu dalam diri kaum mukminin sebelum kemantaban posisi itu tercapai. Sebagian syarat itu telah Alloh sebutkan dalam ayat-ayat tadi, di antaranya adalah iman dan amal sholeh, mengikuti manhaj Nabi SAW dan para shahabat beliau yang dahulu telah berkuasa di muka bumi, meyakini ajaran agama yang benar (Islam), tidak menyekutukan Alloh, meminta tolong hanya kepada Alloh, sabar di atas jalan jihad dan perang melawan musuh, bertakwa kepada Alloh dalam kondisi sendirian atau dilihat orang, kesalehan secara menyeluruh di semua lapisan, karakter seorang mujahid hendaknya senantiasa menyatakan tuhanku adalah Alloh sekaligus mengamalkan konsekwensi pernyataan tersebut, ia harus konsisten (istiqomah) di atas ajaran agamanya. Inilah syarat-syarat yang apabila seorang hamba bersungguh-sungguh merealisasikan-nya, ia akan menjadi orang yang berhak diberi kemenangan oleh Alloh dan Alloh akan kuasakan dia di muka bumi.</p>
<p>Kalau kita mau meneliti hikmah mengapa Alloh menunda kemenangan dan mendatangkan kekalahan –secara kasat mata— kepada kaum muslimin di medan pertempuran, mau tidak mau kita harus menilainya dengan adil. Hanya, kita akan sendirikan pembahasannya setelah ini dengan izin Alloh, cukup kita isyaratkan di sini secara sepintas mengingat pemaha-man seperti ini tidak boleh hilang dari benak setiap muslim yang hidup hari ini di mana ia selalu mengikuti perkembangan dari medan pertempu-ran di Afghanistan dengan segala suasana dan eksistensinya, pepera-ngan antara kekuatan kufur inter-nasional seluruhnya melawan mujahi-din Afghan.</p>
<p>Kita mohon kepada Alloh agar memuliakan mujahidin dan menolong mereka serta menjadikan mereka berkuasa. Semoga Alloh memecah belah dan mencerai beraikan orang-orang kafir, menghinakan dan menjadikan mereka sebagai ghanimah bagi kaum muslimin.</p>
<p>sumber:menang kalah dalam perjuangan<strong> (</strong>Syaikh Yusuf bin Sholih Al-‘Uyairi)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> QS. Al-Baqoroh: 216</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> QS. At-Taubah: 73</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> QS. At-Taubah: 29</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> QS. At-Taubah: 5</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> QS. Al-Maidah: 54</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> QS. Al-Anfal: 39</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> QS. At-Taubah: 5</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> QS. Ghofir: 51</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> QS. Al-Anfal: 36</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> QS. Ali Imron: 13</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> QS. Muhammad: 4</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> QS. An-Nuur: 55</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> QS. Al-A‘roof: 128</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> QS. Al-Inbiya’: 105</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> QS. Fushilat: 30-31</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=267&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/07/09/jihad-akan-terus-berlangsung-ada-hingga-hari-kiamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ilah baru itu bernama Fifa World Cup</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/06/12/ilah-baru-itu-bernama-fifa-world-cup/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/06/12/ilah-baru-itu-bernama-fifa-world-cup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 17:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Perhelatan akbar sepakbola sudah digelar, perhelatan yang diadakan setiap 4 tahun sekali ini memang menjadi buah bibir semua kalangan., dari mulai tukang ojek, tukang becak, bahkan sampai menteri n para pejabat pun mempunyai negara jagoannya. Negara yang kali ini menjadi tuan Rumah Piala dunia adalah Afrika Selatan. Tak hanya di negara tempat berlangsungnya piala dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=263&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perhelatan akbar sepakbola sudah digelar, perhelatan yang diadakan setiap 4 tahun sekali ini memang menjadi buah bibir semua kalangan., dari mulai tukang ojek, tukang becak, bahkan sampai menteri n para pejabat pun mempunyai negara jagoannya. Negara yang kali ini menjadi tuan Rumah Piala dunia adalah Afrika Selatan.</p>
<p>Tak hanya di negara tempat berlangsungnya piala dunia ini atau di negara-negara yang turut ambil bagian dalam kejuaraan ini,<span id="more-263"></span> tetapi semua negara ikut memeriahkan perhelatan ini, termasuk di negara tetangga yaitu Indonesia, itu terbukti dari salah satu TV swasta di sini menjadi <em>Official Tv Fartner Fifa World Cup 2010.</em></p>
<p>Perbedaan waktu antara Afrika selatan dan indonesia yang terpaut kurang lebih 5 jam menjadikan jam tayang pun berbeda. Jika di Afrika pertandingan dimulai jam 02 Pm, maka bisa kita saksikan disini sekitar pukul 19.00 Wib, atau jika di Afrika pertandingan dimulai pukul 08.30 Pm, maka di sini bisa kita saksikan pada pukul 01.30 Wib. Kita sebagai umat Islam pasti sudah mengetahui jika di waktu-waktu itu adalah waktu yg utama untuk bermunajat padaNYA, waktu yg paling utama untuk beribadah dan berdo’a.</p>
<p><strong>Jangan dijadikan Ilah</strong></p>
<p><em>Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).</em></p>
<p>(Q.S A-Furqon ayat 43-44)</p>
<p><em>Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?</em></p>
<p>(Al-Jaatsiyah ayat 23)</p>
<p><strong>Ilah</strong> atau <strong>Ma&#8217;bud</strong> sering juga diartikan sebagai &#8220;tuhan&#8221;, namun sebenarnya arti Ilah adalah &#8220;segala sesuatu yang diabdi, ditaati, atau disembah&#8221; Ilah bisa berupa <a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia">manusia</a>, barang, kesenangan atau hal-hal yang mendatangkan kesenangan maupun ketenangan.</p>
<p>Sengaja atau tidak, jam tayang pertandingan yg berbarengan dengan waktu-waktu yang biasanya dipergunakan untuk beribadah oleh umat Islam ini sekarang beralih fungsi sebagai jam nonton bareng, dan kumpul bareng temen2 untuk menyaksikan pertandingan tersebut, biasanya kita berdzikir setelah maghrib, tapi karena ada World Cup (WC) dzikirnya ditinggalkan, atau yang biasanya bangun tengah malam untuk tahajud, sekarang tahajudnya tidak karena ada WC, yang lebih parah lagi yang biasanya tidak pernah bangun tengah malam, tetapi karena ada WC jadi rajin bangun tengah malam..sungguh inronis.. lebih mementingkan kegemaran dari pada seruan Alloh.</p>
<p>Kegemaran menonton bola yang mengalahkan dari beribadah kepada Alloh itu secara tidak disadari telah menjadi Ilah dalam diri kita, karena seperti tadi saya katakan bahwa arti Ilah itu bisa berbentuk apa saja termasuk <strong>kesenangan </strong>atau <strong>kegemaran.</strong></p>
<p>saya katakan pada diri saya sendiri, boleh kita gemar akan hal tersebut tapi janganlah kesenangan atau kegemaranmu akan sesuatu melalaikanmu dari beribadah pada Alloh, janganlah kegemaranmu menjadikan ketaaanmu pada Alloh menjadi futur.</p>
<p>Sebuah nasihat teruntuk diriku yang dhaif</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=263&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/06/12/ilah-baru-itu-bernama-fifa-world-cup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RISALAH UNTUK PARA PENCARI ILMU</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/18/risalah-untuk-para-pencari-ilmu/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/18/risalah-untuk-para-pencari-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 13:07:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[materi tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Abdi `r-Rohman Al-Atsari Bismillahirrohmanirrohim Segala puji bagi Alloh, robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan shahabat-shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak dan sunnah-nya hingga hari kiamat. Amma ba‘d… Inilah risalah yang kutujukan kepada saudaraku, penuntut ilmu: Assalamualaikum wa rohmatulloh wa barokatuh… Wahai penuntut ilmu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=259&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4>Oleh: Abu Abdi `r-Rohman Al-Atsari</h4>
<h2>Bismillahirrohmanirrohim</h2>
<p>Segala puji bagi Alloh, robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan shahabat-shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak dan sunnah-nya hingga hari kiamat.</p>
<h2>Amma ba‘d…</h2>
<p>Inilah risalah yang kutujukan kepada saudaraku, penuntut ilmu:<span id="more-259"></span> <em>Assalamualaikum wa rohmatulloh wa barokatuh…</em></p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, inilah kalimat-kalimat dan wasiyat-wasiyat, aku menulisnya sebagai peringatan dan nasehat untukmu, serta sebagai pembebasan tanggunganku nanti. Aku memohon kepada Alloh k semoga risalah ini sampai kepadamu ketika engkau dalam kondisi mendapatkan nikmat, kesejahteraan dan kesehatan paling sempurna.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, hati-hati, janganlah engkau mencari ilmu demi meraih jabatan atau tujuan duniawi. Sebab terdapat sebuah hadits shohih dari Nabi n bahwa beliau bersabda,</li>
</ul>
<p>تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيْكَ فَلاَ انْتَقَشَ</p>
<p><em>“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian, celakalah hamba busana, celaka dan amat buruklah ia, dan bila tertusuk duri tidak bisa tercabut lagi…dst hingga akhir hadits.”</em></p>
<p>Alloh <em>ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>مَنْ كَانَ يُرِيْدُ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيْهاَ وَهُمْ فِيْهاَ لاَ يُبْخَسُوْنَ<em> </em></p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami penuhi baginya amal usaha mereka di dalamnya dan mereka tidak dirugikan sama sekali.”</em> (QS. Hud: 15)</p>
<p>Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab telah meletakkan sebuah bab dalam <em>Kitab Tauhid </em>beliau kaitannya dengan ayat ini: <em>Bab Termasuk Syirik; Ketika Seseorang Beramal Karena Menginginkan Dunia</em>.</p>
<p>Kemudian, Syaikh Abdurrohman bin Hasan menjelaskan bab ini buku <em>Syarah Kitab Tauhid</em>nya yang berjudul <em>Qurrotu ‘Uyuni `l-Muwahhidin</em>, beliau <em>rohimahulloh</em> berkata, “Contoh dari ini adalah imam-imam masjid, para pengajar, dan mujahidin, yang bekerja dalam rangka memperoleh imbalan dari jihad yang ia lakukan.”</p>
<p>Maka, berhati-hatilah dari ini, semoga Alloh memberi aku dan engkau anugerah berupa keikhlasan.</p>
<ul>
<li>Wahai pencari ilmu, ketika engkau mencari ilmu, niatkanlah itu untuk menghilangkan kebodohan dari dalam dirimu, sehingga engkau beribadah kepada Alloh atas dasar ilmu yang terang. Selanjutnya, niatkan untuk menghilangkan kebodohan dari umat ini, supaya nantinya engkau ajarkan kepada mereka agama Alloh <em>ta&#8217;ala</em>.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, ketahuilah, menghafal Al-Quran memang berpahala dan merupakan satu keutamaan. Akan tetapi, mengamalkannya adalah kewajiban yang harus engkau laksanakan. Sesungguhnya kami melihat beberapa kaum di zaman sekarang, yang menganggap menghafal Al-Quran adalah kewajiban, sementara mengamalkannya adalah keutamaan. Maka, hindarilah sikap seperti ini. Sesungguhnya orang-orang seperti ini telah menihilkan banyak sekali nash-nash syar‘i.</li>
</ul>
<p>Aku ingatkan engkau dengan perkataan seorang shahabat <em>rodloyallohu &#8216;anhu </em>yang mengatakan: “Kami belajar 10 ayat dari Al-Quran, kami tidak melewatinya sebelum kami memahami dan mengamalkannya.”</p>
<p>Sungguh, beruntunglah para shahabat.</p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu: Hindarilah, sekali lagi hindarilah, hindari betul sikap <em>taklid</em>. Sebab <em>taklid</em> adalah penyakit yang mematikan. Berpeganglah kepada Al-Quran dan sunnah serta pemahaman salafus sholeh, meskipun manusia tidak menerimamu.</li>
</ul>
<p>Imam Syafi‘i <em>rohimahulloh</em> berkata,</p>
<p>أَجْمَعَ اْلعُلَمَاءُ سَلَفاً وَخَلَفاً أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَتْرُكَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ</p>
<p>“Para ulama, baik salaf maupun kholaf, sepakat bahwa siapa yang telah mengetahui dengan jelas sebuah sunnah Rosululloh n, maka ia tidak boleh meninggalkannya lantaran perkataan seseorang.”</p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, hindarilah sifat mengkultuskan para tokoh atau mengagung-agungkan mereka. Hendaknya pengagungan terhadap Kitab Alloh dan sunnah Rosul-Nya lebih engkau dahulukan daripada orang lain, siapapun dia. Jangan terlalu terpaku dengan nama dan sebutan-sebutan.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, jauhilah sifat <em>‘ujub </em>terhadap diri sendiri dan <em>ghurur</em> (besar hati). Sebab itu adalah biang kebinasaan orang-orang sholeh.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, ketahuilah, tugas paling penting dan kewajiban paling besar adalah tauhid. Maka konsentrasikanlah sebagian besar perhatianmu kepada urusan ini. Pelajari tauhid, baik secara ilmu, amal, dan dakwah. Sebab sebagian besar dakwah panutanmu –Nabi Muhammad <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>— adalah untuk urusan tauhid.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, bersikap jujurlah kepada saudara-saudaramu sesama pencari ilmu. Sesungguhnya aku telah menyaksikan ada beberapa orang penuntut ilmu yang sudah terbiasa berdusta dan terkenal suka menipu. Kami melihat mereka menghadapi suatu kaum dengan satu wajah, kemudian menghadapi kaum lain dengan wajah yang lain. Mereka mengatakan suatu perkataan kepadamu, lalu mengatakan kepada saudara-saudaramu yang lain dengan perkataan yang berbeda. Di sini ia mendukung, di sana ia mengingkari. Maka, hindarilah mereka, jangan bermajelis dengan mereka, sebab teman duduk itu akan berpengaruh terhadap dirimu.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya medan-medan jihad kehilangan orang sepertimu, kamp-kamp <em>tadrib</em> mencari-cari orang macam dirimu. Lantas, di manakah engkau? Kenapa tidak membela orang-orang tertindas?</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya orang-orang di sekelilingmu melihatmu sebagai tauladan. Maka jangan sampai sikap dudukmu menjadi penghambat mereka untuk berangkat berjihad.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, hati-hati, janganlah engkau mengemukakan berbagai alasan untuk tidak berjihad yang itu tidak diterima, di mana kalaulah alasan itu diajukan oleh shahabat Nabi Muhammad <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga tidak diterima. Bersikap jujurlah engkau, sesungguhnya Alloh senantiasa mengawasimu dan mengetahui hal-hal yang tersembunyi.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, di manakah engkau dari firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</li>
</ul>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَا لَكُمْ إِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فيِ سَبِيْلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلىَ اْلأَرْضِ أَرَضِِيْتُمْ بِاْلحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا فيِ اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ إِلاَّ تَنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيْماً وَيَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوْهُ شَيْئاً وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah apabila dikatakan kepada kalian: Berangkatlah berperang di jalan Alloh, kalian malah merasa berat dan condong ke bumi? Apakah engkau lebih suka kehidupan dunia daripada akhirat? Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat itu kecuali sedikit saja. Jika kalian tidak keluar berperang, Alloh akan mengazab kalian dengan azab yang pedih serta mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan kalian sama sekali tidak bisa membahayakan mereka. Dan Alloh Mahakuasa atas segala sesuatu.”</em> (QS. At-Taubah: 38, 39)</p>
<p>Dan firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ذَالِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>“Keluarlah berperang, baik dalam keadaan ringan ataupun berat, dan berjihadlah di jalan Alloh dengan harta dan nyawa kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”</em> (QS. At-Taubah: 41)</p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, ketahuilah bahwa keberanian memiliki andil yang besar ketika itu adalah pada diri orang yang berilmu. Maka, jadilah orang yang berani menyatakan kebenaran apa adanya, jangan berkompromi dengan siapapun.</li>
</ul>
<p>Ketahuilah –semoga Alloh <em>ta&#8217;ala</em> senantiasa menjagamu dari apa saja yang tidak menyenangkan—bahwa sekedar menyembunyikan kebenaran dan diam tidak menyampaikannya merupakan perbuatan yang pelakunya mendapat ancaman di sisi Alloh. Bahkan ia divonis mendapatkan laknat, <em>La Haula wa La quwwata illaa bil-Lah</em>. Lantas, bagaimanakah dengan orang yang mengucapkan kebatilan?</p>
<p>Dan aku ingatkan engkau dengan firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثاَقَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكتِاَبَ لَتُبيِنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُوْنَهُ فَنَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَناً قَلِيْلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ</p>
<p><em>“Dan ingatlah ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang diberi kitab: Hendaklah kalian menyampaikannya kepada manusia dan jangan menyembunyikannya. Lantas mereka membuang janji tersebut dan menukarnya dengan harga yang sedikit. Sungguh, teramat buruklah apa yang mereka beli itu.”</em> (QS. Ali Imron: 187)</p>
<p>Kami telah menyaksikan sendiri, orang-orang yang Alloh anugerahi ilmu dan hafalan, dan terkenal di kalangan manusia, tetapi mereka terjangkiti sifat pengecut, lemah nyali, dan penakut. Lantas, apa gunanya ilmu jika tidak diamalkan, padahal banyak sekali orang telah tersesat? Sungguh benarlah apa yang disabdakan Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ اَلأَئِمَّةُ اْلمُضِلِّيْنَ</p>
<p><em>“Sesuatu yang paling kukhawatirkan menimpa kalian adalah, imam-imam yang menyesatkan.”</em></p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, janganlah engkau masuk ke tempat para penguasa. Sebab terdapat hadits shohih dari Nabi kita n, bahwa beliau bersabda,</li>
</ul>
<p>مَنْ دَخَلَ عَلَى السُّلْطَانِ فَقَدِ افْتُتِنَ</p>
<p><em>“Barangsiapa masuk ke penguasa, maka ia telah tertimpa fitnah.”</em></p>
<p>Menurutmu, wahai penuntut ilmu, bagaimana kalau penguasa itu adalah thoghut yang bengis dan mengendalikan manusia dengan kekuatan, menjauhi syariat Alloh, dan membantu orang-orang Kristen dalam memerangi kaum muslimin di mana-mana? Mereka juga menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai hukum yang berlaku pada leher-leher manusia serta menghapuskan hukum hudud… dan masih banyak lagi perbuatan murtad dan zindiq lain yang mereka lakukan.</p>
<p>Maka, waspadailah mereka. Waspadailah orang yang duduk dengan mereka, baik dari kalangan ulama dan para pejabat-pejabat penguasa, yang telah menajisi ilmunya dengan duduk bersama musuh-musuh Alloh. Bahkan ikut serta dengan mereka dalam mengkaburkan berbagai fakta, menyesatkan rakyat dan menghias-hias kebatilan.</p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, jangan jadi orang-orang yang memperhatikan urusan para pemuda dalam halaqoh-halaqoh, acara-acara liburan, <em>mukhoyyam</em> (camping), atau dauroh-dauroh, tetapi kemudian meracuni pemikiran mereka  sehingga mereka tidak mau pergi berjihad di jalan Alloh, atau mengakibatkan mereka tidak mau mengatakan kebenaran lantaran suatu alasan atau alasan lain, atau mengakibatkan mereka tidak menyebut orang dzalim: “Hai Dzalim,” atau orang kafir: “Hai kafir.”</li>
</ul>
<p>Aku nasehati engkau, jika engkau termasuk ketua sekelompok pemuda, kobarkanlah semangat mereka untuk berperang. Baik di sini atau di mana saja. Terangkanlah Islam apa adanya, lalu jelaskan mengapa bisa begitu. Kalau engkau tidak mampu seperti ini, berikan kesempatan orang lain untuk menempati posisimu dan jangan menjadi orang-orang <em>mukhodzil</em> (pelemah semangat) tanpa engkau sadari. Demi Alloh, engkau mati dengan mempertanggung jawabkan dirimu sendiri, itu lebih baik daripada engkau mati tetapi akan dimintai pertanggung jawaban tentang para pemuda Islam di hadapan Alloh kelak. Baik karena mengkaburkan kebenaran kepada mereka, atau menghalangi mereka dari berjihad. <em>Wa la haula wa la quwwata illa billah.</em></p>
<p>Aku ingatkan engkau dengan sikap dari suri tauladanmu, Nabi Muhammad n, ketika beliau bertawaf di Ka‘bah sendirian, ketika beliau masih dalam kondisi lemah, ketika kaum musyrikin mengejek dan mengolok-olok beliau, beliau mengatakan:</p>
<p>ياَ مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِالذَّبْحِ</p>
<p>“Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku datang kepada kalian dengan sembelih,”</p>
<p>Kisah ini ada dalam <em>Musnad</em> Imam Ahmad.</p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, secara ringkas saya tegaskan kepadamu: Jika engkau benar-benar meneladani Nabimu, Muhammad n, dalam setiap hal, engkau terus terang di dalam melakukan dan menerangkannya, maka pasti engkau akan diuji dengan bala’. Bala’ itu turun sesuai dengan kadar keimanan sebagaimana hal itu diberitakan oleh Rosululloh n. Alloh l berfirman,</li>
</ul>
<p>أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ<em> </em></p>
<p><em>“Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami beriman, sementara mereka tidak diuji.”</em> (QS. Al-Ankabut: 2)</p>
<p>Ketahuilah, suatu saat nanti engkau akan dijauhi oleh para penuntut ilmu yang lain, oleh para ulama dan tokoh-tokoh penguasa. Engkau akan dikucilkan, dicaci dan dicela. Engkau akan dikatakan sebagai Khowarij, dan kata-kata semisal yang hari ini dituduhkan kepada para dai tauhid yang tertindas. Kalau engkau mengalaminya, bersabarlah. Sesungguhnya dalam kesusahan ada kemudahan, sesungguhnya dalam kesusahan ada kemudahan.</p>
<p>Wahai penuntut ilmu, waspadailah dai-dai yang hidup sejalan bersama orang-orang kafir. Waspadailah mereka-mereka yang jadi <em>mukhodzil </em>(pelemah semangat) dan kalah di hadapan musuh-musuh Alloh. Hati-hatilah dengan mereka. Jangan terpedaya dengan kata-kata manis bercampur racun mematikan yang mereka lontarkan, jangan terpedaya dengan materi-materi pelajaran yang mereka sampaikan, jangan terpedaya dengan orang-orang yang hadir dalam majelis mereka. Hati-hatilah terhadap mereka, sebab minimla kita harus sikapi mereka sebagaimana kita bersikap terhadap ahli bid‘ah. Para salafus sholeh kita telah mengingatkan kita agar menjauhi ahli bid‘ah. Sebagai contoh, bacalah kitab <em>Al-Bida‘</em> tulisan Ibnu Widhoh.</p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, camkan selalu pandanganmu kepada kitab robb kita dan terhadap sunnah Nabi kita n, renungkanlah dengan baik. Sebab dalam keduanya terdapat banyak kebaikan.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, berusahalah sebisa mungkin untuk mendialogkan berbagai permasalahan dengan ikhwan-ikhwanmu yang lain. Sebab sesungguhnya kemantaban dalam menguasai berbagai persoalan adalah dengan berdialog.</li>
<li>Wahai penuntut ilmu, tetapkanlah waktu yang engkau khususkan untuk menyendiri dengan robbmu, yang di sana engkau membaca kalam-Nya, bermunajat dan berdoa kepada-Nya. Karena doa termasuk ibadah terbesar, sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat shohih dari Rosululloh n,</li>
</ul>
<p>اَلدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ</p>
<p>“Doa adalah ibadah itu sendiri.”</p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, berhati-hatilah dengan ulama <em>suu’</em> (ulama jahat), jangan bermajelis atau berhalaqoh bersama mereka. Karena mereka adalah orang-orang jahat dan sesat. Mereka mengkaburkan agama Islam di hadapan kaum muslimin, menyesatkan rakyat, dan ikut serta bersama para penguasa dalam menjual tanah dan tempat suci kaum muslimin.</li>
</ul>
<p>Lihatlah Al-Quds (Masjid Al-Aqsa), sejak 50 tahun lebih berada dalam cengkraman yahudi, apakah yang telah diperbuat para ulama penguasa tersebut?</p>
<p>Lihat Hai’atu Kibaril Ulama atau Al-Lajnah Ad-Daimah, siapakah yang memprakarsainya, siapa yang memilih dan mengangkat anggotanya? Mereka adalah para penguasa yang khianat.</p>
<ul>
<li>Wahai penuntut ilmu, para ulama yang banyak dijadikan rujukan oleh para pemuda itu, ada yang mengatakan bahwasanya tidak ada permusuhan antara kaum muslimin dengan umat lain. Ada juga yang pindah ke negeri orang-orang nashrani untuk mempersatukan  anggota parlemen dan di sana disambut oleh wanita-wanita pelacur Eropa, seolah tak terjadi apa-apa. Ada yang bersumpah atas nama Alloh, bahwa siapa yang terbunuh di Afghanistan, tapi ia ke sana tanpa seizin penguasa –padahal penguasanya membolehkan beredarnya khomer sekalipun—, maka ia bukan syahid. Pemimpin dan pembesar mereka bahkan mengatakan, Amerika adalah orang-orang yang tak berdosa. Yang lain mengatakan, mendonor darah kepada orang-orang Amerika adalah boleh hukumnya. Dan yang lain, dan yang lain, dst.</li>
</ul>
<p>Ulama lain, ada yang berlomba-lomba berpose bersama para thoghut setiap pekan.</p>
<p>Sungguh, kami telah datangi mereka dan rekan-rekan mereka yang juga ulama besar, kami nasehati mereka, kami ajak dialog dan kami berbincang-bincang dengan mereka. Akan tetapi, <em>la haula wa la quwwata illa billah, </em>tidak ada faedahnya.</p>
<p>Oleh karena itu, wahai penuntut ilmu, aku bertanya kepadamu atas nama Alloh, beginikah sebenarnya keadaan yang mesti dijalan ulama Islam, ataukah ini adalah kondisi para pembantu thoghut dan penjilat penguasa?</p>
<p>Terakhir kalinya, aku memohon kepada Alloh <em>ta&#8217;ala</em> agar menjadikan kalimat-kalimat ini tadi bermanfaat bagi pembacanya, serta menjadikannya diterima di bumi.</p>
<p>Aku juga memohon kepada Alloh <em>ta&#8217;ala</em>, agar menganugerahi dirimu ilmu yang terang dan kemampuan untuk mengamalkannya, semoga engkau diberkahi selalu di manapun engkau berada dan Alloh menjadikanmu termasuk orang yang mengatakan kebenaran.</p>
<p>Sebagai penutup, aku memohon agar Alloh memberiku kesyahidan, yang dengan itu Dia akan ridho dan tertawa kepada kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa, Mahapemurah dan Mahadermawan. Dan doa terakhir kami, <em>Anil hamdulillahi robbil ‘Alamin</em>, segala puji hanya milik Alloh robb seru sekalian alam.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=259&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/18/risalah-untuk-para-pencari-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wahai Para Orang Tua, Tidak Ada Lagi Kewajiban Untuk Ijin Pada Hal-Hal Yang Hukumnya Fardlu &#8216;Ain.</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/14/wahai-para-orang-tua-tidak-ada-lagi-kewajiban-untuk-ijin-pada-hal-hal-yang-hukumnya-fardlu-ain/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/14/wahai-para-orang-tua-tidak-ada-lagi-kewajiban-untuk-ijin-pada-hal-hal-yang-hukumnya-fardlu-ain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 06:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[idhaat 'ala darbil jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Muhammad bin Abdillah, yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam, juga kepada keluarga dan sahabatnya yang suci dan bersih, serta kepada seluruh ahli bait nya. Amma ba&#8217;du: Di dalam kitab Al Kafi IV/256 Ibnu Qudamah mengatakan: &#8220;Dan amalan tathowwu&#8217; yang paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=247&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Muhammad bin Abdillah, yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam, juga kepada keluarga dan sahabatnya yang suci dan bersih, serta kepada seluruh <em>ahli bait</em> nya. <em>Amma ba&#8217;du:</em></p>
<p>Di dalam kitab Al Kafi IV/256 Ibnu Qudamah mengatakan: &#8220;Dan amalan <em>tathowwu&#8217;</em> yang paling utama adalah jihad fi sabilillah, hal itu dinyatakan oleh Ahmad. Pernah juga disampaikan kepadanya permasalahan tentang peperangan kemudian ia menangis dan mengatakan: Tidak ada amalan baik yang lebih baik daripadanya. Apa coba amalan yang lebih baik daripadanya, sedangkan orang-orang yang berperang di jalan Alloh itu adalah orang-orang yang mempertahankan Islam dan mempertahankan kehormatan<span id="more-247"></span><em> </em>mereka, dan mereka telah mengorbankan nyawanya. Semua orang dalam keadaan aman sedangkan mereka dalam ketakutan. Dan Abu Sa&#8217;id Al Khudzri telah meriwayatkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Rosululloh: Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling baik itu? Beliau menjawab:</p>
<p>مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ</p>
<p><em>Orang beriman yang berjihad di jalan Alloh dengan jiwa dan hartanya. (muttafaq &#8216;alaih)</em></p>
<p>…&#8221; Sampai di sini perkataan Ibnu Qudamah <em>rohimahulloh</em> mengenai jihad ketika hukumnya fardlu kifayah. Lalu apa kiranya yang beliau katakan jika jihad itu fardlu &#8216;ain?</p>
<p><strong>Dan di antara yang menjadi penghalang jihad pada zaman sekarang ini</strong> dan yang pada hari ini senantiasa ditanyakan oleh mayoritas pemuda yang senantiasa merindukan medan-medan jihad adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">ijin kepada kedua orang tua</span></strong>. Berikut ini kami akan membahas secara detail tentang hukum ijin kepada kedua orang tua untuk berjihad. Namun sebelum saya bahas secara terperinci, saya katakan secara umum bahwasanya apabila jihad itu hukumnya fardlu &#8216;ain, dan inilah hukum jihad pada zaman kita sekarang ini karena musuh telah menyerang bumi kaum muslimin, maka dalam kondisi semacam ini telah gugur kewajiban meminta ijin kepada kedua orang tua untuk berjihad, sehingga seorang anak tidak perlu lagi meminta ijin kedua orang tuanya untuk berjihad, dan <em>insya Alloh </em>dia tidak berdosa.</p>
<p>Dalam lembaran-lembaran ini saya akan mengajak bicara dan memberikan penjelasan kepada kedua orang tua tentang hukum taat kepada keduanya untuk tidak berjihad, dan saya akan terangkan kepada keduanya tentang hukum jihad pada hari ini …</p>
<p><strong>Bagi setiap orang tua yang hendak melarang anak-anaknya untuk berjihad pada jaman sekarang ini</strong>, hendaknya dia memahami bahwasanya mereka berdosa kepada Alloh karena mereka telah menghalangi jalan Alloh, padahal Alloh telah berfirman:</p>
<p>الَّذِيْنَ يَسْتَحِبُّوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلآخِرَةِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ وَيَبْغُوْنَهَا عِوَجًا أُوْلَئِكَ فِيْ ضَلاَلٍ بَعِيْدٍ</p>
<p><em>Orang-orang yang lebih mencintai kehidupan dunia daripada akherat dan menghalang-halangi jalan Alloh, dan mereka mengharapkan jalan itu bengkok, mereka itu dalam kesesatan yang jauh.</em></p>
<p>Dan hendaknya mereka memahami bahwasanya tidak boleh taat kepada mereka dalam rangka bermaksiat kepada Alloh. Kami akan memaparkan kaedah yang umum ini secara terperinci, serta dalil-dalilnya dari perkataan para ulama&#8217;, <em>hanya Alloh sajalah yang dapat memberi petunjuk.</em></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Wahai para orang tua</span></strong>: Sesungguhnya Islam di seluruh dunia pada hari ini tengah menghadapi serangan kaum Salib yang bersekutu dengan kaum Yahudi. Dan serangan ini ditujukan kepada Islam dan para penganutnya, berupa pembunuhan, pengusiran dan pelecehan terhadap harga diri. Sedangkan umat ini tidak mungkin dapat keluar dari keadaan yang menyedihkan ini, dan keluar dari kehinaan ini kecuali melalui tangan-tangan para pemuda dan <em>rijal</em>nya, tatkala mereka mengangkat bendera jihad dan mengerahkan jiwa mereka dan segala apa yang mereka miliki untuk mempertahankan agama ini. Jika ini terjadi maka kita akan menguasai kembali seluruh dunia ini sebagaimana dahulu para pendahulu kita telah menguasainya. Oleh karena itu hendaknya setiap bapak dan ibu mengetahui bahwasanya tanggung jawab mereka untuk membela agama ini sangatlah besar. Sehingga mereka wajib untuk berjihad dengan anak mereka, harta mereka dan lisan mereka supaya Islam menang dan umat ini jaya. Akan tetapi sangat disayangkan, kami telah tunggu-tunggu kalian supaya menjadi orang yang pertama kali mempersembahkan anaknya untuk agama ini, namun ternyata kalian malah orang yang pertama kali menghalangi anak-anaknya untuk berjihad mempertahankan agama ini. Ketahuilah wahai para orang tua, bahwasanya Alloh <em>ta&#8217;ala</em> tidaklah memberikan nilai sedikitpun pada perintah kalian jika perintah itu menyelisihi perintah-Nya. Karena taat kepada kalian itu hukumnya wajib dalam hal kebaikan dan ketaatan kepada Alloh, adapun jika dalam bermaksiat kepada Alloh maka tidak ada kata taat untuk kalian. Dan ketaatan kepada kalian itu lebih diutamakan jika itu berseberangan dengan ketaatan kepada Alloh, sehingga apabila ketaatan kepada kalian berseberangan dengan ketaatan kepada Alloh maka ketaatan kepada kalian tidak perlu lagi dihiraukan dan tidak perlu lagi diikuti. Di sini saya akan sampaikan kepada kalian secara detail tentang hukum taat kepada kalian supaya kalian tahu bahwa kalian itu berada di antara dua hal:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama:</span></strong><strong> Kalian relakan anak-anak kalian untuk berjihad, dan kalian berikan dorongan serta motifasi kepada mereka untuk berjihad</strong> niscaya kalian akan mendapatkan pahala mereka. <strong><span style="text-decoration:underline;">Kedua:</span> Kalian halangi mereka untuk berjihad di jalan Alloh maka kalian akan mendapatkan dosa dan kalian tidak berhak lagi untuk ditaati.</strong> Dan yang paling baik bagi kalian adalah hendaknya kalian menjadi golongan yang pertama, sehingga kalian menyerahkan anak-anak kalian kepada jihad dengan lapang dada dalam rangka taat kepada Alloh. Karena sesungguhnya kalian akan bertemu dengan suatu hari di mana pada saat itu tidak ada lagi gunanya harta dan anak, kecuali orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang bersih.</p>
<p>Mungkin kalian akan mengingkari dan marah mendengar kata-kataku ini, akan tetapi saya yakin dengan apa yang saya katakan dan saya yakin dengan apa yang saya fahami, meskipun kalian menentangku dan pasti kalian akan mengatakan kata-kata sebagai berikut:</p>
<p>Sesungguhnya taat kepada kedua orang tua itu hukumnya wajib dan fardlu &#8216;ain. Bahkan Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan yang lainnya dari Abdulloh bin Amr <em>rodliyallohu &#8216;anhu, </em>ia mengatakan: Ada seseorang yang datang kepada Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> lalu meminta ijin kepada beliau agar diijinkan untuk ikut berjihad. Maka Rosululloh bertanya kepadanya:</p>
<p>أَحَيٌّ وَالِدَاكَ ؟</p>
<p><em>Apakah kedua orang tuamu masih hidup? </em></p>
<p>Orang itu menjawab: Ya. Maka beliau bersabda:</p>
<p>فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ</p>
<p><em>Berjihadlah pada keduanya! </em></p>
<p>Dan dalam Sunan Abu Dawud lebih jelas lagi daripada hadits tersebut, yang diriwayatkan dari Abu Sa&#8217;id <em>rodliyallohu </em>dengan lafadh:</p>
<p>ارْجِعْ فَاسْتَأْذِنْهِمَا فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ ، وَإِلاَّ فَبرَّهُمَا</p>
<p><em>Kembalilah, dan mintalah ijin kepada kedua orang tuamu, lalu jika keduanya mengijinkanmu maka berjihadlah, namun jika tidak maka berbaktilah kepada keduanya.</em></p>
<p>Kalian mungkin akan mengatakan bahwa dua hadits ini dan hadits-hadits lainnya, adalah nash yang memutuskan perkara ini dan juga merupakan bantahan atas anggapanmu bahwa tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua dalam jihad!! Namun saya tidak akan membantah kalian akan tetapi biarlah para ulama&#8217; di sepanjang zaman yang akan membantah kalian, yang akan menjelaskan kesalahan kalian dalam menjadikan hukum yang terkandung dalam hadits tersebut berlaku pada sepanjang zaman, dan bahwasanya pendapat kalian ini bertentangan dengan dalil-dalil lainnya. Di antara dalil yang bertentangan dengan pendapat kalian ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban V/8, dari Abdulloh bin Amr <em>rodliyallohu &#8216;anhu </em>bahwasanya ada seseorang datang kepada Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> lalu bertanya kepadanya tentang amalan yang paling utama, maka Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>menjawab: <em>Sholat</em>. Kemudian orang itu bertanya: Kemudian apa? Beliau menjawab: <em>Kemudian sholat</em>. Orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: <em>Kemudian sholat</em>. Lalu orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: <em>Kemudian sholat</em>. Tiga kali. Orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: <em>Kemudian jihad di jalan Alloh</em>. Orang itu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai dua orang tua. Maka Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>Aku memerintahkan kepadamu agar berbuat baik kepada kedua orang tuamu.</em> Maka orang itu mengatakan: Demi (Alloh) yang telah mengutusmu sebagai Nabi, saya benar-benar akan berjihad dan akan kutinggalkan keduanya. Maka Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>Engkau lebih tahu.</em></p>
<p>Berdasarkan hadits di atas Ibnu Hajar di dalam Fat-hul Bari VI/140 mengatakan: &#8220;Mayoritas ulama&#8217; mengharamkan bagi seseorang untuk jihad jika kedua orang tuanya atau salah satunya melarang, syaratnya kedua orang tua tersebut orang Islam. Karena taat kepada keduanya itu hukumnya fardlu &#8216;ain baginya sedangkan jihad itu fardlu kifayah. Namun ketika jihad itu hukumnya fardlu &#8216;ain maka tidak ada ijin lagi dan hal ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban … kemudian beliau menyebutkan hadits di atas lalu mengatakan … hadits ini dibawa kepada pemahaman ketika jihad hukumnya fardlu &#8216;ain, untuk mengkompromikan antara dua hadits tersebut. Lalu apakah kakek dan nenek hukumnya juga sama dengan kedua orang tua (dalam masalah ijin jihad)? Pendapat yang paling benar menurut madzhab Syafi&#8217;i adalah ya. (kakek dan nenek hukumnya sama dalam ijin jihad).&#8221;</p>
<p>Di dalam kitab Syarhuz Zarqoni &#8216;Ala Muwatho&#8217; Malik III/20, Muhammad Az Zarqoni mengatakan: &#8220;Mengenai sabda beliau <em>[maka berbaktilah kepada keduanya]</em> mayoritas ulama&#8217; mengatakan haram seseorang berjihad jika kedua orang tuanya atau salah satunya melarangnya, dengan syarat keduanya adalah orang muslim karena berbakti kepada keduanya hukumnya adalah fardlu &#8216;ain sedangkan jihad hukumnya fardlu kifayah. Namun ketika jihad hukumnya fardlu &#8216;ain maka tidak ada ijin lagi, karena Ibnu Hibban meriwayatkan hadits … kemudian beliau menyebutkan hadits di atas.</p>
<p>Di dalam kitab Ad Darori Al Mudliyah I/481 Asy Syaukani mengatakan: &#8220;Adapun keharusan ijin kepada kedua orang tua itu berlaku berdasarkan hadits Abdulloh bin Umar, ia mengatakan: Ada seseorang datang kepada Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>untuk meminta injin ikut berjihad. Maka Rosululloh bertanya kepadanya:<em> Apakah kedua orang tuamu masih hidup?</em> Beliau menjawab: Ya. Maka Rosululloh bersabda: <em>Berjihadlah pada keduanya.</em> Dan di dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah disebutkan bahwasanya orang itu mengatakan: <em>Wahai Rosululloh, sesungguhnya aku datang karena aku ingin berjihad bersamamu. Aku datang ke sini sedangkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.</em> Maka beliau bersabda: <em>Kembalilah dan bikinlah keduanya tertawa sebagaimana engkau bikin keduanya menangis.</em></p>
<p>Dan Muslim telah meriwayatkan hadits ini dari jalur lain. Sedangkan Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Abu Sa&#8217;id bahwasanya ada seseorang yang berhijroh kepada Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Yaman. Maka Rosululloh bertanya kepadanya: <em>Apakah ada orang yang engkau tinggalkan di Yaman? </em>Orang itu menjawab: <em>Ada</em><em>, kedua orang tuaku.</em> Maka Rosululloh bertanya: <em>Apakah mereka berdua mengijinkanmu? </em>Orang itu menjawab: <em>Tidak</em>. Maka beliau bersabda: <em>Kembalilah kepada keduanya lalu mintalah ijin kepada keduanya. Jika keduanya mengijinkanmu maka berjihadlah, namun jika tidak maka jangan.</em></p>
<p>Hadits ini juga di<em>shohih</em>kan oleh Ibnu Hibban. Sedangkan Ahmad dan An Nasa-i dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Mu&#8217;awiyah bin Jahimah As Sulami bahwasanya Jahimah datang kepada Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> lalu berkata kepada beliau: <em>Wahai Rosululloh, aku ingin berjihad lalu aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu?</em> Maka beliau bertanya: <em>Apakah engkau memiliki ibu?</em> Orang itu menjawab: <em>Ya. </em>Lalu beliau bersabda: <em>Tetaplah bersama keduanya karena sesungguhnya syurga itu berada di kaki keduanya.</em> Hadits ini isnadnya banyak diperselisihkan. <strong>Sedangkan mayoritas ulama&#8217; berpendapat bahwasanya meminta ijin kepada kedua orang tua untuk berjihad itu hukumnya wajib dan haram hukumnya hukumnya berjihad jika keduanya atau salah satunya tidak mengijinkan, karena berbakti kepada keduanya itu hukumnya fardlu &#8216;ain sedangkan jihad itu hukumnya fardlu kifayah, dan mereka (mayoritas ulama&#8217;) mengatakan bahwasanya ketika jihad itu fardlu &#8216;ain tidak ada lagi ijin</strong>. Hal ini dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abdulloh bin Umar. Ia mengatakan bahwasanya ada seseorang datang kepada Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> lalu bertanya: <em>Amalan apakah yang paling baik?</em> Beliau menjawab:</p>
<p>الصَّلاَةُ قَالَ ثُمَّ مَهْ قَالَ اَلْجِهَادُ قَالَ فَإْنَّ لِيْ وَالِدَيْنِ قَالَ آمُرُكَ بِوَالِدَيْكَ خَيْرًا قَالَ وَالَّذِيْ بَعَثَكَ نَبِيًّا َلأُجَاهِدَنَّ وَلَأَتْرُكَنَّهُمَا قَالَ فَأَنْتَ أَعْلَمُ<em></em></p>
<p><em>Sholat. Kemudian orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: Kemudian jihad. Orang itu mengatkan: Sesungguhnya aku memiliki dua orang tua. Maka Rosululloh shollallohu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: Aku perintahkan engkau untuk berbuat baik kepada kedua orang tuamu. Orang itu berkata: Demi (Alloh) yang telah mengutusmu sebagai Nabi, aku benar-benar akan berjihad dan aku akan tinggalkan keduanya. Rosululloh bersabda: Engkau lebih tahu.</em></p>
<p>Para ulama&#8217; mengatakan bahwasanya hadits ini adalah ketika jihad itu fardlu &#8216;ain, yakni ketika jihad itu hukumnya fardlu &#8216;ain bagi orang yang memiliki dua orang tua atau salah satunya, untuk mengkompromikan antara dua hadits tersebut.&#8221;</p>
<p>Di dalam Al Mughni IX/171, Ibnu Qudamah: &#8220;Jika jihad itu menjadi kewajibanmu maka tidak berlaku lagi ijin kepada kedua orang tua karena jihad hukumnya menjadi fardlu &#8216;ain sehingga meninggalkannya adalah maksiat dan tidak ada ketaatan kepada siapapun dalam bermaksiat kepada Alloh. Begitu pula setiap orang yang memiliki kewajiban seperti haji, sholat berjama&#8217;ah, sholat jum&#8217;at dan bersafar untuk menuntut ilmu yang wajib diketahui. Al Auza&#8217;i mengatakan: Tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua dalam meninggalkan kewajiban, sholat jum&#8217;at, haji dan perang, karena kewajiban-kewajiban tersebut hukumnya fardlu &#8216;ain baginya sehingga tidak berlaku lagi ijin kepada kedua orang tua dalam perkara-perkara tersebut seperti sholat, dan karena Alloh <em>ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>وَ للهَ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً</p>
<p><em>Dan manusia itu memiliki kawajiban kepada Alloh untuk melaksanakan haji ke baitulloh bagi siapa saja yang mampu menempuh perjalanan ke sana.</em></p>
<p>… dan di sini Alloh tidak mensyaratkan harus ijin kepada kedua orang tua.&#8221;</p>
<p>Sedangkan Al Khurofi mengatakan di dalam Mukhtashornya I/128, bahwasanya Ahmad mengatakan: &#8220;Dan apabila kedua orang tuanya muslim makan ia tidak boleh berjihad yang <em>tathowwu&#8217; </em>(suka relawan) kecuali atas ijin dari keduanya, akan tetapi apabila ia diperintahkan untuk berjihad maka tidak ada lagi ijin kepada kedua orang tua. Dan begitu pula semua kewajiban yang lain, tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua untuk meninggalkannya.&#8221;</p>
<p>&#8216;Ali bin Hasan Al Mardawi Al Hanbali mengatakan di dalam kitab Al Inshor II/109: &#8220;Dan yang dhohir dari perkataan pada sahabat kita dalam masalah jihad &#8212; yakni jika hukumnya fardlu &#8216;ain &#8212; mereka mengatakan bahwasanya tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua untuk meninggalkan suatu kewajiban, dan begitu pula hukum puasa jika kedua orang tua atau salah satu dari keduanya menyuruh untuk tidak berpuasa.&#8221;</p>
<p>Ibnu Qudamah mengatakan di dalam Al Kafi IV/253: &#8220;Jihad itu hukumnya fardlu &#8216;ain dalam dua keadaan:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama:</span></strong> Apabila dua pasukan (pasukan Islam dengan pasukan kafir) saling berhadapan maka jihad hukumnya fardlu &#8216;ain bagi orang yang hadir di situ, berdasarkan firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا</p>
<p><em>Wahai orang-orang beriman apabila kalian bertemu dengan kelompok (kafir) maka bertahanlah…</em></p>
<p>… dan juga berdasarkan firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>إِذَا لَقِيْتُمْ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوْهُمُ اْلأَدْباَر</p>
<p><em>Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir dalam peperangan maka janganlah kalian mundur ke belakang. (Al Anfal)</em></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedua:</span></strong> Apabila orang-orang kafir memasuki negari kaum muslimin maka fardlu &#8216;ain hukumnya bagi penduduk negeri tersebut untuk memerangi mereka dan barangkat semua untuk memerangi mereka, dan tidak diperkenankan bagi seorangpun untuk absen dari jihad kecuali orang yang diperlukan untu menjaga keluarga, tempat dan harta, dan juga orang yang dilarang oleh pemimpin untuk ikut berangkat, hal itu berdasarkan firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>انْفِرُوْا خِفَافًا وَثِقَالاً</p>
<p><em>Berangkatlah kalian berperang baik dalam keadaan ringan maupun dalam keadaan berat.</em></p>
<p>Dan juga karena mereka masuk dalam kategori orang yang hadir di medan perang sehingga jihad hukumnya fardlu &#8216;ain bagi mereka. Dan barangsiapa yang salah satu dari kedua orang tuanya muslim maka dia tidak boleh berjihad kecuali atas ijinnya. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu   Abbas, ia mengatakan bahwasanya adalah seseorang yang datang kepada Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>lalu berkata: Wahai Rosululloh, bolehkah aku berjihad? Beliau ganti bertanya: <em>Apakah engkau memiliki orang tua?</em> Orang itu menjawab: Ya. Maka Rosululloh bersabda: <em>Berjihadlah pada keduanya</em>. At Tirmidzi mengatakan: Hadits ini hasan shohih. Dan juga karena jihad itu fardlu kifayah sedangkan berbakti kepada kedua orang tua itu hukumnya fardlu &#8216;ain, maka yang fardlu &#8216;ain itu harus didahulukan daripada yang fardlu kifayah. Namun jika kedua orang tuanya kafir maka tidak perlu ijin lagi kepada keduanya, karena Abu Bakar, Abu Hudzaifah bin &#8216;Utbah dan yang lainnya dahulu berjihad tanpa ijin kepada orang tua mereka, karena orang tua mereka cacat dari sisi agama … kemudian beliau mengatakan … dan jika jihad itu fardlu &#8216;ain maka tidak perlu lagi ijin kepada kepada kedua orang tua karena jihad menjadi fardlu &#8216;ain sehingga tidak berlaku lagi ijin kepada kedua orang tua dalam masalah ini sebagaimana haji yang wajib, demikian pula semua kewajiban yang lain tidak ada ketaatan kepada keduanya untuk meninggalkannya karena meninggalkannya adalah maksiat padahal tidak ada ketaatan kepada manusia untuk bermaksiat kepada Alloh, seperti bersafar untuk menuntut ilmu yang wajib diketahui jika ilmu tersebut tidak bisa didapatkan di negerinya atau yang lainnya.&#8221;</p>
<p>Ibnu Muflih mengatakan di dalam Al Mubdi&#8217; III/316, setelah beliau menyebutkan bahwasanya mayoritas ulama&#8217; melarang seorang anak pergi berjihad tanpa seijin kedua orang tua ketika jihad itu hukumnya fardlu kifayah. Kemudian beliau berkata: &#8220;Kecuali ketika jihad hukumnya fardlu &#8216;ain, karena tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua untuk meninggalkan kewajiban.&#8221; Asy Syaukani juga mengatakan di dalam Fat-hul Qodir IV/193: &#8220;Alloh berfirman:</p>
<p>وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا</p>
<p><em>Dan jika keduanya berusaha supaya kamu menyekutukan-Ku dengan apa-apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka janganlah engkau taati keduanya.</em></p>
<p>Yakni, jika keduanya meminta dan memaksa kepadamu agar engkau menyekutukan-Ku dengan sesembahan lain yang mana tidak engkau ketahui bahwa ia adalah sesembahan maka jangan engkau taati keduanya, karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam bermaksiat kepada kholiq. Dan Alloh mengungkapkannya dengan penafian ilmu tentang penafian sesembahan, karena sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya tidak boleh diikuti, terlebih lagi dengan sesuatu yang telah diketahui kebatilannya? Dan apabila kedua orang tua itu meminta dengan sungguh-sungguh saja tidak boleh ditaati apalagi jika keduanya hanya sekedar meminta tanpa ada usaha yang sungguh-sungguh. Dan seluruh kemaksiatan kepada Alloh hukumnya disamakan juga pemintaan untuk berbuat syirik ini, karena kedua orang tua itu tidak boleh ditaati dalam kemaksiatan kepada Alloh sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih dari Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Asy Syaukani di dalam Nailul Author VIII/40 mengatakan: &#8220;Sabda Rosul yang berbunyi:</p>
<p>فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ</p>
<p><em>Jika keduanya mengijinkanmu maka berjihadlah.</em></p>
<p>Ini adalah dalil atas wajibnya meminta ijin kepada kedua orang tua dalam urusan jihad, dan inilah yang dikatakan oleh mayoritas ulama&#8217;, bahkan mereka menegaskan atas haramnya jihad jika kedua orang tua atau salah satunya melarang karena berbakti kepada keduanya itu hukumnya fardlu &#8216;ain sedangkan jihad itu fardlu kifayah. Namun ketika jihad fardlu &#8216;ain maka tidak ada lagi kewajiban untuk ijin.&#8221;</p>
<p>Bahkan Asy Syafi&#8217;i berpendapat bahwasanya tidak wajib taat kepada kedua orang tua dalam masalah jihad ketika jihad hukumnya fardlu kifayah, hal itu ketika diketahui bahwa kedua orang tuanya atau salah satunya manafik atau kafir atau membenci jihad dan tidak menyukai para pelaku jihad. Asy Syafi&#8217;i mengatakan di dalam Al Umm IV/163: &#8220;Apabila dia diperintahkan untuk mentaati kedua orang tuanya atau salah satunya untuk tidak berperang maka harus dijelaskan kepada orang itu bahwasanya ia tidak diperintahkan untuk mentaati salah satunya kecuali orang yang ditaati itu adalah orang mukmin … kemudian beliau berkata … lalu apabila keduanya masih berada di dalam agamanya maka hak keduanya (untuk ditaati) tidak hilang sama sekali, dan ia tidak boleh bersikap <em>baro&#8217; </em>(berlepas diri) kepadanya, dan hendaknya dia tidak berjihad kecuali atas ijin dari keduanya. Namun jika keduanya tidak berada di dalam agamanya, maka sesungguhnya yang diperangi itu agamanya sama dengan keduanya sehingga tidak boleh taat kepada keduanya untuk meninggalkan jihad &#8212; ketika jihad fardlu kifayah &#8212; dan dia boleh berjihad meskipun kedua orang tuanya tidak setuju, dan biasanya kedua orang tua itu melarang karena ia membenci agamanya dan lebih senang dengan agama yang dianut keduanya, bukan murni karena sayang dengannya, selain itu telah terputus perwalian antara dirinya dengan kedua orang tuanya berdasarkan agama. Jika ada yang mengatakan; Apakah yang saya katakan ini ada dalilnya. Jawabnnya adalah; Ibnu Utbah bin Robi&#8217;ah telah berjihad bersama Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>dan beliau memerintahkannya untuk berjihad,sedangkan bapaknya adalh orang yang memerangi Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka saya tidak meragukan lagi bahwasanya bapaknya itu tidak suka jika Ibnu Utbah berjihad bersama Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Abdulloh bin Abdulloh bin Ubay dahulu juga berjihad bersama Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>sedangkan bapaknya tidak ikut perang bersama Nabi pada waktu perang Uhud bahkan dia melemahkan semangat jihad orang-orang yang masih taat kepadanya dan juga yang lainnya, sehingga <em>insya Alloh </em>tidak diragukan lagi mereka itu adalah orang-orang yang tidak suka jika anak-anak mereka berjihad bersama Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> jika mereka sendiri bertentangan dengan Nabi dan memerangi beliau atau melemahkan semangat jihad. Asy Syafi&#8217;i <em>rohimahulloh </em>mengatakan: &#8220;Jika kedua orang tua itu masuk Islam, siapapun mereka, maka wajib bagi seorang anak untuk tidak berperang kecuali atas ijin darinya, kecuali jika anak itu mengetahui bahwasanya orang tuanya itu munafiq, maka ia tidak wajib taat kepada orang tuanya untuk berperang.&#8221;</p>
<p><strong>Jika kami katakan tidak wajib taat kepada kedua orang tua untuk berangkat jihad itu bukan maksud kami untuk menggugurkan hak keduanya secara total.</strong> Akan tetapi kami katakan jika dia adalah anak satu-satunya yang menanggung kehidupan kedua orang tuanya, kemudian keberangkatannya untuk berjihad akan menyebabkan keduanya binasa atau menyebabkan keduanya murtad dari agamanya, maka ketika itu ia termasuk orang-orang yang memiliki udzur sehingga ia boleh untuk tidak berjihad secara fisik, sebagaimana orang-orang yang memiliki udzur yang lainnya, namun ia harus tetap berusaha untuk berjihad dengan harta dan lisannya, serta memberikan nasehat (kesetiaan) kepada Alloh dan Rosul-Nya serta kepada orang-orang beriman, sebagaimana yang Alloh perintahkan kepada orang-orang yang mempunyai udzur dalam firman-Nya:</p>
<p>لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلاَ عَلَى الْمَرْضَى وَلاَ عَلَى الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ مَا يُنْفِقُوْنَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوْا للهِ وَرَسُوْلِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ مِنْ سَبِيْلٍ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٍ</p>
<p><em>Tidak ada dosa bagi orang-orang yang lemah atau sakit atau yang tidak memiliki perbekalan jika mereka memberikan nasehat (kesetiaan) untuk Alloh dan Rosul-Nya. Tidaklah berdosa bagi orang-orang yang berbuat baik, dan Alloh itu maha pengampun lagi maha penyayang.</em></p>
<p>Perlu diketahui, bahwasanya jika kerusakan itu berbenturan dengan suatu kerusakan yang lebih besar lagi, maka yang menentukan mana yang lebih diutamakan begi setiap orang haruslah para ulama&#8217;. Tentang hal ini Ibnu Hazm mengatakan dalam Al Muhalla VII/292: &#8220;Kami telah meriwayatkan dari Ibnu &#8216;Abbas <em>rodliyallohu &#8216;anhuma</em>, ia berkata: Telah bersabda Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا</p>
<p><em>Tidak ada hijroh setelah penaklukan (kota Mekah) akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat, dan apabila kalian diperintahkan berangkat jihad berangkatlah.</em></p>
<p>&#8230; bersama sekelompok kaum muslimin. Maka jihad hukumnya wajib bagi orang yang memungkinkan untuk bergabung dengan mereka untuk menolong mereka, baik diijinkan oleh kedua orang tua atau tidak. Kecuali jika keduanya atau salah satunya akan terlantar sepeninggalnya, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan orang tuanya yang akan terlantar itu.&#8221;</p>
<p><strong>Inilah hukum taat kepada kalian berdua wahai orang tua</strong>, jika ketaatan kepada kalian itu berseberangan dengan kataatan kepada Alloh, dan ketaatan kepada kalian dalam melaksanakan perintah Alloh, tidak ada ketaatan untuk kalian berdua dan tidak perlu meminta pertimbangan kepada kalian berdua dalam perkara-perkara yang hukumnya fardlu &#8216;ain. Persetujuan atau penolakan kalian berdua tidak dapat mengajukan atau mengundurkan pengamalannya. Akan tetapi persetujuan kalian itu lebih baik dan merupakan kemuliaan bagi kalian di sisi Alloh sedangkan penolakan kalian itu akan membuahkan murka dan siksa dari Alloh, <em>wal &#8216;iyadzu billah</em></p>
<p>Atau mungkin kalian ragu-ragu, apakah jihad pada hari ini hukumnya fardlu &#8216;ain atau fardlu kifayah. Maka untuk mngusir keraguan dengan keyakinan, saya akan menyampaikan secara ringkas pendapat para ulama&#8217; dan juga akan saya sampaikan ijma&#8217; para ulma&#8217; dan kesepakatan empat madzhab Ahlus Sunnah atas fardlu &#8216;ainnya jihad ketika dalam keadaan seperti apa yang kita alami pada hari ini. Sebelum saya sampaikan ijma&#8217; tersebut, saya ingin menjelaskan kepada kalian berdua manakah negeri Islam yang diserang oleh musuh. Saya katakan: Sesungguhnya negara manapun yang pernah berkibar di sana bendera Islam, dan tentara Islam pernah menaklukkannya lalu menjalankan hukum Islam di sana dalam suatu hari atau suatu tahun atau suatu abad maka negara tersebut terhitung sebagai Darul Islam (Negara Islam), oleh karena itu apabila musuh menyerangnya dan merubah hukum-hukumnya lalu mengaturnya dengan hukum kafir, sehingga negara tersebut berubah dari Darul Islam (negara Islam) menjadi Darul Kufri (negara kafir), ketika itulah negara tersebut kita hitung sebagai wilayah Islam yang diserang musuh dan kewajiban kaum muslimin adalah berjihad untuk melawan musuh untuk mengambil kembali negara tersebut dari tangan musuh. Dan di sini saya sebutkan kepada kalian berdua negara-negara yang keadaannya sesuai dengan apa yang saya katakan tersebut. Pertama adalah Andalusia, kemudian Palestina, negara-negara Balkan, negara-negara Kaukasus, negara-negara di seberang sungai (dahulu adalah negara-negara Republik Soviet), sejumlah negara di Asia Timur, Eriteria, Somalia, Iran, Lebanon, Suriah, bagian barat Cina dan masih banyak lagi negara lainnya yang akan sangat panjang jika kita sebutkan semua, yang semua itu bisa tetap jika dikatakan musuh telah menguasainya dan merubahnya dari negara Islam menjadi negara Kafir. Dan di sini saya akan menyampaikan hukum jihad pada hari ini berdasarkan kondisi ini.</p>
<p>Para ulama telah berijma&#8217; bahwasanya salah satu keadaan yang menjadikan jihad fardlu &#8216;ain adalah apabila musuh memasuki negara Islam, ketika itu jihad hukumnya menjadi fardlu &#8216;ain sehingga tidak boleh seorangpun absen dari jihad, yang mana sebelumnya hukumnya adalah fardlu kifayah. ijma&#8217; tentang ini telah dinukil oleh semua fuqoha&#8217; dari berbagai madzhab. Padahal musuh telah memasuki negeri-negeri Islam sejak berabad-abad yang lalu sehingga jihad hukumnya fardlu &#8216;ain, dan tidak ada lagi kewajiban ijin kepada kedua orang tua dalam masalah ini.</p>
<p>Dari madzhab Hanafi: Al Kasani di dalam Bada-i&#8217;ush Shona-i&#8217; VII/97 mengatakan: &#8220;Adapun jika <em>an nafir </em>(kewajiban berangkat jihad) itu berlaku secara menyeluruh lantaran musuh menyerang sebuah negara, ini hukumnya fardlu &#8216;ain bagi setiap indifidu kaum muslimin yang mempunyai kemampuan, berdasarkan firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>انفروا خفافاً وثقالاً</p>
<p><em>Berangkatlah kalian (berperang)baik dalam keadaan ringan maupun dalam keadaan berat.</em></p>
<p>Ada yang mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai <em>an nafir</em> (mobilisasi umum). Dan juga berdasarkan firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ اْلأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوْا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وِلاَ يَرْغَبُوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ</p>
<p><em>Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang yang berada di sekitarnya dari kalangan orang-orang Badui untuk tidak menyertai Rosululloh dan lebih mencintai diri mereka sendiri daripada dirinya.</em></p>
<p>Dan karena jihad itu pada awalnya telah menjadi kewajiban seluruh kaum muslimin sebelum ia ditetapkan <em>an nafir</em> (mobilisasi umum), karena kewajiban jihad itu akan gugur dari sebagian kaum muslimin jika telah ada sebagian dari mereka yang melaksanakannya. Namun apabila <em>an nafir</em> itu berlaku secara umum maka kewajiban itu tidak akan gugur kecuali jika semuanya melaksanakannya. Maka hukumnya menjadi fardlu &#8216;ain bagi semua orang sebagaimana puasa dan sholat. Sehingga seorang budak harus berangkat berjihad tanpa harus ijin kepada majikannya dan seorang wanita harus berangkat berjihad tanpa harus ijin kepada suaminya, karena hal-hal yang dimiliki oleh budak dan wanita yang berkaitan dengan ibadah-ibadah yang hukumnya fardlu &#8216;ain itu tidak termasuk dalam kepemilikan majikan dan suami berdasarkan syareat, sebagaimana puasa dan sholat. Begitu pula seorang anak, ia boleh berangkat berjihad tanpa ijin kepada kedua orang tuanya karena hak kedua orang tuanya tidak berlaku pada hal-hal yang hukumnya fardlu &#8216;ain seperti puasa dan sholat. <em>Wallohu a&#8217;lam.</em>&#8220;</p>
<p>Dari madzhab Maliki: Ibnu Abdil Barr di dalam kitabnhya Al Kafi I/205: &#8220;Jihad hukumnya adalah fardlu &#8216;ain bagi setiap orang yang bisa melakukan perlawanan, berperang dan memanggul senjata dari kalangan orang-orang yang telah baligh dan merdeka. Hal itu ketika musuh menyerang dan memerangi Darul Islam (negara Islam). Jika hal itu terjadi maka wajib hukumnya bagi seluruh penduduk negeri tersebut untuk berangkat berperang baik dalam keadaan ringan maupun dalam keadaan berat, baik yang masih muda maupun yang sudah tua, dan tidak diperkenankan seorangpun untuk tidak berangkat bagi orang yang mampu untuk berangkat baik dia <em>muqill</em> (miskin) atau <em>muktsir</em> (kaya). Dan jika penduduk negeri tersebut tidak mampu melawan musuh mereka maka orang-orang yang tinggal di sekitar mereka wajib untuk berangkat &#8212; baik jumlah mereka sedikit atau banyak &#8212; sama dengan kewajiban orang yang tinggal di negeri tersebut sampai mereka tahu bahwasanya mereka telah memiliki kekuatan yang mencukupi untuk melawan musuh. Begitu pula bagi setiap orang yang mengetahui ketidak mampuan mereka untuk melawan musuh mereka dan ia mengetahui bahwasanya dirinya mampu untuk bergabung dengan mereka dan menolong mereka, maka ia juga wajib untuk berangkan jihad ke sana. Karena kaum muslimin itu semuanya adalah penopang bagi yang lainnya. Sampai apabila penduduk negeri yang diserang dan dijajah oleh musuh itu telah mampu melawannya maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya. Dan apabila musuh mendekati Darul Islam (negara Islam) dan belum memasukinya, hukumnya wajib juga untuk keluar menyongsong mereka.&#8221;</p>
<p>Dari Madzhab Asy Syafi&#8217;i: An Nawawi di dalam Syarah Muslimnya VIII/63 mengatakan: &#8220;Sahabat-sahabat kita mengatakan: Jihad itu pada hari ini hukumnya fardlu kifayah, kecuali jika musuh menduduki sebuah negeri kaum muslimin, maka ketika itu jihad hukumnya fardlu &#8216;ain bagi mereka. Jika penduduk negeri tersebut tidak mencukupi maka orang-orang yang berada di sekitar mereka wajib berjihad bersama mereka sampai jumlah mereka mencukupi.&#8221;</p>
<p>Dari madzhab Hanbali: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Al Fatawa Al Kubro (Al Ikhtiyarot) IV/520 mengatakan: &#8220;Dan adapun <em>qitalud daf&#8217;i </em>(perang defensif), ini adalah bentuk peperangan yang paling besar dalam melawan agresor yang menyerang kehormatan dan agama sehingga hukumnya wajib berdasarkan ijma&#8217;. Karena apabila ada musuh menyerang, yang merusak agama dan dunia, tidak ada sesuatu yang lebih wajib setelah beriman selain melawannya, dan tidak ada lagi satu syaratpun untuk melakukannya, akan tetapi musuh dilawan sesuai dengan kemampuan. Hal ini telah dinyatakan oleh sahabat-sahabat kita dan yang lainnya.&#8221; Beliau juga mengatakan: &#8220;Apabila musuh memasuki negeri Islam maka tidak diragukan lagi atas wajibnya untuk melawannya bagi orang yang berada paling dekat dengan mereka lalu orang yang terdekat selanjutnya, karena seluruh negeri Islam itu ibarat satu negeri. Dan bahwasanya wajib hukumnya untuk berangkat ke sana tanpa ijin kepada orang tua, atau orang yang menghutangi. Perkataan Ahmad tentang masalah ini sangatlah jelas.&#8221;</p>
<p><strong>Terakhir kami simpulkan, wahai para orang tua yang mulia, bahwasanya jihad itu hukumnya fardlu &#8216;ain</strong> dan tidak ada lagi kewajiban untuk ijin kepada kalian, karena haram hukumnya mentaati kalian dalam bermaksiat kepada Alloh. Wahai para orang tua, mengapakah kalian tidak jawab pertanyaanku: Lihatlah Palestina, telah dikuasai musuh dan tidak ada seorangpun yang dapat melawan mereka baik orang yang berada di dekatnya atau yang jauh darinya, lalu apakah jihad hari ini hukumnya fardlu kifayah? begitu pula Andalusia (Spanyol) telah dikuasai oleh musuh sejak berabad-abad yang lalu, denikian pula Chechnya, Kasymir, Pilipina, Birma, Eriteria dan masih banyak lagi tanah kaum muslimin lainnya, seluruhnya dikuasai oleh musuh lalu ajaran Islam dihilangkan dari sana, kaum muslimin dihinakan, ditindas dan disiksa dengan berbagai macam siksaan. Sampai akhirnya kita menerima serangan kaum Salibis yang terbaru dilancarkan terhadap Afghanistan. Apakah setelah itu tetap akan kita katakan bahwa jihad hukumnya adalah fardlu kifayah dan taat kepada kalian untuk tetap tidak berangkat berjihad itu lebih wajib daripada berjihad itu sendiri? Sungguh kami telah berbicara secara maksimal sampai akhirnya kami merasakan kehinaan yang maksimal. Semoga sholawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Rosululloh, juga kepada seluruh keluarganya dan sahabatnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=247&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/14/wahai-para-orang-tua-tidak-ada-lagi-kewajiban-untuk-ijin-pada-hal-hal-yang-hukumnya-fardlu-ain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Menuju Medan Jihad</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/06/jalan-menuju-medan-jihad/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/06/jalan-menuju-medan-jihad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 07:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[idhaat 'ala darbil jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam, yang telah berfirman di dalam kitab-Nya: وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami. Dan sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rosul-Nya yang terpercaya, Muhammad bin Abdillah, pemuka manusia pada generasi awal maupun generasi akhir, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=241&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam, yang telah berfirman di dalam kitab-Nya:</p>
<p>وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا</p>
<p><em>Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami.</em></p>
<p>Dan sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rosul-Nya yang terpercaya, Muhammad bin Abdillah, pemuka manusia pada generasi awal maupun generasi akhir, komandan <em>al ghurrul muhajjalin</em>, juga kepada seluruh keluarga dan sahabatnya, <em>wa ba&#8217;du</em>:</p>
<p>Sesungguhnya banyak kaum muslimin pada hari ini yang telah dapat menerima sepenuhnya bahwasanya jihad itu hukumnya adalah fardlu &#8216;ain karena<span id="more-241"></span> musuh telah menyerang bumi kaum muslimin. Mereka juga dapat menerima sepenuhnya bahwasanya para mujahidin dan umat Islam sangat membutuhkan kepada <em>rijal</em> yang mau membela agama ini, dan membela darah serta kehormatan kaum muslimin.</p>
<p>Akan tetapi kelapangan dada mereka untuk menerima kenyataan ini belum ditindaklanjuti dalam praktek nyata oleh sebagian besar kaum muslimin, untuk bergabung ke bumi jihad? Akan tetapi kelapangan dada mereka untuk menerima kenyataan ini akan sirna dan hilang ketika dihadapkan dengan pertanyaan: Mana jalan menuju bumi jihad? Bagaimana caranya kita agar sampai ke bumi jihad? Namun sebagai jawaban atas pertanyaan ini, kebanyakan kaum muslimin tidak dengan terus-menerus mencari jalan akan tetapi justru mereka malah berpangku tangan, tidak mencarinya dan menipu diri sendiri dengan menganggap bahwasanya ini adalah udzur di hadapan Alloh.</p>
<p>Di sini saya akan membicarakan masalah jalan menuju medan jihad dan bagaimana caranya agar umat ini bisa sampai medan jihad, dan apa yang dimaksud dengan jalan menuju medan jihad.</p>
<p>Sesungguhnya jihad itu pada hari ini dianggap sebagai kekuatan menakutkan yang menggoncang singgasana kaum Yahudi dan kaum Salib. Dan ia adalah hantu yang mengancam dunia, beserta kebudayaan dan keamanannya. Demikianlah sebutan jihad yang tengah ditawarkan oleh kaum Salib. Oleh karena dunia menggambarkan jihad dengan gambaran semacam ini, maka jangan sekali-kali ada seorang muslim yang menyangka bahwa ia akan dapat sampai ke bumi jihad dengan mudah dan gampang, sekali-kali tidak. Akan tetapi ia akan menghadapi berbagai ancaman yang harus ia lalui supaya dia dapat sampai ke bumi jihad. Dan jangan sampai ada seorang muslimpun yang mempunyai anggapan bahwa musuhnya pada hari ini akan menaburi jalannya menuju jihad dengan bunga dan wewangian, lalu mengatakan kepadanya: Silahkan, silahkan, supaya kamu mendapatkan ridlo Alloh dan syurga. Sesungguhnya orang yang mengira bahwa musuhnya akan memperlakukannya seperti ini, dia adalah orang yang bodoh yang tidak memahami tabiat musuhnya yang Alloh <em>ta&#8217;ala </em>terangkan dalam Al Qur&#8217;an, Alloh berfirman:</p>
<p>وَلاَ يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوْا</p>
<p><em>Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai memurtadkan kalian dari agama kalian jika mereka sanggup.</em></p>
<p>Mereka berusaha siang dan malam untuk menghalangi orang-orang beriman dari agama mereka dan dari jihad mereka.</p>
<p>Ini semua bukan untuk melemahkan semangat para <em>rijal </em>yang telah merindukan jihad, sama sekali tidak. Akan tetapi saya ingin mendekatkan gambaran jihad yang hendaknya diletakkan oleh setiap muslim dalam benaknya sebelum ia menempuh jalan menuju medan jihad. Dan hendaknya setiap orang yang ingin pergi ke medan jihad bahwasanya keinginan saja tidak cukup untuk dijadikan udzur di hadapan Alloh. Memang dengan mempunyai keinginan engkau akan terbebas dari sifat munafik, akan tetapi untuk mendapatkan udzur tidak berjihad dihadapan Alloh dibutuhkan usaha-usaha selain keinginan semata. Dan hendaknya semua pemuda Islam juga mengetahui bahwasanya orang-orang yang mempunyai keinginan tulus sebelum mereka telah berusaha dengan segenap kemampuan mereka sehingga mereka dapat masuk ke bumi jihad akan tetapi setelah apa? Yaitu setelah mereka merasakan kelelahan, ketakutan dan perburuan. Mereka mempunyai keinginan yang tulus sehingga Alloh mengabulkan keinginan mereka untuk sampai ke medan jihad.</p>
