Cara Islam Melantik Pemimpin

ISLAM kelihatan lebih bijaksana dari demokrasi Barat dalam hal melantik pemimpin, dengan tidak meminta semua orang ikut serta atau campur tangan dalam memilih pemimpin negara. Sebab tidak semua rakyat tahu menilai tentang siapa pemimpin yang layak dan siapa yang tidak layak untuk mereka. Sedikit saja jumlah orang-orang bijaksana dalam masyarakat dan negara yang benar-benar tahu tentang mana  pemimpin yang benar-benar layak memerintah negara. Sedangkan rakyat yang awam, yang banyak itu, biasanya tidak faham dalam hal-hal kepemimpinan dan kenegaraan. Oleh karena itu menjadi tidak bijaksana kalau mereka diminta memberi suara untuk menentukan pemimpin-pemimpin negara. Karena bila pilihan mereka tidak tepat,  nanti negara akan menjadi korbannya.

Dalam Islam, orang-orang yang diajak untuk menentukan pemimpin negara adalah orang-orang yang memiliki kelayakan sebagai berikut:

  1. Memiliki ilmu pengetahuan Islam yang cukup (khususnya dalam soal-soal kepemimpinan dan kenegaraan) di samping mempunyai takwa dan akhlak yang tinggi. Dengan takwa dan ilmu, mereka mampu menilai dengan tepat dan adil, siapa pemimpin negara yang betul-betul layak.
  2. Memiliki pengaruh dalam masyarakat, sehingga rakyat percaya, segan dan hormat padanya. Pandangannya, kata-katanya serta arahannya dipercaya, didengar, diterima dan ditaati, sekalipun dia belum menjadi pemimpin secara resmi di peringkat manapun. Bila ia sudah memilih seorang pemimpin, masyarakat akan setuju dan yakin dengan pilihannya itu. Yakni tidak akan timbul desas-desus di belakang. Dengan hal yang demikian, akan selamatlah negara dari ketidakpuasan hati rakyat terhadap pemimpin. Dan selamat juga dari pencalonan pemimpin yang tidak layak.

Dalam Islam, orang-orang yang dibenarkan memilih pemimpin, yang memenuhi syarat tadi disebut ahlul halli wal ‘aqdi. Mereka termasuk sebagai ulil amri yang tidak resmi. Yakni pemimpin-pemimpin yang didengar kata-katanya oleh rakyat, walaupun ia bukan pemimpin yang resmi. Seperti para ulama yang beramal dengan ilmunya, yang berakhlak dan dengan sebab itu ia mempunyai wibawa yang tinggi.

Contoh yang jelas tentang pelantikan pemimpin menurut cara Islam dapat dilihat di zaman Khulafaur Rasyidin. Apabila Rasulullah wafat, Sahabat-Sahabat besar yang dijamin Syurga karena takwa dan kehebatan lain telah memilih Sayidina Abu Bakar untuk menjadi Amirul Mukminin. Pemilihan itu diketuai oleh Sayidina Umar Al Khattab selaku ulil amri yang tidak resmi atau anggota ahlul halli wal ‘aqdi. Beliau telah memegang tangan Sayidina Abu Bakar sebagai tanda bai’ah dengannya atas perlantikan beliau menjadi khalifah. Sahabat besar yang lainnya seperti Sayidina Usman, Sayidina Abdul Rahman bin Auf, Sayidina Abu Ubaidah, Sayidina Saad Abi Waqqas, Sayidina Said, Sayidina Zubair dan lain-lain yang menjadi ahlul halli wal ‘aqdi turut setuju. (Selama ini mereka memang dianggap sebagai pemimpin secara tidak resmi oleh masyarakat. Bahkan kalau salah seorang dari mereka yang dilantik menjadi pemimpin, tetap dapat diterima oleh masyarakat di waktu itu seperti Sayidina Umar Al Khattab, Sayidina Usman bin Affan, Sayidina Ali Abi Talib dan Sahabat lainnya). Karena orang yang ditunjuk dan orang yang menunjuk memang sudah berada di hati masyarakat, sudah menjadi pemimpin tidak resmi yang kata-katanya didengar dan ditaati.