<p>Oleh karena itu Alloh menghitung menempuh jalan menuju medan jihad itu sendiri sebagai jihad tersendiri. Sehingga Alloh memberikan pahala dan balasan yang sangat besar. Alloh menganggap orang yang keluar ke bumi jihad itu sebagai mujahid dan jika ia mati maka ia mati syahid. Semua keutamaan dan balasan itu diberikan untuk memberikan motifasi kepada umat Islam agar memiliki semangat jihad. Karena mujahid itu apa yang ia inginkan dari jihadnya? Sesungguhnya ia ingin mendapatkan salah satu dari dua hal yang sangat baik, menang atau mati syahid. Maka apabila ia mendapatkan salah satu dari keduanya berarti dia telah mendapatkan kemenangan. Oleh karena itu Alloh <em>ta&#8217;ala </em>dan Rosul <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>menerangkan bahwasanya barangsiapa keluar rumah untuk berjihad, maka ia pasti akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan …</p>
<p>Alloh <em>ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p>وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللهِ يَجِدْ فِي اْلأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَكَانَ اللهُ غُفُورَا رَّحِيمًا</p>
<p><em>Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Alloh dan Rosul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nisa&#8217;: 100) </em></p>
<p>Di dalam ayat ini Alloh menerangkan bahwasanya barangsiapa keluar rumah menuju bumi jihad ia akan mendapatkan tempat untuk berlindung dan rizki yang banyak, dan jika ia mati maka ia telah tetap pahalanya di sisi Alloh yang Maha Mulia, yang tidak akan memberikan balasan selain syurga abadi. Alloh juga berfirman:</p>
<p>وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ثُمَّ قُتِلُوْا أَوْ مَاتُوْا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ</p>
<p><em>Dan orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh kemudian mereka terbunuh atau mati niscaya Alloh akan memberikan rizki yang baik kepada mereka. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar sebaik-baik pemberi rizki.</em></p>
<p>Dan dalam ayat ini Alloh menerangkan bahwasanya orang yang keluar untuk berjihad itu, baik ia terbunuh atau mati, maka ia dijanjikan Alloh akan diberi rizki yang baik …</p>
<p>Dan Alloh <em>ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p>وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِي اللهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَلَأَجْرُ اْلآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ</p>
<p><em>Dan orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh setelah mereka di aniaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia, dan sungguh pahala yang akan ia dapatkan di akherat lebih besar lagi jika mereka mengetahui.</em></p>
<p>Di dalam ayat ini Alloh <em>ta&#8217;ala </em>juga menerangkan bahwasanya Alloh akan memberikan rizki yang baik kepada mujahid dan bukan hanya pahala saja, dan sungguh pahala di akherat itu lebih besar lagi meskipun di dunia ia belum sempat mendapatkan rizki yang baik lantara suatu hikmah yang hanya Alloh saja yang mengetahuinya.</p>
<p>Dan di dalam hadits, Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan permasalahan ini dengan ungkapan yang lebin indah, dan dapat mendekatkan gambaran kepada kita dengan memaparkan kemungkinan-kemungkinan bencana yang akan menimpa kita, dengan tujuan supaya membangkitkan semangat kita untuk keluar berjihad. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dari Abu Malik Al Asy&#8217;ari <em>rodliyallohu &#8216;anhu</em>, ia mengatakan: Saya pernah mendengar Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>مَنْ فَصلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَمَاتَ أَوْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيْدٌ أَوْ وَقَصَهُ فَرَسُهُ أَوْ بَعِيْرُهُ أَوْ لَدغَتْهُ هَامَةٌ أَوْ مَاتَ عَلىَ فِرَاشِهِ أَوْ بِأَيِّ حَتْفٍ شَاءَ اللهُ فَإِنَّهُ شَهِيْدٌ وَإِنَّ لَهُ الْجَنَّةَ</p>
<p><em>Barangsiapa keluar di jalan Alloh lalu ia mati atau terbunuh maka ia syahid, atau terpelanting oleh kudanya atau untanya atau disengat binatang berbisa atau mati di atas kasurnya atau dengan cara apapun yang Alloh kehendaki maka sesungguhnya ia syahid dan ia mendapatkan syurga.</em></p>
<p>Ibnu Muflih mengatakan di dalam kitab Al Furu&#8217;: Di dalam sanad hadits ini ada Baqiyah yang masih diperselisihkan statusnya akan tetapi hadits ini <em>hasan</em> insya Alloh. Ibnu Abi &#8216;Ashim juga mengatakan; Isnad hadits ini hasan lighoirihi. Sedangkan Al Hakim mengatakan; Hadits ini sesuai dengan syarat Muslim. Di dalam sanad hadits ini terdapat Baqiyah dan &#8216;Abdur Rohman bin Tsauban yang mana keduanya adalah dlo&#8217;if. Akan tetapi hadits ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi di dalam Sunannya. Di sana ia mengatakan: Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy&#8217;ari, ia mengatakan: Saya pernah mendengar Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p>إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ مَنِ انْتَدَبَ خَارِجًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ابْتِغَاءَ وَجْهِهِ وَتَصْدِيْقَ وَعْدِهِ وَإِيْمَانًا بِرِسَالاَتِهِ عَلَى اللهِ ضَامِنٌ فَإِمَّا يَتَوَفَّاهُ اللهُ فِي الْجَيْشِ بِأَيِّ حَتْفٍ شَاءَ فَيُدْخِلُهُ اْلجَنَّةَ ، وَإِمَّا يَسِيْحُ فِيْ ضِمَانِ اللهِ وَإِنْ طَالَتْ غَيْبَتُهُ ثُمَّ يَرُدُّهُ إِلَى أَهْلِهِ سَالِمًا مَعَ مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَ غَنِيْمَةٍ قَالَ وَمَن فَصَلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَمَاتَ أَوْ قُتِلَ يَعْنِي فَهُوَ شَهِيْدٌ أَوْ وَقَصَهُ فَرَسُهُ أَو بَعِيْرُهُ أَوْ لَدغَتْهُ هَامَةٌ أَوْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ بِأَيِّ حَتْفٍ شَاءَ اللهُ فَإِنَّهُ شَهِيْدٌ وَلَهُ الْجَنَّةُ</p>
<p><em>Sesungguhnya Alloh &#8216;azza wa jalla berfirman: Barangsiapa keluar di jalan Alloh untuk mencari wajah-Nya, karena membenarkan janji-Nya dan karena beriman kepada risalah-Nya, maka Alloh menjamin akan mematikannya dalam sebuah pasukan dengan cara mati yang bagaimanapun yang Alloh kehendaki sehingga Alloh memasukkannya ke dalam syurga. Atau ia akan terus berjalan dalam jaminan Alloh meskipun lama kepergiannya, kemudian Alloh mengembalikannya kepada keluarganya dalam keadaan selamat dengan membawa pahala dan ghonimah. Beliau bersabda: Dan barangsiapa keluar di jalan Alloh kemudian mati atau terbunuh maka dia syahid, atau ia terpelanting oleh kudanya atau untanya, atau disengat binatang berbisa atau ia mati di atas kasurnya dengan cara mati yang bagaimanapun yang Alloh kehendaki, maka sesungguhnya ia syahid dan ia mendapatkan syurga.</em></p>
<p>Hadits tersebut juga diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdulloh bin &#8216;Atiq <em>rodliyallohu &#8216;anhu</em>, ia berkata: Saya pernah mendengar Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُجَاهِدًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ قَالَ بِأَصَابِعِهِ هَؤُلاَءِ الثَّلاَثُ الْوُسْطَى وَالسَّبَابَةُ وَاْلإِبْهَامُ فَجَمَعَهُنَّ وَقَالَ وَأَيْنَ الْمُجَاهِدُوْنَ فَخَرَّ عَنْ دَابَّتِهِ فَمَاتَ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ تَعَالى أَوْ لَدغَتْهُ دَابَّةٌ فَمَاتَ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ أَوْ مَاتَ حتف أَنْفِهِ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ</p>
<p><em>Barangsiapa keluar rumah untuk berjihad fi sabilillah .. kemudian beliau menunjukkan tiga jarinya, yakni jari tengah, telunjuk dan ibu jari, lalu beliau mengumpulkannya, dan beliau bersabda … dan manakah mujahidin, lalu ia tersungkur dari binatang tunggangannya lalu mati, maka ia pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh, atau dia disengat binatang kemudian ia mati maka pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh, atau dia mati dengan cara apapun maka pahalanya telah ditetapkan disisi Alloh &#8216;azza wa jalla.</em></p>
<p>Dalam sanad hadits ini juga terdapat Muhammad bin Is-haq, akan tetapi ayat-ayat di atas memperkuat hadits-hadits ini dan tidak bertentangan dengannya. Hal ini telah difahami Al Bukhori dan beliau membuat satu bab tersendiri dalam Shohih nya tentang masalah ini, yakni Bab Keutamaan orang yang terpelanting di jalan Alloh lalu ia mati maka di termasuk dalam golongan mereka, dan firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ اْلمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ</p>
<p><em>Dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijroh kepada Alloh dan Rosul-Nya kemudian ia mati maka pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh.</em></p>
<p>وقع artinya adalah وجب. Ibnu Hajar berkata: Yang dimaksud dengan kaliamat <em>[maka dia termasuk golongan mereka]</em> adalah termasuk golongan mujahidin. Sedangkan yang dimaksud dengan firman Alloh <em>[kemudian ia mati]</em> itu lebih bersifat umum daripada hanya sekedar terbunuh atau terjatuh dari binatang tunggangan atau yang lainnya, maka ayat ini cocok dengan judul babnya. Dan Ath Thobari telah meriwayatkan dari jalur Sa&#8217;id bin Jubair, As Suddi dan yang lainnya, bahwasanya ayat ini turun berkenaan dengan seorang muslim yang tinggal di Mekkah, lalu tatkala ia mendengar firman Alloh <em>ta&#8217;ala </em>yang berbunyi:</p>
<p>أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا</p>
<p><em>Bukankah bumi Alloh itu luas sehingga kalian dapat berhijrah ke sana.</em></p>
<p>Ketika mendengar ayat ini ia mengatakan kepada keluarganya, sedangkan dia dalam keadaan sakit: Keluarkanlah aku ke arah Madinah! Maka keluarganya pun mengeluarkannya ke jalan arah Madinah kemudian ia mati di tengah jalan, maka turunlah ayat tersebut di atas. Dan yang benar nama orang tersebut adalah Dlomroh. Hal ini telah saya terangkan dalam kitabku yang membahas tentang sahabat. Sedangkan firman Alloh yang berbunyi <em>[waqo'a: wajaba]</em>. Ia mengatakan: Firman-Nya yang berbunyi:</p>
<p>وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ</p>
<p>Artinya adalah pahalanya telah ditetapkan.&#8221; Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas.</p>
<p>Jika pahala bagi orang yang menempuh perjalanan untuk berjihad saja seperti ini, lalu bagaimana dengan pahala jihad itu sendiri. Alloh tidak menjadikan pahala menempuh jalan menuju jihad dengan memberikan derajat dan jaminan seperti ini kecuali karena Alloh mengetahui bahwasanya perjalanan menuju jihad itu sangat berat. Hal itu karena dua hal: <em>Pertama:</em> Karena ini adalah awal dari kesusahan yang dihadapi oleh seorang mujahid ketika ia meninggalkan keluarga dan hartanya sedangkan jiwanya belum terbiasa dengan kesusahan, <em>Kedua: </em>Karena memotong jalan kaum muslimin menuju medan jihad itu lebih mudah bagi musuh daripada membunuh mujahidin setelah ia waspada dan memanggul senjata.</p>
<p>Dan dalam rangka membakar semangat serta memompa tekad, Alloh memberikan pahala yang sangat besar kepada orang yang menempuh perjalanan menuju jihad, dan Alloh juga menjamin akan memberikan pahala kepada mujahid, jaminan yang tidak meragukan sedikitpun. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Shohih Al Bukhori dan Shohih Muslim, sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh, ia mengatakan: Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam bersabda</em>:</p>
<p>تَضَمَّنَ اللهُ لِمَنْ خَرَجَ فِيْ سَبِيْلِهِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَإِيْمَانًا بِيْ وَتَصْدِيْقًا بِرُسُلِيْ فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ أُرْجِعُهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِيْ خَرَجَ مِنْهُ نَائِلاً مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيْمَةٍ</p>
<p><em>Alloh menjamin orang yang keluar di jalan-Nya tidak ada tujuan lain selain untuk berjihad di jalan-Ku dan karena iman kepada-Ku serta percaya kepada para Rosul-Ku, orang tersebut Aku jamin untuk Aku masukkan ke syurga atau Aku kembalikan dia ke rumahnya yang dia keluar darinya dengan memperoleh pahala dan ghonimah … (Al Hadits)</em></p>
<p>Jaminan kuat yang Alloh berikan kepada orang yang keluar untuk berjihad di jalan-Nya ini merupakan bukti yang nyata atas beratnya perjalanan menuju jihad bagi jiwa, yang dipenuhi dengan berbagai ancaman. Oleh karena itu Alloh ringankan kesulitan ini dengan pahala yang sangat besar.</p>
<p>Atas dasar ini, jika engakau benar-benar mempunyai keinginan untuk berjihad, maka jangan sekali-kali engkau berhenti dengan keinginan saja, karena ini tidak cukup untuk engkau jadikan alasan dihadapan Alloh untuk tidak berjihad, selama engkau mampu untuk keluar atau mampu untuk hanya sekedar melakukan usaha yang ada peluang berhasilnya. Maka berusahalah dan tempuhlah jalan menuju jihad. Dan ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang telah sampai ke bumi jihad itu bukanlah orang-orang yang mempunyai keajaiban, akan tetapi mereka mereka telah berusaha kemudian Alloh memberikan kemudahan kepada mereka sehingga Alloh palingkan pendengaran dan penglihatan orang dari mereka sehingga mereka dapat sampai ke medan jihad.</p>
<p>Dan sungguh jalan menuju medan jihad itu banyak sekali. Misalnya Afghanistan, engkau bisa melalui Pakistan, Iran, Uzbekistan, Tajikistan, Turkmanistan dan Cina. Begitu pula Chechnya, engkau dapat melalui Gorgia, Daghestan, Ingusetia dan Rusia. Kemudian Palestina, engkau dapat melalui Mesir, Yordan,  Lebanon dan Suria. Kemudian Kasymir, engkau bisa melalui Pakistan dan India. Kemudian Indonesia, engkau dapatkan Indonesia dikelilingi oleh lautan dari semua arah. Kemudian Eriteria, engkau dapat melalui Sudan, Atsyubia dan laut merah. Dan lihatlah pula Philipina, Macedonia dan bumi-bumi jihad lainnya, juga memiliki jalan yang sangat banyak sehingga mustahil semua jalan itu tertutup bagi orang yang mempunyai tekad untuk berangkat ke medan jihad. Maka berfikirlah, atas ijin Alloh <em>ta&#8217;ala </em>engkau akan sampai ke medan jihad.</p>
<p>Dan umat Islam ini jumlahnya adalah satu milyar, sehingga seandainya ada satu juta saja dari kaum muslimin yang mau berusaha pergi ke medan jihad tentu dapat dipastikan seratus ribu orang di antara mereka yang sampai ke tujuan. Dangan jumlah itu<em> insya Alloh</em> seluruh medan jihad akan tercukupi.</p>
<p>Akan tetapi umat Islam seluruhnya berpaling dari jihad dan beralasan bahwasanya jalan menuju medan jihad telah tertutup. Padahal Alloh telah menolak alasan-alasan kita dan telah menjadikan pahala orang yang mati atau terbunuh dalam perjalanan jihad maka ia syahid. Namun kita ini masih saja mencari-cari alasan-alasan lain untuk mengulur-ulur waktu dan untuk tidak berjihad, semoga Alloh tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang Alloh firmankan dalam ayat yang berbunyi:</p>
<p>وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِن كَرِهَ اللهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ</p>
<p><em>Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:&#8221;Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu&#8221;. (At Taubah: 46)</em></p>
<p>Selain itu kita juga berharap supaya Alloh tidak jadikan termasuk orang-orang yang Alloh sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p>لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاتَّبَعُوكَ وَلَكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ</p>
<p><em>Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah:&#8221;Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu&#8221;. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (At Taubah: 42)</em></p>
<p>Akan tetapi yakinlah wahai saudaraku, demi Alloh jika engkau jujur terhadap dalam mencari jalan jihad niscaya Alloh akan mengabulkan ketulusanmu, dan Dia telah menjamin akan menyampaikan dirimu ke medan jihad, karena Dia telah berfirman:</p>
<p>وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ</p>
<p><em>Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami niscaya Kami tunjuki dia kepada jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=241&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/05/06/jalan-menuju-medan-jihad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Kita Dalam Membela Islam.</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/04/30/peran-kita-dalam-membela-islam/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/04/30/peran-kita-dalam-membela-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 20:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[idhaat 'ala darbil jihad]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Alloh yang menguasai para diktator, dan yang memuliakan serta menolong orang-orang beriman. Dan sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada sebaik-baik mujahidin, dan komandan al ghurrul muhajjalin, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, juga kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau. Wa ba&#8217;du: Pada hari-hari ini, terutama setelah dimulainya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=238&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Alloh yang menguasai para diktator, dan yang memuliakan serta menolong orang-orang beriman. Dan sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada sebaik-baik mujahidin, dan komandan <em>al ghurrul muhajjalin</em>, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, juga kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau. <em>Wa ba&#8217;du</em>:</p>
<p>Pada hari-hari ini, terutama setelah dimulainya perang salib babak baru yang dilancarkan kepada Islam dan kaum muslimin, banyak orang Islam yang bertanya-tanya: <strong>Apa peran yang bisa kita perankan dan yang bisa kita lakukan untuk membela Islam dan kaum muslimin?<span id="more-238"></span></strong></p>
<p>Dan saya yakin, bahwa pertanyaan ini sangat mendesak untuk dijawab karena pertanyaan semacam ini sudah sangat banyak dan sering terlontar, terlebih lagi pada saat sekarang. Pertanyaan ini terus bermunculan mengiringi setiap luka baru yang muncul pada umat ini. Namun saya tidak mengerti apa yang menyebabkan orang-orang itu tidak memahami apa peran mereka di dalam peperangan Islam pada hari ini?!</p>
<p>Meskipun setiap orang yang membaca Al Qur&#8217;an dan Sunnah, hanya dengan sekedar membaca ayat-ayat dan hadits-hadits tentang jihad, pasti akan memahami apa peran yang bisa ia kerjakan dalam peperangan ini. Dan saya tidak akan memaparkan secara panjang lebar nash-nash yang sangat banyak dari Al Qur&#8217;an maupun dari Sunnah yang menjelaskan peran setiap muslim dalam peperangan. Akan tetapi, saya akan membawakan satu nash hadits saja yang di sana Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>menjelaskan peran setiap muslim dalam peperangan dengan ungkapan perintah yang wajib dilaksanakan, dan kewajiban tersebut tidak akan pernah gugur dari tanggung jawab setiap <em>mukallaf</em>.</p>
<p>Telah diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Al Hakim dalam Mustadrok-nya, dan juga yang lainnya, dari Anas <em>rodliyallohu &#8216;anhu</em>, ia berkata: Bersabda Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>جَاهِدُوا اْلمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ</p>
<p><em>Perangilang orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lisan kalian.</em></p>
<p>Sedangkan dalam riwayat An Nasa-i kalimat [أنفسكم ] <em>dengan jiwa kalian</em>, diganti dengan kalimat [وأيديكم ] <em>dan dengan tangan kalian</em>. Al Hakim mengatakan: Hadits ini shohih, sesuai dengan <em>syarat Muslim</em>, namun Al Bukhori dan Muslim tidak meriwayatkannya.</p>
<p>Dalam Nailul Author VIII/29 Asy Syaukani mengatakan: &#8220;Sabda Rosul yang berbunyi:</p>
<p>جَاهِدُوْا الْمُشْرِكِيْنَ .. إلخ</p>
<p><em>Perangilah orang-orang musyrik …dst.</em></p>
<p>… merupakan dalil atas wajibnya memerangi orang-orang kafir dengan harta, tangan dan lisan. Sedangkan perintah jihad dengan jiwa dan harta itu telah disebutkan di beberapa tempat dalam Al Qur&#8217;an dalam, sedangkan secara dhohir perintah itu menunjukkan kewajiban.&#8221;</p>
<p>Namun saya di sini bukan mau menerangkan hukumnya, kapan hukumnya menjadi fardlu &#8216;ain dan kapan hukumnya tidak fardlu &#8216;ain. Akan tetapi saya di sini hendak menerangkan tugas dan peran setiap muslim dalam jihad melawan musuh ini. Karena Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebutkan dalam hadits di atas</p>
<p><strong>pokok-pokok pintu jihad melawan musuh yang kafir</strong>, di dalam hadits tersebut beliau menyebutkan tiga dari empat sarana pokok dalam jihad:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pintu jihad pertama:</span></strong> Jihad dengan jiwa (secara fisik) atau dengan tangan. Dan ini merupakan tingkatan jihad yang paling tinggi dan paling sempurna. Ibnu Hajar <em>rohimahulloh </em>berkata: &#8220;Sesungguhnya nash-nash Al Qur&#8217;an dan Sunnah itu apabila menyebutkan kalimat jihad secara lepas, dan tidak mengkhususkannya dengan sesuatu, atau tidak menggabungkannya dengan harta atau lisan, maka yang dimaksud adalah jihad dengan pedang berdasarkan kesepakatan para salaf.&#8221; Dan jihad dengan jiwa (secara fisik) itu merupakan tingkatan jihad yang paling tinggi, oleh karena itu Alloh memberikan pahala yang paling sempurna kepadanya dan menetapkan transaksi jual-beli dengan syurga sebagai imbalannya atas jiwa untuk yang pertama, sebagaimana yang disebutkan di dalam surat At Taubah:</p>
<p>إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّة</p>
<p><em>Sesungguhnya Alloh telah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan memberikan syurga kepada mereka.</em></p>
<p>Ini adalah satu-satunya ayat tentang jihad yang menyebutkan jiwa terlebih dahulu daripada harta, hal itu karena nilai perniagaannya sangat mahal sehingga haraganyapun biasanya sangat mahal juga.</p>
<p><strong>Dan di antara cabang jihad dengan jiwa (secara fisik) adalah; setiap orang yang beriman mempunyai kewajiban untuk <em>ribath</em> (tinggal di perbatasan), <em>tadrib</em> (melatih) mujahidin, menyiapkan mereka, memantau mereka di medan-medan jihad, dan amalan-amalan fisik lainnya</strong> yang menurut kesepakatan para ulama&#8217; hukumnya pada saat sekarang ini fardlu &#8216;ain bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan. Karena apabila musuh menyerang negeri kaum muslimin maka jihad hukumnya fardlu &#8216;ain bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pintu jihad kedua:</span></strong> Di antara sarana jihad yang disebutkan oleh Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>dalam hadits di muka adalah <em>jihad dengan harta</em>. Jihad dengan harta ini sering disebutkan di dalam ayat-ayat jihad dalam Al Qur&#8217;an. Dan seringkali harta ini disebutkan lebih duluan daripada jiwa, akan tetapi bukan berarti jihad dengan harta itu lebih tinggi derajatnya daripada jihad dengan jiwa (secara fisik), sekali-kali tidak. Akan tetapi hal itu karena yang diwajibkan untuk berjihad dengan harta itu umat Islam secara keseluruhan, karena jihad secara fisik itu cukup dilaksanakan oleh kaum laki-laki jika sejumlah orang dari mereka berangkat berjihad. Akan tetapi harta, tidak dapat mencukupi mujahidin kecuali jika umat Islam secara keseluruhan bahu-membahu mengeluarkan hartanya untuk mujahidin, yang mana harta ini terhitung sebagai bahan bakar jihad. Maka kalangan yang diwajibakan untuk berjihad dengan harta ini lebih banyak daripada kalangan yang diwajibkan untuk berjihad secara fisik. Oleh karena itu didahulukannya penyebutan jihad dengan harta itu dalam ayat-ayat jihad itu dikarenakan luasnya kalangan yang diwajibkan untuk melaksanakannya, yang mencakup kaum laki-laki, perempuan, pemuda, orang tua, anak kecil dan orang dewasa, <em>wallohu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Dan seorang mukmin tidak mesti mengeluarkan harta yang sangat banyak untuk dapat melaksanakan jihad dengan harta ini, akan tetapi hendaknya ia melaksanakannya sesuai dengan kadar yang dapat menggugurkan kewajibannya di hadapan Alloh <em>ta&#8217;ala</em>. Karena yang dimaksud dalam jihad dengan harta ini, ketika hukumnya fardlu &#8216;ain, adalah hendaknya engkau melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadamu dan hendaknya engkau mengeluarkan hartamu sebanyak yang menurut keyakinanmu engkau telah melaksanakan kewajiban yang Alloh bebankan kepadamu, meskipun hanya sedikit. Hal itu sebagaimana sabda Rosululloh <em>shollallou &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An Nasa-i dari Abu Huroiroh <em>rodliyallohu &#8216;anhu</em>, bahwasanya Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p>سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ</p>
<p><em>Satu dirham dapat mengalahkan seratus ribu dirham.</em></p>
<p>Para sahabat bertanya: Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rosululloh? Beliau menjawab:</p>
<p>رَجُلٌ لَهُ دِرْهَمَانِ فَأَخَذَ أَحَدَهُمَا فَتَصَدَّقَ بِهِ وَرَجُلٌ لَهٌ مَالٌ كَثِيْرٌ فَأَخَذَ مِنْ عَرَضِ مَالِهِ مِائَةَ أَلْفٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا</p>
<p><em>Seseorang memiliki dua dirham lalu ia sedekahkan sati dirham, dan ada lagi seseorang yang mempunyai harta banyak sekali lalu ia sedekahkan seratus ribu dirham.</em></p>
<p>Alloh itu tidak menerima sedekah berdasarkan banyaknya, akan tetapi Alloh menerimanya berdasarkan kualitasnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, ketika Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>ditanya tentang sedekah apa yang paling utama, beliau menjawab:</p>
<p>جُهْدُ الْمُقِلِّ</p>
<p><em>Sedekah orang yang sedang kesusahan.</em></p>
<p>Artinya adalah sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang membutuhkan harta sedangkan dia tidak memiliki harta kecuali sedikit. Maka bertaqwalah anda kepada Alloh, dan bersedekahlah sesuai dengan kelapangan hatimu, bukan hanya untuk sekali saja akan tetapi hendaknya engkau sisihkan secara rutin dari penghasilanmu untuk jihad selama jihad itu masih ada dan mujahidin membutuhkan harta.</p>
<p><strong>Dan diantara cabang jihad dengan harta juga, bagi orang yang tidak memiliki penghasilan dan juga tidak memiliki harta untuk dia infakkan, adalah mengumpulkan dana jihad</strong> dari orang-orang kaya, baik dari kaum wanita, anak-anak, orang-orang khusus dan orang-orang awam. Dan bagi orang yang tidak dapat mengumpulkan dana, ia dapat memberikan motifasi kepada orang lain untuk berjihad dengan hartanya, dan menghimbau kaum muslimin agar tidak pelit jika mereka dimintai dana.</p>
<p><strong>Dan di antara cabang jihad dengan harta juga adalah bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mengelola harta </strong>hendaknya mengumpukan modal (saham) lalu membuat sebuah proyek usaha yang keuntungannya diberikan kepada mujahidin secara berkala.</p>
<p>Dan di sana masih banyak lagi cabang jihad dengan harta, namun dari contoh-contoh di atas sudah cukup untuk menjelaskan yang dimaksud jihad dengan harta.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pintu jihad ketiga:</span></strong> Di anatara sarana jihad yang pokok, yang disebutkan dalam sabda Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>di depan adalah jihad dengan lisan. Jihad dengan lisan ini mempunyai peran yang sangat besar, bahkan terkadang memiliki perang lebih besar daripada jihad secara fisik, saya katakan terkadang dan bukan selamanya. Sebagaimana sabda Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim:</p>
<p>أُهْجُوْا قُرَيْشاً فَإِنَّهُ أَشَدُّ عَلَيْهِمْ مِنْ رشقٍ بِالنَّبْلِ</p>
<p><em>Makilah orang-orang Quraisy, karena makian itu lebih menyakitkan mereka daripada tusukan tombak.</em></p>
<p>Maka, jihad dengan lisan itu mempunyai peran yang sangat besar, dan ini merupakan tahapan yang pertama sebelum dilakukan jihad secara fisik dan jihad dengan harta. Orang itu tidak dapat dimotifasi untuk berjihad secara fisik kecuali dengan lisan, dan tidak dapat diberi motifasi untuk berjihad dengan harta kecuali dengan lisan. Dengan demikian jihad dengan lisan itu memiliki peran yang sangat besar, dan ini adalah satu-satunya jihad yang dapat dilakukan oleh semua kalangan <em>mukallaf</em>, karena semua <em>mukallaf</em> dapat berjihad dengan lisannya dengan cara apapun.</p>
<p><strong>Dan di antara cabang dari jihad dengan lisan adalah memberikan penjelasan tetang hakekat serangan kaum salib yang dilancarkan terhadap Islam,</strong> membela mujahidin dan mempertahankan kehormatan mereka. Hal itu dapat dilakukan di tengah-tengah keluarganya, di kalangan orang-orang awam di forum-forum, di masjid-masjid, di tempat-tempat kerja dan di sekolahan-sekolahan. Setiap muslim wajib untuk berjihad dengan lisannya sesuai dengan kemampuannya, dan jihad dengan lisan itu tidak ada syarat apapun untuk melakukannya. Bahkan setiap kata-kata yang diketahui oleh seorang <em>mukallaf</em> dapat menyingkap kedok orang-orang salib, atau dapat membantu mujahidin maka wajib baginya mengucapkannya dan menjelaskannya kepada orang lain, <em>wallohu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong>Dan di antara cabang jihad dengan lisan adalah menulis dan menyebarkan produk yang mengandung materi yang dapat memotifasi jihad dalam semua bentuknya,</strong> baik buku, kaset, bulletin dan lainya. Dan bagi orang yang tidak mempunyai kemampuan menulis buku hendaknya menyebarkannya baik dengan tangan, dengan faks atau dengan email. Dan di antara jihad dengan lisan juga adalah menulis makalah di majalah-majalah, bulletin-bulletin, tabloid-tabloid, menulis di internet, surat-menyurat melalui email kepada ribuan manusia, membela Islam di setiap kesempatan. Sarana jihad dengan lisan ini banyak sekali dan saya telah memberikan contoh-contohnya yang dapat menjelaskannya, <em>wallohu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pintu jihad keempat:</span></strong> Di antara sarana jihad yang pokok adalah memerangi musuh dengan hati. Dan secara urutan dan urgensi jihad ini adalah yang paling pertama dan yang paling utama. Akan tetapi di sini saya letakkan pada urutan keempat karena Nabi <em>shollallohu &#8216;alaihi wa saalam </em>tidak menyebutkannya di dalam hadits yang sedang kita bahas ini. Namun, jihad dalam bentuk ini merupakan salah satu rukun Islam dan Alloh tidak akan menerima Islam seseorang melainkan dengannya. Dan nash-nash yang menerangkan apa yang dimaksud dengan memerangi musuh dengan hati ini banyak sekali. Pertama kali yang dimaksud dengan jihad hati adalah membenci orang-orang kafir beserta ajaran-ajaran mereka, membenci orang-orang yang berwala&#8217; (loyal) kepada mereka, tidak mencintai mereka, mengkufuri mereka dan mengkufuri peribadahan-peribadahan mereka. Apabila jihad hati ini hilang dari seseorang terhadap musuhnya maka ia kafir terhadap Alloh yang Maha Agung. Alloh <em>ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p>لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</p>
<p><em>Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (Al Mujadilah: 22)</em></p>
<p>Dan Alloh berfirman mengenai <em>millah Ibrohim</em>:</p>
<p>قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَآؤُا مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ</p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:&#8221;Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Alloh, kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Alloh saja. (Al Mumtahanah: 4)</em></p>
<p>Dan Alloh <em>ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p>فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقُى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ</p>
<p><em>Barangsiapa mengingkari thoghut dan beriman kepada Alloh maka ia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat yang tidak akan terputus, dan Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui. </em></p>
<p>Dan ayat-ayat yang menunjukkan bahwasanya jihad hati terhadap musuh itu merupakan salah satu rukun dalam agama Islam ini banyak sekali dan di sini tidak mencukupi tempatnya untuk kami sebutkan seluruhnya.</p>
<p>Inilah penjelasan singkat tentang tugas-tugas yang menjadi tanggungan setiap muslim yang <em>mukallaf</em> pada saat-saat sekarang ini dalam melawan serangan kaum salib yang telah dimulai sejak satu abad yang lalu, dan telah berkecamuk serta menyeringaikan taringnya pada hari Ahad, 19-7-1422 H, yaitu ketika mereka membombardir pemerintahan Islam Afghanistan. Kami memohon kepada Alloh agar membendung makar orang-orang dholim, dan memenangkan agama-Nya dan para wali-Nya, serta meninggikan <em>kaliamat-</em>Nya.</p>
<p>Saya akhiri penjelasan ini dengan peringatan singkat, yaitu hendaknnya kita tidak melihat kepada hadits di atas dan kepada urutan jihad yang Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebutkan, dengan harta, dan dengan jiwa, dan dengan lisan, lalu kita menyangka bahwa urutan ini berarti menunjukkan urutan prioritas. Karena, huruf <em>wawu </em>yang diletakkan di antara macam-macam jihad dalam hadits tersebut tidak menunjukkan urutan akan tetapi hanya menunjukkan <em>&#8216;athof </em>semata. Sehingga didahulukan atau diakhirkannya jenis jihad di dalam penyebutannya pada hadits tersebut tidak menunjukkan prioritas. Karena secara urutan jihad hati adalah yang paling besar, kemudian setelah itu adalah jihad dengan jiwa (secara fisik), kemudian setelah itu adalah jihad dengan harta, kemudian dengan lisan. Namun terkadang bagi orang-orang tertentu jihad dengan lisan itu lebih didahulukan daripada jihad dengan jiwa (secara fisik), atau jihad dengan harta didahulukan daripada jihad secara fisik, demikianlah. Akan tetapi hukumnya secara umum urutan yang saya sebutkan ini adalah urutan yang berdasarkan pemahaman dari nash-nash Al Qur&#8217;an dan Sunnah, <em>wallohu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Maka, hendaknya setiap hamba takut kepada Alloh, dan hendaknya ia mengetahui bahwasanya Alloh <em>ta&#8217;ala </em>akan menanyainya tetantang jihadnya. Jika ia melalaikannya dan melaksanakan jihad yang paling rendah, yaitu jihad dengan lisan, dan meninggalkan jihad yang paling tinggi, yaitu jihad secara fisik, maka semacam ini tidak dapat menggugurkan kewajiban yang ada di atas pundaknya. Dan ketahuilah bahwasanya sesuatu yang paling rendah itu sama sekali tidak dapat menggugurkan yang paling tinggi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=238&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/04/30/peran-kita-dalam-membela-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang terasing yang dirindukan</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/03/10/yang-terasing-yang-dirindukan/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/03/10/yang-terasing-yang-dirindukan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 11:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh di awal kemunculannya Islam dalam keadaan asing dan kelak akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Islam akan kembali berpusat ke dua masjid (masjid Al Haram dan Masjid Nabawiy). Sebagaimana seekor ular akan kembali masuk ke dalam lubangnya. (HR Muslim dan Ibnu Mundah). Istilah ghuroba sangat populer dikalangan aktfis Islam dan penggiat dakwah. Istilah ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=236&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>Sungguh di awal kemunculannya Islam dalam keadaan asing dan kelak akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Islam akan kembali berpusat ke dua masjid (masjid Al Haram dan Masjid Nabawiy). Sebagaimana seekor ular akan kembali masuk ke dalam lubangnya. (HR Muslim dan Ibnu Mundah).</em></p>
<p>Istilah ghuroba sangat populer dikalangan aktfis Islam dan penggiat dakwah. Istilah ini memiliki tren tersendiri dikalangan mereka. Begitu familiarnya, banyak orang berebut<span id="more-236"></span> ingin memiliki istilah ghuroba; kelompok kajian, nama produk, yayasan, pondok pesantren dan masih banyak yang memasang kata ghuroba sebagai identitasnya.</p>
<p>Ghuroba menjadi rebutan para penggiat dakwah bukan karena menjanjikan keuntungan duniawi, bukan pula karena ia sebuah jabatan prestige. Tetapi, lebih dari itu Rasululloh Saw telah memberikan kabar gembira kepada Ghuroba, mereka akan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Beliau bersabda “ islam bermula dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing seperti keadaan semula. Maka berbahagialah al ghuroba. (HR Muslim).</p>
<p><strong>Siapakah Ghuroba</strong></p>
<p>Dalam bukunya, Al Ghuroba Al Awwalun, Syaikh DR. Salman al-Audah panjang lebar menerangkan makna Ghuroba. Ringkasnya, lafazh ghariban; yang merupakan derivasi dari lafazh al-ghurbah memiliki dua makna : pertama, makna secara fisik seperti seseorang hidup di negeri orang lain (bukan negerinya sendiri) sebagai orang asing. Kedua, bersifat maknawi –makna inilah yang dimaksud disini yaitu bahwa seseorang dalam keistiqomahannya, ibadahnya, berpegang teguh pada risalah Islam dan menghindari fitnah-fitnah yang timbul adalah merupakan orang yang asing ditengah-tengah kaum yang tidak memilik prinsif seperti dia. Keterasingan ini bersifat relatif sebab terkadang seseorang merasa asing di suatu tempat namun tidak ditempat lainnya, atau pada masa tertentu merasa asing namun pada masa lainnya tidak demikian.</p>
<p>Syaikh Salman menjelaskan, hadits-hadits yang membicarakan ghuroba, mengarah pada sebuah kesimpulan yaitu; apabila seseorang istiqomah berpegang teguh dengan keilmuan dan istiqomah dalam mengamalkannya maka akan sedikit orang yang akan sepaham dengannya. Sebaliknya semakin banyak orang yang bersebrangan pemikiran dan karakter dengannya, ia akan dicela. Jika ia mengajak orang lain untuk mengikuti apa yang ia bawa, maka akan sedikit orang yang mau memnuhi seruannya. (Al-ghuroba’ Awwalun hal 24). Inilah yang ditegaskan oleh Rasul dalam sabdanya, “  Thuba (beruntunglah) orang-orang asing.” Ada yg bertanya, “siapakah al-ghuraba’, yaa Rasululloh?” Rasul menjawab, “mereka adalah orang-orang yang senantiasa shaleh dalam komunitas masyarakat yang rusak. Orang yang mendurhakainya lebih banyak dari pada orang yang mentaatinya.” (HR. Imam Ahmad, Thobroniy dan Al Baihaqiy, juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Mubarok dalam kitab Zuhudnya).</p>
<p>Awal kemunculan generasi ghuraba’ ditandai dengan sidikitnya orang-orang yang mau menyambut dakwah yang benar dan sulitnya, serta banyaknya aral melintang ketika akan komitmen dengan ajaran ideologi yang diajarkan Rasulullah Saw. Seperti halnya keadaan awal-awal Islam muncul di jazirah Arab. Keterasingan, kesulitan, intimidasi dan perlawanan masyarakat yang pernah dialami oleh generasi awal Islam, juga akan dirasakan oleh generasi Ghuraba’ dikemudian hari.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Karakter Generasi  Ghuraba’</strong></p>
<p>Sebagai generasi Rabbaniy, generasi yang mengusung dan memperjuangkan ide-ide serta ideologi langit, al ghuraba’ memiliki ciri khas yang mengistimewakannya dengan golongan atau generasi lainnya. Klaim diri sebagai generasi ghuraba’ harus dibuktikan dengan menyatunya sifat-sifat al Ghuraba’ dalam diri seseorang. Jika tidak, itu hanya sebatas klaim, ia bukan termasuk generasi Ghuraba’.</p>
<p>Diantara sifat dan karakter generasi ghuraba’ yang disimpulkan oleh para ulama dari nash-nash syar’i adalah (lihat Al ghuraba’ Awwalun, Syaikh Salman dan Manhajul Ghuraba’ fie Muwajahah al jahiliyah, Syaikh Abdul Majid dan Kitab al Gguraba’ Imam Al Ajiri);</p>
<ol>
<li>komitmen dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah Saw</li>
</ol>
<p><em>beruntunglah orang yang terasing (yaitu) orang-orang yang berpegang teguh pada kitabullah, ketika orang-orang sudah mulai meninggalkannya. Dan berpegang teguh dengan (memahami) asunnah, ketika ia dipadamkan. (HR. Ibnu Waddhah.</em></p>
<p>Ketika ditanya siapakah Ghuraba’, Rasulullah Saw menjawab, “ <em>yaitu orang-orang yang berusaha memperbaiki sunnahku yang telah dipadamkan oleh manusia sepeninggalku.” (HR. Tirmidzi).</em></p>
<p>Sufyan At Tsauri berkata, “<em>mintalah nasihat kepada orang-orang yang memegang teguh sunnah Rasulullah Saw karena mereka adalah Al Ghuraba’.” (lihat Syarhu Ushul al I’tiqad, 1/64)</em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Ghuraba’ adalah orang-orang yang terusir dari kabilahnya/tempat tinggalnya. Terkadang, mereka harus rela meninggalkan kampung halamannya, demi menyelamatkan Diennya.</li>
</ol>
<p>“generasi yang paling dicintai Alloh Swt adalah al Ghuraba’. “ada yang bertanya, “siapakah al ghuraba’..?” Beliau menjawab, “yaitu orang-orang yang lari menyelamatkan mereka. Kelak dihari kiamat Alloh akan membangkitkan mereka bersama ‘Isa bin maryam.” (HR. Abdullah bin Imam Ahmad).</p>
<p>Lain waktu ketika ditanya, siapa al ghuraba’, Rasul Saw menjawab, “mereka adalah orang-orang yang terusir dari kabilah-kabilahnya.” (Musnad Ahmad 3569).</p>
<ol>
<li>Mereka terasing dan mereka berpegang teguh dengan Dien atas dasar petunjuk Salafush-shalih. Mereka terasing karena menjauhi kesesatan, tidak rela bergaul dengan orang-orang fasik, mengahramkan dirinya untuk tunduk dibawah kendali thagut dan para durjana yang berkuasa, karena mereka menjadikan al haqq (Wahyu Alloh) sebagai ideologi hidupnya, bukan undang-undang (baca: sampah pemikiran) para penguasa lalim. Alloh berfirman :</li>
</ol>
<p><em>“dan diantara orang-orang yang kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan hak yang itu pula mereka menjalankan keadilan.” (QS. Al A’raf 181).</em></p>
<p>Para ulama tafsir, diantaranya; Al Baghawi, dan Ath Thibary, menjelaskan ayat ini, “<em>ada sekelompok umat ini yang memberi petunjuk, dan mereka menjadikan kebenaran itu sebagai panduan dalam menghukumi perkara yang dihadapi umat manusia. Ibnu Abbas bertutur, mereka adalah umat Muhammad Saw yang berhujrah dan orang-orang yang senantiasa mengikuti kebaikan mereka.”</em></p>
<p>Ka’ab bin ahbar menggambarkan keterasingan Ghuraba’, ”<em>beruntunglah mereka, orang-orang yang meliahtnya memandang rendah kepada mereka; jika Ghuraba meminang, orang-orang tidak tertarik menjadikan mereka menantu/suami; jika Ghuraba’ meninggal, manusia tidak merasa kehilangan.” (kitab Al Ghuraba’, al Ajiri, hal 8).</em></p>
<p>Ya, karena Ghuraba bukan orang yang mapan secara ekonomi, karier dunianya tidak bisa dibanggakan, pun bukan keturunan bangsawan dan tidak mempunyai nasab yang patut dibanggakan. Tapi mereka adalah orang asing ditengah kaum dan kerabatnya, karena ia telah mewakafkan dirinya untuk memperjuangkan dan komitmen dengan dienullah berdasarkan faham salafush-shalih.</p>
<ol>
<li>mereka iatiqomah dalam kesholehan, tidak terpengaruh oleh situasi dan senantiasa mengadakan perbaikan (ishlah).</li>
</ol>
<p><em>“Thuba (beruntunglah) orang-orang asing.” Ada yg bertanya, “siapakah al-ghuraba’, yaa Rasululloh?” Rasul menjawab, “mereka adalah orang-orang yang senantiasa shaleh dalam komunitas masyarakat yang rusak.” (HR. Thobroniy).</em></p>
<p>Ternyata, al Ghuraba’  yang selalu diperebutkan oleh para penggiat dakwah, bukan nama sebuah kelompok pengajian tertentu, bukan gelar bagi murid Syaikh fulan, bukan pula sebutan yang bisa dimonopoli oleh jama’ah pengajian yang memiliki atribut atau dibimbing oleh ustadz tertentu. Tapi, Ghuraba’ berhak dimiliki siapa pun, selama ia memiliki karakter-karakter yang telah disebutkan diatas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=236&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/03/10/yang-terasing-yang-dirindukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>keberadaan thaifah manshurah</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/03/10/keberadaan-thaifah-manshurah/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/03/10/keberadaan-thaifah-manshurah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 11:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum kita membicarakan lebih kanjut tentang sifat-sifat tha’ifah manshurah, serta pentingnya memperbanyak jumlahnya dibandingkan tha’ifah yg lain. Pertama-tama kami akan mengukuhkan lebih dahulu keberadaan tha’ifah ini dank e syar’ian wujudnya. Maka saya katakan  : telah mutwatir dalil-dalil shahih yang menunjukan keberadaan tha’ifah ini serta kelangsungannya hingga hari kiamat, bahwasannya ia adalah kelompok yang mendapat pertolongan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=232&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum kita membicarakan lebih kanjut tentang sifat-sifat tha’ifah manshurah, serta pentingnya memperbanyak jumlahnya dibandingkan tha’ifah yg lain. Pertama-tama kami akan mengukuhkan lebih dahulu keberadaan tha’ifah ini dank e syar’ian wujudnya.</p>
<p>Maka saya katakan  : telah mutwatir dalil-dalil shahih yang menunjukan keberadaan tha’ifah ini serta<span id="more-232"></span> kelangsungannya hingga hari kiamat, bahwasannya ia adalah kelompok yang mendapat pertolongan yang senantiasa tampil membela kebenaran, tidak membahayakan (menggoyahkan tekad) mereka orang yg menelantarkan mereka atau yg menyelesihi mereka hingga kiamat tiba..</p>
<p>Diantaranya adalah hadits yang datang dalam shahih Muslim :</p>
<p>Dari tsauban, dia berkata : Rasul Saw perbah bersabda :</p>
<p>“<em>akan senatiasa dating dari umatku sekelompok orang yg tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan (tidak menolong) mereka hingga dating ketetapan Alloh, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian”</em></p>
<p>Dan dari sahabat Mughirah bin syu’bah, dia berkata : “ aku pernah mendengar Rasul Saw bersabda “<em>akan senantiasa ada diantara umatku, sekelompok yang tampil ditengah-tengah manusia, sehingga dating kepada mereka ketetapan Alloh, sedang mereka dalam keadaan unggul.”</em></p>
<p>Dan dari Jabir bin Samurah, dari Rasul Saw, bahwasannya Beliau Saw bersabda : “<em>agama ini akan senantiasa tegak, berperang membelanya sekelompok kaum muslimin hingga kiamat tiba.”</em></p>
<p>Dan dari ‘Imran Bin Hani’, dia berkata : “aku mendengar mu’awiyah berkhotbah di atas mimbar : “ <em>aku mendengar Rasul Saw bersabda: “ akan senantiasa ada diantara umatku, sekelompok orang yang menegakan perintah / agama Alloh, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka atau orang yang menyelesihi mereka, sehingga datang ketetapan Alloh, sedang keadaan mereka unggul atas manusia.”</em></p>
<p>Dari Imran bin Hushain, dia berkata : Rasul Saw bersabda : “<em>akan senantiasa ada diantara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebanaran, menang atas orang yang memusuhi mereka, sehingga orang terakhir diantara mereka memerangi Almaseh Dajjal.”</em></p>
<p>dan dari Salamah bin Nufail Al Kindi, dia berkata: ketika aku sedang duduk dekat rasul Saw, tiba2 ada seoarang laki-laki bertanya: “<em>wahai Rasululloh, orang-orang sudah tidak lagi mengurus kuda mereka dan meletakan senjata mereka, dan mereka mengatakan: “tidak ada lagi jihad, perang telah usai!” Rasululloh mengahdapkan wajahnya dan berkata :”Mereka dusta!!. Sekarang telah datang masa perang, dan akan senantiasa ada diantara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebanaran, dan Alloh memalingkan hati banyak kaum pada mereka dan memberi rezeki mereka dari (harta mush) mereka hingga kiamat tiba, sehinggal janji Alloh datang. Kuda itu tertambat pada ubun-ubunnya kebaikan hingga hari kiamat.</em></p>
<p>Dan dari Mu’awiyah bin Qurrah dari ayahnya : Rasulullloh Saw bersabda : “<em>akan senantiasa ada diantara ummatku sekelompok orang yang diberi pertolongan, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga kiamat tiba.”</em></p>
<p>Dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasululloh Saw bersabda : “<em>akan senantiasa ada diantara ummatku sekelompok orang yang konsisten membela agama Alloh, tidak membahayakan mereka orang yang menyelesihinya.</em></p>
<p>Dan dari ‘Amru bin Syu’aib’, dari ayahnya, dia berkata: “pernah suatu ketika Mu’awiyah berdiri diatas mimbar menyampaikan khotbah, lalu dia berkata “ dimana gerangan ulama-ulama kalian?dimana gerangan ulama-ulama kalian? Aku pernah mendengar Rasululloh Saw bersabda: “<em>tidak akan terjadi hari kiamat melainkan ada sekelompok diantara ummatku yang memerangi manusia. Mereka tidak mempedulikan orang yang menelantarkan mereka atau pun orang yang menolong mereka.”</em></p>
<p>Dari Abu Inabah Al Khaulani, dan dia adalah sahabat yang pernah shalat mengahdap 2 kiblat bersama Rasululloh, dia berkata: aku pernah mendengar Rasululloh Saw bersabda : “<em>Alloh akan senantiasa menumbuhkan satu tanaman (generasi) dalam agama ini yang Dia pekerjakan mereka untuk mentaatinya</em></p>
<p>Serta banyak lagi Hadits-hadits dan nash-nash lain yang menunjukan eksistensi Tha’ifah Manshurah ini, bahwasannya mereka senantiasa tampil membela kebenaran .. dan bahwasannya mereka diberi pertolongan, tidak menggoyahkan tekad mereka orang yang memusuhi mereka atau pun orang yang menelantarkan mereka .. hingga hari kiamat tiba.</p>
<p>Keberadaan Tha’ifah ini, tidak diragukan lagi, mempunyai dampak positif dalam jiwa orang-orang mu’min yang tertindas dimuka bumi; membangkitkan harapan dan keyakinan didalam jiwa mereka akan pertolongan Alloh Ta’ala dan janji-Nya, dan bahwa akhir kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang mu’min yang benar keimanannya—walaupun dikemudian hari kelak—meskipun kebathilan bersimaharajalela, menjadi besar tentara dan kekuasaannya.</p>
<p>Di dalamnya juga terdapat khabar buruk bagi sumua thagut-thagut dimuka bumi yang memancangkan bendera permusuhan dan peperangan terhadap Islam dan kaum muslimin .. bahwa tipu daya dan perang mereka akan berbalik mengenai mereka sendiri .. dan bahwasannya mereka, meski telah berusaha semaksimal mungkin, maka kemenangan tetap untuk kalimat Alloh saja .. walaupun setelah beberapa masa nanti.</p>
<p>Ribuan penguasa tiran dan lalim&#8212;disepanjang perjalanan masa&#8212;telah memancangkan peperangan dan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin .. mereka menggerakan ratusan ribu tentara untuk memeranginya .. namun sekarang dimana gerangan mereka? .. dimana gerangan harta mereka yang melimpah ruah?, yang mereka kerahkan untuk memalingkan manusia dari jalan Alloh .. dan di mana Agama Alloh? .. jika mereka bisa meihat!!</p>
<p>Mereka semua telah pergi dan binasa menjadi kayu bakar neraka jahannam, dan jahannam adalah seburuk buruk tempat kembali .. sedangkan Agama Alloh Ta’ala terus tumbuh berkembang, tinggi, luas dan tersebar diseluruh penjuru negeri dan ke segenap anak bangsa meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya!!</p>
<p>Bukan kah itu menunjukan bahwa ada tangan maha kuat yang telah menjamin kelangsungan, penjagaan dan pertolongan bagi Agama ini .. ?!</p>
<p>Ya benar, jika mereka mengetahui</p>
<p>Aloh berfirman yg artinya “<em>mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNYA, walaupun orang kafir tidak menyukai <strong>(Q.S At-Taubat : 32).</strong></em></p>
<p>Alloh Ta’ala berfirman yang artinya : “<em>sesungguhnya orang-orang kafir, menafkahkan (menggunakan) harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Alloh. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka, kemudian mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan”. <strong>(Q.S Al-Anfal : 36).</strong></em></p>
<p><strong>Syubhat dan Jawaban</strong></p>
<p>Barangkali ada yang bertanya: “bagaimana mengkompromikan antara hadits-hadits yang menunjukan keberadaan Tha’ifah Manshurah sampai terjadinya hari kiamat dengan hadits-hadits yang menunjukan bahwa kiamat tidak akan terjadi kecuali terhadap seburuk-buruk makhluk ciptaan, sehingga tidak ada lagi yang mengatakan “ Alloh “ dimuka bumi?”</p>
<p><strong>Jawaban</strong></p>
<p>Bahwa apabila kiamat telah datang dengan tanda-tanda besarnya, dan telah dekat waktu akhirnya, maka Alloh mengirimkan Angin misk (minyak kesturi), sentuhannya seperti sentuhan sutera. Lalu ia tidak meniggalkan seorangpun yang terdapat iman walau seberat biji sawi didalam hatinya kecuali ia akan mencabut ruhnya, maka tinggallah kemudian seburuk-buruk makhluk ciptaan, terhadap merekalah kiamat akan terjadi. Barangkali inilah maksud sabda Nabi Saw “<strong><em>sehingga datang ketetapan Alloh”, </em></strong>jadi ketetapan Alloh yang dimaksud adalah angin yang mencabut ruh orang-orang mu’min.</p>
<p>Sebagaimana keterangn dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dia berkata: Rasululloh Saw bersabda : “<em>sesungguhnya Alloh mengiri angin dari Yaman, (sentuhannya) lebih lembut dari sutera. Angin itu tidak meninggalkan seorangpun yang terdapat iman seberat biji sawi didalam hatinya kecuali ia akan mencabutnya.” (H.R Muslim)</em></p>
<p>Dari Abdurahman bin Syumamah Al-Mahri, dia berkata : pernah suatu saat aku berada di dekat Maslamah bin Mukhallad, disampingnya ada ‘Abdulloh bin ‘Amru bin ‘Ash. Lalu ‘Abdulloh berkata : “<em>tidak aan terjadi kiamat kecuali pada seburuk-buruk makhluk ciptaan. Mereka lebih buruk dari kaum jahiliyah, tidaklah mereka memohon sesuatu kepada Alloh. Melainkan Alloh tidak akan menerimanya. “pada saat mereka tengah asyik berbicara, tiba-tiba datanglah ‘Uqbah bin ‘Amir, lalu Maslamah berkata padanya: “Hei ‘Uqbah, dengarlah apa yang dikatakan ‘Abdulloh. “lalu dia menyahut: “dia lebih tahu. Adapun saya sendiri, maka saya pernah mendengar Rasululloh bersabda : “ akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang berperang menegakan agama Alloh, mengalahkan musuh mereka, dan tidak membahayakan mereka orang yang menyelesihi mereka hingga datang hari kiamat atas mereka, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian.”</em></p>
<p>Mendengar perkataan ‘Uqbah, berujarlah ‘Abdulloh bin ‘Amru: “benar apa yang kau katakan, kemudian Alloh mengirim anginseperti angin misk, sentuhannya seperti sentuhan sutera, dan tidak meninggalkan jiwa yang didalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi, kecuali ia akan mencabutnya, kemudian tinggallah seburuk-buruk manusia, terhadap merekalah kiamat akan terjadi.” (H.R Muslim).</p>
<p>Jadi maksud sabda Nabi Saw <strong>“<em>hingga hari kiamat”</em> </strong>ialah : bahwa mereka harus terus memperjuangkan kebenaran hingga sentuha angin lembut ini mencabut nyawa mereka, yakni ketika kiamat telah dekat dan telah bermunculan tanda-tandanya. Jadi keberadaan mereka hingga hari kiamat dalam hadits tersebut haruslah dibawa pada pengertian : ketika telah muncul tanda-tandanya dan telah dekat sekali dengan saat terjadinya kiamat. Wallohu a’lam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=232&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2010/03/10/keberadaan-thaifah-manshurah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengakuan dari seorang Akhwat Tentang Kesesatan HT</title>
		<link>http://dadangmustofa.wordpress.com/2009/10/21/pengakuan-dari-seorang-akhwat-tentang-kesesatan-ht/</link>
		<comments>http://dadangmustofa.wordpress.com/2009/10/21/pengakuan-dari-seorang-akhwat-tentang-kesesatan-ht/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 22:06:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irhaby 71</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadangmustofa.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaah.. Mungkin ikhawh-ikhwah kita di Al Muhajirun dapat lebih gamblang menjelaskan apa dan bagaimana kesesatan HTI, dan saya rasa beberapa ikhwah di sini ada yang mantan-mantan HTI juga&#8230; Yang saya ketik ini, mungkin bukan disebut bantahan, tapi sekedar menjelaskan apa dan bagaimana pemahaman HTI itu sejauh yang saya ketahui dan sedikit komentar dari saya, maklum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=228&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillaah..</p>
<p>Mungkin ikhawh-ikhwah kita di Al Muhajirun dapat lebih gamblang menjelaskan apa dan bagaimana kesesatan HTI, dan saya rasa beberapa ikhwah di sini ada yang mantan-mantan HTI juga&#8230;</p>
<p>Yang saya ketik ini, mungkin bukan disebut bantahan, tapi sekedar menjelaskan apa dan bagaimana pemahaman HTI itu sejauh yang saya ketahui dan sedikit komentar dari saya, maklum ilmu saya masihlah teramat sangat sedikit.<br />
So, HTI yang saya ketahui selama ini (‘afwan kalau ada yang salah) itu;<span id="more-228"></span></p>
<p>1.Didirikan oleh Taqiyyudin An Nabhani yang—setahu saya—merupakan mantan qodhi di palestina dulu (setelah runtuhnya khilafah-red)</p>
<p>2.Merupakan partai politik, tetapi tidak masuk ke kancah politik Indonesia karena sistem indonesia bukanlah sistem Islam, melainkan sistem kapitalis/sekuler/kufr. Akan tetapi mereka akan masuk ke kancah politik (maksudnya akan ikutan dalam PEMILU) apabila ada peraturan yang membolehkan bagi siapa saja yang menang pemilu untuk mengubah sistem Indonesia sesuai keinginan pemenangnya, maka HTI akan ikut mencalonkan partainya sebagaimana partai-partai lainnya. Mereka memang mengharamkan demokrasi, tetapi mereka membolehkan sistem pemilu karena—kata mereka— pemilu hanyalah ushlub bukan thariqoh dari suatu sistem kafir demokrasi, sehingga—kata mereka—apabila tegak negara Islam, maka dalam memilih pemimpin bisa saja menggunankan sistem pemilu. Itu kata musyrifah—sebutan guru ngaji di HTI—saya dulu.<br />
Padahal sejauh yang saya fahami, misalkan pendapat HTI bahwa pemilu itu bukan thariqoh dari sistem kufur demokrasi melainkan hanya uslub—misalkan saja benar—maka pendapat mereka yang katanya mau ikutan pemilu saat pemenangnya boleh menentukan arah pemerintahan yang akan dipimpinnya padahal masih dalam payung demokrasi, sama saja mereka mengakui adanya sistem demokrasi ini dan ikut serta mengokohkan sistem kafir ini (apalagi belum tentu menang) padahal kita diperintah untuk mengkufuri sistem thaghut dan memusuhi pengusungnya, bagaimana bisa kita justru malah ikut di dalam sistem tersebut? Gak ada bedanya dengan pks</p>
<p>3.Merupakan partai politik yang bercita-cita ingin menegakkan khilafah, akan tetapi metode yang mereka pakai tidaklah dengan jihad sebagaimana yang dilakukan mujahideen saat ini, justru mereka selalu berceloteh tentang “dakwah tanpa kekerasan” (silahkan sebut anti jihad, karena saya menyebutnya demikian), akan tetapi mereka menggunakan metode tholabun Nushroh misalnya dengan menawarkan sistem pemerintahan Islam (versi mereka) pada sekelompok tertentu yang diharapkan dapat mengemban ideologi tersebut, lebih jauh lagi diharapkan dapat diterapkan dalam suatu lembaga negara. Metode ini mereka nisbatkan pada thalabun nushroh yang dilakukan Rasulullah di waktu awal-awal dakwah beliau yaitu menawarkan Islam pada kabilah musyrik Quraisy. Jelas ini bathil karena mereka meniadakan jihad dalam penegakan khilafah bahkan tidak jihad juga walaupun sudah dalam status fardhu ‘ain. Bantahan untuk HTI ini dapat dilihat di kitabnya syaikh abu bashiir “tiada khilafah tanpa tauhid dan jihad” (kalau yang sudah diterbitkan judulnya “menuju tegaknya khilafah”, dapat diunduh sebagaimana link yang disebutkan oleh al akh AK47 RPG</p>
<p>4.Dalam hal akidah&#8230;sebagaimana tarbiyah/pks, mereka tidak mengkafirkan penguasa murtad hari ini sekalipun penguasa2 tersebut telah menampakkan kekufuran yang nyata, di mana yang kita yakini adalah bahwa penguasa sekarang telah murtad dari berbagai sisi kemurtadan. Akan tetapi, HTI lebih ‘maju’ dibandingkan PKS, di mana HTI tidak mau masuk ke parlemen kufr karena di sana penerapan hukum-hukumnya bukan dari Islam dan mereka terang-terangan mengatakan bahwa sistem Indonesia saat ini adalah sistem kapitalis/sekuler/kufr, meskipun mereka tidak mengkafirkan pelaku2nya.<br />
Tapi jangan salah, meski mereka terang-terangan menyatakan kekafiran demokrasi (tapi tidak mengkafirkan pengusungnya), mereka tetap masih bisa bercengkrama dengan para pengembang ideologi demokrasi tulen tersebut. Bahkan dengan para thaghut hukum sekalipun, karena memang HTI tidak mengkafirkan para thaghut dari kalangan polisi, TNI ataupun densus88.</p>
<p>5.Dalam hal akidah juga, mereka menolak hadis ahad sebagai hujjah untuk perkara akidah, di mana—kata mereka—akidah itu adalah sifatnya tasdiqul jazm (pembenaran yang pasti) maka dalil-dalil yang dijadikan hujjah untuk perkara akidah haruslah sesuatu yang qoth’i (pasti) juga—maksudnya mutawatir—, sedangkan pada hadis ahad itu—kata mereka—memiliki unsur dzan sehingga bersifat tidak qoth’i maka tidak layak dijadikan dalil untuk perkara tauhid (na’udzubillaah!!).<br />
Bahkan dalam kitabnya mereka (nidzamul Islam) dikatakan bahwa haram meyakini dalil-dalil yang bersifat dzan tersebut untuk perkara akidah [astaghfirullaah....padahal apabila suatu dalil itu shahih baik matan maupun rawinya (artinya sudah diyakini bersumber dari Rasulullaah), sekalipun dalam bentuk hadis ahad, maka sudah selayaknya tetap diyakini dan dijalankan, karena dzan dalam hadis ahad tidaklah berarti keraguan yang bathil. Karena hadis ahad itu berbeda dengan hadis dha’if, sedangkan yang tidak boleh dijadikan dalil adalah hadis dha’if, dan hadis ahad itu ada tingkatannta; shahih atau pun dha’if]. Maka, konsekuensinya, kebanyakan aktivis HTI tidak percaya—salah satunya—akan adanya siksa kubur.<br />
Jadi jangan heran jika para aktivis mereka tidak mempedulikan/menafikan adanya siksa kubur. Tapi ada juga yang bilang bahwa, hadis mengenai siksa kubur itu berderajat mutawatir, wallahu a’lam, jika ini benar, HTI salah buesar banget ya.. Ini saya dengar ketika salah seorang teman saya (HTI) sedang berdiskusi lewat sms dengan adeknya (musalafisun), dan memperlihatkan smsnya ke saya.<br />
Mengingkari adanya siksa kubur, tentu ini adalah kekafiran karena dalil yang menyatakannya bersifat shahih (sekalipun ahad), akan tetapi karena ini perkara yang bersifat khafiyah (samar) bukan yang bersifat dzahirah, maka sejauh yang saya ketahui tidak serta merta dikafirkan orang yang berpendapat seperti ini (dikarenakan mungkin adanya salah takwil, bodoh, ataupun taqlid) karena harus ada penyampaian hujah (hujah risaliyyah). Maka apabila ia memiliki pokok tauhid, akan tetapi melakukan kekufuran yang bersifat khafiyah (termasuk di dalamnya mengenai asma’ wa shifat), maka al jahlu ataupun at takwil bisa menjadi udzur dan dibutuhkan ta’rif (pemberitahuan) dan bayan (penjelasan) di dalamnya sebagai qiyamul hujjah.<br />
Berbeda dengan perkara-perkara yang bersifat dzahirah (seperti mengganti syari’at Islam dengan syari’at kufr, atau menyembah kuburan atau apa yang dilakukan oleh mereka-mereka yang berada di parlemen syirk) maka tidak perlu adanya penyampaian hujjah karena ia adalah bagian dari ushuluddien, melainkan qiyamul hujjahnya dengan melihat ada tidaknya tamakun (kemampuan) dalam mencari ilmu.</p>
<p>6.Akan tetapi, selain perkara akidah, maka hadis ahad boleh dijadikan dalil. Misalnya dalam perkara hudud atau fiqh. Jadi, aktivis HTI boleh berdoa:<br />
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindunganMu dari siksa neraka jahannam, siksa kubur, ftinah hidup dan mati, dan fitnah masihid dajjal”<br />
Akan tetapi tidak meyakini adanya siksa kubur. Nah lucu kan??</p>
<p>7.Dalam hal akidah juga, definisi mereka mengenai qodho dan qodar menyelishi definisi yang ditetapkan ahlu sunnah, dan menurut saya rumit difahami (saking rumitnya, dulu saya gak faham-faham) di mana—seingat saya—mereka membagi menjadi 2 wilayah; wilayah yang dikuasi manusia, wilayah yang menguasai manusia. Wilayah yang menguasai manusia ada 2 hal yaitu yang bersifat sunatullah seperti jenis kelamin, kematian, jodoh dls; dan yang tidak terkait dengan sunnatullah (??) tetapi tetap diluar kuasa manusia seperti jatuhnya pesawat karena kelalaian manusia sehingga menimpakan kematian, atau kecelakaan-kecelakaan lain yang pada dasarnya disebabkan manusia tetapi diluar kontrol manusia itu sendiri. Yang menguasai manusia itu mereka (HTI) definisikan sebagai qodho.<br />
Adapun mengenai qodar—seingat saya—mereka mengatakan bahwa setiap benda atau segala sesuatu itu memiliki khasiat seperti pisau berkhasiat untuk memotong, naluri untuk memiliki keturunan (istilah dalam HTI disebut gharizatul nau’) dls. Di mana di dalamnya terdapat potensi kebaikan dan keburukan, dan manusialah yang memutuskan untuk menyalurkannya pada kebaikan atau keburukan, dan disinilah ada pahala dan dosa (yang dihisab).<br />
Dari sini, terlihat seakan-akan (???) mereka menafikkan adanya taqdir Allah mengenai perbuatan hamba (memisahkan bahwa perbuatan hamba tidak termasuk taqdir Allah), padahal segala sesuatu yang terjadi adalah karena taqdir Allah sedangkan hamba diberi pilihan atas amalnya, artinya bahwa kita duduk, berdiri, sakit, berobat adalah bagian dari taqdir Allah di mana di dalamnya Allah memberi pilihan untuk kita, seingat saya dulu 5 tahun yang lalu saya baca di bukunya syaikh albani bahwa keinginan hamba sejalan dengan taqdir Allah.<br />
Dan dibukunya beliau juga (“HT, mu’tazilah gaya baru), beliau menyatakan bahwa pendapat HT mengenai iman (termasuk qodho dan qodar) sama saja dengan mu’tazilah karena penyandarannya pada akal saja.<br />
Dan juga sejauh yang saya fahami bahwa iman qodho dan qodar yang difahami oleh ahlu sunnah itu bahwa kita—secara ringkasnya—meyakini bahwa Allah yang menciptakan kita dan menciptakan amal kita serta hamba itu diberi pilihan dengan amalnya. Kalau ada yang mau mengoreksi saya mengenai ini, tafadhol&#8230;</p>
<p>8.Dalam hal akidah juga, sejauh yang saya ketahui—wallahu a’lam, ini seingat saya waktu dulu 4 tahun silam—mereka memahami bahwa yang namanya penerapan syari’at Islam adalah tugas negara bukan jama’ah, maka kolompok tertentu walaupun bisa menerapkan syari’at Islam seperti potong tangan bagi pencuri yang mencapai nishab, atau rajam bagi pezinah yang muhson atau dera’ bagi pezinah yang belum nikah dan berbagai hukum hudud lainnya terhadap jama’ahnya, maka ini tidak boleh dilakukan karena—kata mereka—penerapan syari’at Islam bukan tugas jama’ah melainkan negara.</p>
<p>Maka, jangan heran kalau mereka belum juga sepakat untuk mengakui imaroh khoshoh Afghnaistan, Iraq dan Kaukasus sebagai negara Islam. ISI atau daulah islam Iraq bagi mereka—para aktivis HTI—masih samar karena—kata teman-teman HTI saya—tidak diketahui dengan jelas siapa amir daulahnya (walaupun mujahideen sendiri sudah memberi statement resmi mengenai nama amir dan pendirian daulah Islam Iraq) dan batasan wilayahnya (merekanya aja kali ya yang gak pernah cari info tentang mujahideen, makanya ketinggalan zaman).<br />
Tapi walhamdulillaah, kita tidak perlu pengakuan dari manusia akan negara Islam yang ditegakkan dengan jihad apalagi dari mereka-mereka yang anti jihad, cukuplah ridho Allah yang kita tuju saat penegakan daulah Islam di atas manhaj yang lurus. Beberapa syubhat mereka (HTI) mengenai daulah Islam, saya rasa cukup terbantahkan di buku “deklarasi dulah Islam Iraq”, saya tidak sempat untuk cari thread yang memuat downloadan file tentang deklarasi daulah islam iraq, insyaAllah jika Allah memebri kesempatan lagi mengunjungi forum ini saya posting link-nya.. &#8216;afwan</p>
<p>9.Dalam hal jihad, mereka paling sering berkoar-koar mengenai konspirasi terhadap jihad dan mujahideen. Betapa sering mereka mencurigai aksi mujahideen baik skala lokal maupun internasional sebagai bagian dari aksi intelijen untuk memecah belah kaum muslimin dan—kata mereka—memudahkan kaum kafir dalam menangkap para aktivis Islam. Bahkan dahulu mereka bilang bahwa syaikh ‘abdullaah ‘azzam rahimahullaah sebagai agen Amerika. Betapa lancang mereka berkomentar terhadap diri, niatan dan aksi mujahideen, padahal mereka qho’id (duduk-duduk saja) terhadap pembantaian kaum muslimin di timur dan baratnya.</p>
<p>10.Dalam hal jihad juga, kata mereka—jihad adalah tugas yang diemban oleh suatu negara, bukan oleh suatu jama’ah. Sehingga dari HTI sendiri tidak ada seruan jihad untuk anggota-anggotanya bahkan sekalipun dalam kondisi Iraq, Afghanistan dan semacamnya, mereka bilang bahwa silahkan saja apabila ada salah seorang anggota HTI yang ingin berjihad ke Iraq, Afghanistan dls namun jama’ah HTI sendiri tidak menyerukannya. Akan tetapi apabila kita lihat, sungguh pihak HTI sendiri menggembosi anggotanya dari jihad fie sabilillaah dengan jargon terorisme dan jargon “keharusan adanya khalifah untuk melaksanakan jihad”, sehingga meski pernyataan HTI bahwa tidak melarang dan tidak menyerukan jihad untuk anggotanya, hakikatnya mereka tetap menjadi mukhoodziluun.</p>
<p>11.Pada saat kasus pembantaian palestina di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 yang lalu, yang mereka serukan jihad ke palestina bukanlah anggota-anggota mereka atau pun kaum muslimin secara umum, akan tetapi yang mereka serukan untuk jihad adalah para tahghut dari kalangan polisi dan TNI (sejak kapan thaghut berperang di jalan Allah?), lagi-lagi alasan mereka bahwa jihad adalah tugas yang diemban oleh suatu negara dan karena polisi atau TNI memiliki kemampuan untuk jihad dibandingkan kaum muslimin umum (wew, mereka benar-benar tidak mengakui keberadaan mujahideen ya!).<br />
Padahal jihad ini tetaplah wajib walaupun hanya seorang diri;<br />
“Maka berperanglah engkau (Muhammad) di jalan Allah, engkau tidaklah dibebani melainkan atas dirimu sendiri&#8230;” (An Nisa: 84).<br />
Kalau saja seorang diri tetap Allah wajibkan jihad, di mana kekuatan seorang diri itu tentulah lebih lemah dibanding taraf jama’ah, lalu bagaimana kewajiban jihad dalam taraf jama’ah? di mana dalam jama’ah itu jumlah personel, kekuatan dan persenjataan lebih besar dibandingkan hanya individu saja. Bukankah dengan demikian jama’ah lebih terkena kewajibannya dibandingkan hanya individu? termasuk juga dalam skala negera. Sekali lagi bantahan untuk HTI mengenai ocehan mereka tentang jihad dapat dilihat di bukunya syaikh abu bashiir tersebut.</p>
<p>12.Dalam hal fiqh, sejauh yang saya ketahui, mereka membolehkan musik, membolehkan jabatan tangan laki-laki dan perempuan non mahram dengan dasar 1 hadis tentang bai’atnya shahabiyah kepada Rasulullaah padahal hadis ini sejauh yang saya ketahui masih diperselisihkan penyandaran dhamirnya (gak ngerti juga siy, cuma ada yang bilang seperti itu), bahkan di kitabnya mereka dikatakan bolehnya berciuman laki-laki dan perempuan apabila tidak disertai dengan syahwat (na’udzubillaah!!), untuk yang terakhir ini dibantah oleh HTI sendiri walaupun telah jelas2 ada dalam kitab mereka. Mereka juga menganggap mubah menonton—maaf—CD porno (wal ‘iyadzu billaah!). Kalau mau bantahan fiqhnya yang seperti ini, banyak banget, buku-bukunya musalafisun juga banyak yang membahas tentang ini</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadangmustofa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadangmustofa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadangmustofa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadangmustofa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadangmustofa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadangmustofa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadangmustofa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadangmustofa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadangmustofa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadangmustofa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadangmustofa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadangmustofa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadangmustofa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadangmustofa.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadangmustofa.wordpress.com&amp;blog=3960008&amp;post=228&amp;subd=dadangmustofa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadangmustofa.wordpress.com/2009/10/21/pengakuan-dari-seorang-akhwat-tentang-kesesatan-ht/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f99c141d1bf4d8a959646f19d047b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irhaby 71</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