Seluruh kaum Muslimin yang terdiri dari orang-orang Ansar dan Muhajirin serta rakyat jelata umumnya setuju dan menurut saja karena mereka merasa Sahabat-Sahabat besar itu lebih tahu dan lebih adil dari mereka tentang soal-soal kepemimpinan dan memilih pemimpin ini. Lagipula bagi rakyat di waktu itu, orang-orang yang menunjuk dan yang ditunjuk sebagai pemimpin itu memang orang orang yang mereka cintai dan yakini. Di mana kalaupun mereka tidak jadi pemimpin resmi, memang sudah dirasakan sebagai pemimpin di kalangan mereka. Sebab mereka itu merupakan tempat rujuk dalam masyarakat.

Rakyat tidak pernah dipanggil memilih untuk menentukan siapakah yang patut memimpin mereka. Semuanya ditentukan oleh Ahlul Halli Wal ‘Aqdi. Apabila Sayidina Abu Bakar wafat, maka Sayidina Umar dilantik oleh Ahlul Halli Wal Aqdi untuk menjadi khalifah. Seperti tadi juga, perlantikan itu diterima dengan senang hati oleh seluruh kaum Muslimin. Sayidina Umar memang sudah di hati rakyat sebelum menjadi pemimpin resmi. Kenaikannya memang ditunggu-tunggu oleh semua. Hati orang memang  padanya. Tidak ada siapa yang mau menggugat atau menentang kepemimpinannya. Kalaupun dilakukan pemilihan dia akan menang tanpa bertanding. Sebab semua orang sudah mengakui kepemimpinannya berdasarkan apa yang sudah dikenal tentangnya. Sayidina Umar tidak perlu menonjol-nonjolkan diri, mengangkat-angkat diri, memuji-muji diri dan melobi untuk menjadi pemimpin seperti yang terjadi dalam negara demokrasi hari ini. Dan memang tidak mungkin semua hal itu terjadi  bagi pemimpin yang bertakwa. Mereka telah menawan hati rakyat karena takwa dan akhlak yang tinggi serta dengan jasa-jasa kepemimpinan secara tidak resmi sebelum ini. Maka untuk menjadi pemimpin resmi, dia tidak memerlukan suara dari rakyat kare na dia memang sudah di hati rakyat.

Dengan keadaan ini, rakyat dalam negara tidak terpecah-pecah menjadi berbagai-bagai partai, tim, camp atau golongan-golongan yang saling berlawanan. Perpaduan dan kesatuan terjalin secara menyeluruh. Demikianlah yang dapat dijayakan dalam negara dan masyarakat Islam tulen. Di mana pemimpin dan rakyatnya sama-sama bertakwa dan soleh-soleh belaka. Maka urusan pemerintahan dan pengurusan negara berjalan dengan mudah dan rapi. Rakyat semuanya taat dan bersatu di bawah satu pemimpin. Pemimpin adil dan tidak pilih kasih. Sentimen golongan, tim, camp dan kepartaian tidak wujud.

Tapi hal yang murni dan indah seperti itu tidak lama bertahan. Di zaman pemerintahan Muawiyah, kemurnian pemerintahan sudah mulai tercemar. Pelantikan pemimpin dibuat atas nama keluarga. Maka mulailah perpecahan menjadi golongan-golongan dalam negara. Di mana mulai wujudnya sistem feodal di dalam masyarakat Islam. Kita berharap akan terjadi sekali lagi pemerintahan Islam tulen di akhir zaman ini. Yakni pemimpin yang diterima dengan hati oleh rakyat. Bukan ditunjuk oleh jari. Kalaupun ia tidak memimpin secara resmi, kata-katanya sudah didengar. Dalam pimpinannya, rakyat tidak lagi berpecah-pecah dan tidak lagi saling berkelahi dan berlawanan antara satu sama lain. Insya ALLAH, pada puncak kebangkitan Islam di Malaysia, kita akan menyaksikan berulangnya sejarah yang indah ini. Yakni pemimpin bertakwa yang memimpin rakyat bertakwa dalam satu pemerintahan Islam yang adil.

Satu Tanggapan to “Cara Islam Melantik Pemimpin”

  1. bayo hasibuan Says:

    terikasih ya atas makalah nya ini dan ianya dapat mempermudah saya demi mencari ilmu yang semoga bermamfaat buat kita semua amin ya robb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: