pemilu dalam Islam


Firman ALLAH SWT:

Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan apapun. (Ali Imran 159)

Urusan mereka (orang Islam)  dimusyawarahkan sesama mereka. (Asy Syura 38)

Rasulullah SAW pun bersabda:

Hajat tercapai bagi mereka yang membuat ‘istikharah’, dan tidak ada penyesalan bagi mereka yang bermusyawarah, dan tidak susah mereka yang berhemat dengan cermat. (Riwayat At Tabrani)

Berdasarkan ayat-ayat ALLAH dan sabda Rasulullah yang tertulis di atas, Islam menggalakkan umatnya mengadakan syura (musyawarah). Karena berdasarkan pengalaman kita, syura memang besar faedahnya kepada hidup kita dan masyarakat. Sebab itu ALLAH sendiri yang memerintahkan supaya syura dipraktekkan. Manusia selalu berhadapan dengan:

1. Masalah-masalah hidup di rumah, dalam masyarakat dan dalam negara.
2. Keperluan-keperluan ekonomi, pendidikan, pembangunan dan lain-lain lagi.
3. Gangguan musuh.
4. Kebuntuan fikiran.

Maka semuanya itu, kalau disyurakan baru dapat menghasilkan keputusan yang sebaik-baiknya, dibandingkan dengan keputusan-keputusan yang dibuat secara pribadi.Arti syura menurut bahasa ialah berunding atau bertukar fikiran. Manakala dari segi istilah syariat Islam, arti syura atau musyawarah ialah bertukar fikiran atau berbincang antara dua orang atau lebih dalam menghadapi hal-hal yang dibenarkan oleh syariat sesuai dengan  adab-adab, cara cara yang syar’i untuk memperoleh hasil yang baik dan benar yang akan menjadi tindakan bersama,  seseorang atau satu kelompok.

Perkara-perkara yang disyurakan itu ialah masalah kehidupan seperti menyelesaikan krisis, masalah ekonomi, pendidikan, ketentaraan, pertanian dan lain-lain lagi. Setiap anggota diminta mengeluarkan fikiran, kemudian dipertimbangkan bersama. Mana pendapat yang benar atau kuat dan tepat alasannya atau lebih munasabah (memungkinkan) dan lebih mendekati kebenaran, maka itulah keputusan syura yang wajib diterima bersama untuk menjadi tindakan bersama, tindakan seseorang atau tindakan suatu kelompok.

Dalam syura, perbincangan mesti dua arah atau lebih. Tidak dikatakan syura kalau satu pihak saja yang berbicara dan memberi pendapat. Syura secara Islam mesti dilakukan dengan bertata-tertib, beradab, berperaturan dan cara-cara yang ditetapkan oleh Islam. Syura yang tidak mengikuti kaedah syar’i tidak dianggap syura Islam walaupun diberi nama syura Islam. Nama tidak penting, yang penting ialah ciri-cirinya.

Berikut ini ialah tata tertib atau disiplin dan adab-adab syura menurut Islam:

  1. Tujuan dan niat anggota syura ialah mencari dan menegakkan kebenaran karena ALLAH. Masing-masing mesti mengawal diri dari maksud riya’, bermegahan, ujub atau untuk hobi semata-mata. Sebaiknya masing-masing mempunyai rasa takut pada ALLAH, kalau-kalau terjadi perbincangan yang tidak tepat dan tidak selaras dengan kehendak ALLAH dan Rasul. Untuk mengelak dari riya’, ujub dan bermegahan, caranya ialah masing masing mengharapkan kebenaran itu datangnya dari orang lain, bukan dari dirinya. Dan dia akan merendahkan diri untuk menerima dan mendukung kebenaran yang sudah ditemui itu.
  2. Sekiranya kebenaran itu keluar dari mulut kita sendiri, segeralah banyak bersyukur pada ALLAH, karena memperlihatkan kebenaran itu kepada kita. Bukankah kita dhaif untuk menemukannya kalau bukan dengan petunjuk dari ALLAH? Dengan ilmu dan keyakinan yang demikian, Islam menyelamatkan majelis syura dari timbulnya rasa sombong, bermegahan, menunjuk kepandaian, merasa diri lebih tinggi, mujadalah (debat tidak menentu), keras kepala, hina-menghina, jatuh-menjatuhkan dan akhlak lain yang keji.
  3. Di waktu seorang anggota syura berbicara, anggota- anggota yang lain mesti menghormati pandangannya dan sama-sama mendengarnya. Biarkan dia menghabiskan bicaranya walaupun  kita tidak setuju pendapatnya. Memotong bicara kawan atau minta dia berhenti sebelum habis berbicara adalah tidak beradab dalam syura. Sikap itu sangat dibenci.
  4. Bila seorang anggota syura selesai memberi pandangannya, ucapkan terima kasih. Kalau didapatkan ucapannya benar, beri tahniah dengan sepotong doa:
    Moga-moga ALLAH membalas kamu dengan kebaikan.
  5. Sekiranya pendapat yang diberi salah, jangan sekali-kali menghinanya. Betulkan dengan mesra dan kasih sayang menggunakan hujah-hujah yang bernas.
  6. Sekiranya kita sendiri yang melakukan kesalahan atau mengeluarkan pendapat yang salah, minta ampunlah kepada Tuhan dan merendah dirilah untuk menerima hakikat kesalahan itu.
  7. Misalnya terjadi perbedaan pendapat yang serius hingga sukar untuk menyatukan pandangan, maka demi perpaduan, pandangan ketua atau pemimpinlah yang mesti diterima.
  8. Dalam syura Islam jangan sekalipun terjadi mujadalah, berburuk sangka, sakit hati, caci maki, berkelahi, lempar kursi, pukul meja, tunjuk pistol, geram, dendam dan sebagainya. Anggota-anggota syura akan sanggup untuk mengalah, bersabar untuk mencari nas (dalil) atau bersikap tawakuf (menerima tidak, menolak pun tidak). Bahkan demi menjaga ukhuwah karena ALLAH, di akhir majelis, masing-masing akan saling bermaaf-maafan dan berbaik sangka serta bersabar untuk menanti bantuan ALLAH dalam masalah apapun yang timbul. Di penutupnya, sama-sama membaca surah Wal ‘Ashr dan doa kifarah, yakni meminta ampun kepada ALLAH. InsyaALLAH dengan cara itu, umat Islam akan senantiasa membuat keputusan yang tepat, bersih dan diberkati ALLAH.

SIAPA ANGGOTA MAJELIS SYURA

Dalam Islam, syarat-syarat untuk menjadi anggota majelis syura sangat dititikberatkan. Tidak semudah syura-syura yang terjadi kini, di mana siapa saja boleh terlibat. Sifat-sifat anggota majelis sangat menentukan bentuk keputusan sesuatu syura. Baik anggotanya, baiklah keputusannya. Tidak baik anggotanya, tidak baiklah keputusannya.

Atas dasar itu, Islam menetapkan beberapa ciri atau sifat-sifat orang yang dapat diajak bersyura. Mereka adalah:

1. Beragama Islam. Dengan orang bukan Islam tidak ada syura (yakni dalam urusan khusus umat Islam saja). Hal itu berdasarkan Hadist Rasulullah:

Mereka yang hendak selesaikan sesuatu urusan maka mereka bermusyawarah yang anggotanya orang-orang Islam. ALLAH bersama mereka dalam menyelesaikan urusan itu. (Riwayat Ath Thabrani)

Orang bukan Islam itu, mereka tidak tahu mana yang hak dan mana yang batil menurut pandangan Islam. Selain itu orang kafir yang memusuhi Islam, kalau terbawa ke dalam majelis syura, akan memberi pandangan-pandangan yang jahat dan beracun serta membahayakan umat Islam. Bagaimanapun dalam Negara Islam, hak-hak orang bukan Islam tidak diabaikan sama sekali. Urusan mereka dibincangkan bersama mereka. Artinya, segala kepentingan bersama dan keperluan mereka disyurakan dengan mereka.

2. Bertakwa. Tidak semua orang Islam layak diajak berbincang. Sebab tidak semua orang Islam mampu memberi fikiran yang adil dan ikhlas dalam perbincangan dan dalam membuat keputusan. Syarat takwa itu amat penting dalam melindungi dan mendorong manusia supaya membuat keputusan yang tepat, bersih dan diberkati.

3. Cerdik, yakni orang yang memiliki buah fikiran yang baik, bernas, sesuai logika, tajam dan tepat. Pandangan dari orang-orang seperti itu saja yang diperlukan. Selain dari mereka itu, tidak usah diundang untuk dibawa berbincang. Sebab mereka akan memberi pandangan yang tidak mengena (tepat). Hal itu membuat majelis tersebut membuang waktu saja. Selain itu, kalau pandangan mereka ditolak, nanti akan timbul kecil hati. Sebab itu lebih baik tidak diajak ke majelis syura.

4. Seorang yang sesuai dengan bidang yang akan dibincangkan. Syarat itu penting diperhatikan supaya orang-orang yang akan membuat keputusan dalam hal yang disyurakan itu, betul-betul orang yang tahu seluk beluk perkara tersebut. Kalau orang pertanian, ditanya fikirannya tentang hal-hal ketentaraan, tentu dia akan memberi jawaban yang tidak tepat. Dan kalau pandangannya diterima sebagai keputusan syura, akan merugikan negara dan masyarakat itu sendiri.

Kesalahan ini nampaknya sudah jadi tradisi dalam masyarakat sekuler sekarang. Bahkan dalam soal-soal agama pun, penyelesaiannya dicari menggunakan kaedah yang salah. Umpamanya, dalam menyelesaikan masalah agama maka dibuat satu seminar dengan tajuk yang berkaitan. Lalu diundanglah di dalamnya segala macam manusia. Yang bukan ahlinya pun ada, yang tidak shalat pun ada, yang tidak cerdik, kaum perempuan, yang buka aurat pun ada dan macam-macam lagi. Bila tiba saatnya memberi pendapat, maka digabunglah pendapat kesemuanya itu, lalu dijadikan sebagai keputusan seminar atau keputusan bersama (resolusi) untuk dijadikan tindakan.

Bagi saya, keputusan itu sungguh meragukan. Dalam Islam Rasulullah bersabda:

Tiada agama bagi mereka yang tidak berakal.

Artinya, di kalangan orang-orang beragama, yang paling cerdik itulah yang paling kuat dan tepat agamanya. Sebab itu perbincangan tentang masalah agama itu hanya layak dibuat oleh orang-orang tersebut. Orang-orang selain mereka tidak dapat diharapkan ilmu dan fikirannya. Tetapi apa yang terjadi sekarang ini, urusan agama bukan ditimbang pada-syarat-syarat tersebut. Sebaliknya dibuat mengikuti selera sekuler. Pelantikan mufti misalnya,  disyaratkan pada faktor senioritas bukan faktor ilmu, ketakwaan, kecerdikan dan pengalamannya. Hasilnya, berawal dari kesalahan tadi, macam-macam kesalahan dalam berfatwa telah dibuat, yang mengakibatkan banyak timbul masalah dalam masyarakat. Apa yang difatwakan meragukan.

JUMLAH ANGGOTA SYURA

Dalam Islam, jumlah anggota majelis musyawarah bukan mesti sampai satu dewan. Syura dapat dibuat oleh paling kurang antara dua orang anggotanya saja. Keputusan perbincangannya dianggap sebagai keputusan majelis syura. Tempat perbincangannya juga bukan mesti di tempat yang dikhususkan, istimewa atau secara resmi. Tetapi syura juga boleh dilakukan seperti berikut ini:

Misalnya seorang ketua (pemimpin) ingin mengadakan syura dengan seorang anggotanya yang cukup layak untuk tujuan itu. Ketika berpikir untuk memanggil anggota tersebut, tiba-tiba dia berjumpa di majelis kenduri. Karena itu, selesai majelis kenduri,  ketua boleh terus memanggil anggotanya itu masuk mobil, mengajak berjalan-jalan sambil berunding hingga persoalan itu selesai. Di situlah mereka membuat keputusan untuk dijadikan tindakan. Itupun dianggap keputusan syura yang sah. Tanpa membuang waktu dan uang yang banyak.

Cara syura seperti itu, sebenarnya akan memberi hasil yang lebih baik daripada syura yang dibuat secara resmi. Sebab terjadi dalam keadaan yang lebih mesra dan lebih bersifat dari hati ke hati. Tetapi tentunya Islam tidak menafikan majelis-majelis resmi, di tempat-tempat resmi dan di waktu-waktu resmi. Semuanya ditimbang menurut keperluan, untung dan rugi, strategi dan kehendak keadaan waktu itu dan sebagainya.

Akhir sekali saya akan uraikan perkara-perkara apa yang boleh dan tidak boleh disyurakan. Karena dalam Islam bukan semua perkara mesti disyurakan. Ada perkara-perkara yang keputusannya hanya dibuat oleh ketua saja, pengikut atau rakyatnya wajib taat dan menerima dengan sepakat. Hal seperti itu banyak terjadi di antara Rasulullah dan para Sahabat. Di mana keputusan dibuat tanpa tanya jawab dan perbincangan dengan siapa pun. Sahabat-Sahabat hanya menerima dengan patuh. Kadang-kadang keputusan, undang- undang atau hukum-hukum yang diarahkan itu memeranjatkan dan tidak difahami. Tetapi karena mereka yakin pemimpin mereka itu mendapat pimpinan langsung dari ALLAH, maka mereka pun dapat taat.

Syura dalam Islam dibenarkan dan digalakkan terhadap perkara-perkara berikut:

1. Perkara-perkara yang belum ditetapkan hukumnya oleh ALLAH SWT. Hukum-hukum yang sudah jelas sarih atau sahih dan qat’i kedudukannya dalam Islam, tidak boleh disyurakan. Seperti tentang wajibnya shalat, puasa, menutup aurat, berjihad, bersilaturrahim dan lain-lain lagi. Demikian juga sebaliknya seperti haramnya arak, judi, zina, buka aurat, bergaul bebas dan sebagainya.

Perkara-perkara itu tidak boleh dimusyawarahkan lagi. Sebab ALLAH sudah membuat keputusan yang tidak boleh dibatalkan dalam musyawarah.

2. Hukum-hukum yang belum lagi diijmakkan oleh ulama mujtahidin yang menjadi pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah.

3. Perkara-perkara yang belum diperintahkan oleh ketua jemaah atau ketua negara. Untuk keputusan-keputusan yang sudah dibuat oleh ketua, dan sudah diperintahkan untuk dilaksanakan, di mana perintah itu tidak bertentangan dengan syariat, tidak boleh disyurakan lagi. Sekalipun arahan itu kita tidak setuju dan tidak faham, namun kalau benar jemaah itu jemaah Islam, tentu mereka dapat taat kepada pemimpin mereka.

4. Perkara yang bukan keputusan dari satu syura yang telah dibuat baik dalam keluarga, jemaah atau negara. Keputusan apapun yang telah diambil oleh syura manapun, tidak boleh disyurakan sekali lagi. Tidak boleh ada satu syura lain untuk menolak satu keputusan syura yang telah diambil, bila keputusan itu dibenarkan oleh syariat. Hal itu berdasarkan firman ALLAH:

Bermusyawarah dengan mereka dalam sesuatu perkara, setelah kamu bulat menerimanya, maka bertawakallah kepada Allah.(Ali Imran: 159)

Bila satu keputusan telah dibuat, jangan ada lagi yang berdalih, ragu-ragu, tidak puas hati dan ingin merombak kembali. Laksanakanlah dengan bertawakkal kepada ALLAH. Hal itu pernah berlaku di kalangan para Sahabat dengan Rasulullah. Yaitu ketika para Sahabat mau merombak satu keputusan syura yang telah dibuat setelah diputuskan bahwa mereka akan menentang musuh Quraisy di luar Kota Madinah (dalam Perang Uhud). Rasulullah berkata, pantang Rasulullah membatalkan keputusan syura.

Contoh lain ialah ketika satu keputusan telah dibuat untuk menjodohkan si pulan dengan seorang perempuan. Tiba-tiba terjadi keraguan dengan keputusan tersebut. Maka dalam Islam, hukumnya tidak boleh membatalkan keputusan pertama itu. Tentang ragu-ragu tersebut hendaklah dihadapi dengan bertawakkal kepada ALLAH. Kecuali dengan alasan-alasan yang dibenarkan oleh syariat, barulah keputusan pertama boleh dibatalkan. Umpamanya, didapatkan lelaki itu penipu, penjahat, berpenyakit dan membuat kerja terkutuk yang lain.

Karena perkara-perkara yang boleh disyurakan itu ialah perkara-perkara yang belum ditetapkan hukum dan caranya oleh ALLAH, perkara yang belum diarahkan oleh ketua dan perkara yang belum diputuskan oleh syura sebelumnya, artinya perkara-perkara itu ialah:

  1. Soal-soal teknik dan style yang wajib dan sunat untuk dapat melaksanakan hukum-hukum ALLAH. Misalnya, dalam melaksanakan shalat boleh dibincangkan tentang tempat wudhuknya, tempat shalat, cara-cara untuk mengajak orang banyak untuk shalat dan lain-lain lagi. Usaha-usaha untuk mengharamkan arak boleh disyurakan, umpamanya berbincang bagaimana untuk membatasi penghasilan arak, penjualannya dan alternatif pengganti arak. Kiaskanlah dengan hal-hal lain seperti cara-cara untuk membangun rumah sakit Islam, di mana, kapan, sebesar apa, bagaimana bentuknya dan sebagainya.
  2. Soal-soal ke arah pelaksanaan perintah ketua jemaah atau negara. Misalnya, ketua mengarahkan pindah. Maka syurakan bagaimana cara-cara perpindahan itu dapat dibuat. Atau ketua arahkan buat program Maulid Nabi, maka disyurakanlah cara-cara menjayakannya.
  3. Syura mengenai perkara-perkara yang mubah hukumnya. Misalnya, pembinaan tempat-tempat wisata, program musafir (ekspedisi), membangun tempat-tempat hiburan yang halal dan sebagainya.

MAJELIS SYUYUKH

Dalam Islam, dasar pemerintahan negara ditentukan oleh majelis tertinggi yang dinamakan Majelis Syuyukh (Dewan Eksekutif). Selain untuk menentukan dasar, majelis itu juga merupakan badan yang mengijinkan atau membuat keputusan terhadap persoalan-persoalan negara yang penting. Sebab itu  disebut juga Majelis Tamfiz (Dewan Perijinan). Misalnya, pemimpin ragu-ragu untuk bertindak terhadap suatu keputusan maka hendaklah dibawa ke Majelis Tertinggi (Syuyukh atau Tamfiz) untuk diputuskan dan diluluskan. Contoh lain ialah tentang hukum-hukum yang tidak jelas dan tentang isu pemimpin serta kepemimpinan negara, maka Majelis Syuyukh yang bertanggung jawab untuk memberi keputusan, melantik atau menggugurkan serta membuat perubahan dari masa ke masa. Anggota Majelis Syuyukh boleh juga dipanggil Ahlul Halli Wal ‘Aqdi. Ciri-ciri istimewa mereka itu ialah:

1. Ulama yang bertakwa
2. Luas ilmunya
3. Dihormati umum
4. Berpengalaman
5. Pengetahuan umumnya luas

Dengan maksud supaya ciri-ciri itu membuat keputusan yang mereka buat diterima dan dihormati oleh orang banyak. Namun, mereka itu tidak mesti dari kalangan pemimpin resmi. Siapa yang sesuai dengan ciri-ciri tadi, maka layaklah dijemput untuk menjadi Ahlul Halli Wal ‘Aqdi atau anggota Majelis Syuyukh.

Begitulah serba ringkas tentang sistem syura menurut praktek Islam. Begitu sederhana, tenang, selamat dan memberi hasil yang besar dan hebat. Kenaikan pemimpin bukan hasil lobi tetapi dari hati. Pemimpin bukan mengharapkan gaji tapi bagai ayah yang menjaga anak-anak atas rasa tanggung jawab dan kasih sayang. Ayah dan ibu lebih suka melihat anak-anak senang dan bahagia sekalipun  dia menjadi korban.

Karena itu Parlemen Islam bagaikan sebuah keluarga. Keluarga yang harmoni, yang aman damai dan penuh tanggung jawab. Tidak ada sengketa, mencaci-maki, mujadalah dan akhlak-akhlak buruk. Masing-masing takut pada ALLAH, tidak bermegahan. Masing-masing bermaksud mencari kebenaran bukan kepentingan. Masing-masing bertanggung jawab dan tidak culas.

Dengan itu barulah lahir ketenangan di tengah masyarakat. Yang batil lenyap, kebenaran tertegak. Rakyat taat, pemimpin bertanggung jawab. Apa pendapat anda tentang parlemen yang berkasta-kasta, suka mujadalah (berdebat), sindir- menyindir, tidak serius, kebenaran tidak jelas, pemimpin diolok-olok,  saling menjatuhkan, kursi melayang dan tinju diacungkan?

Satu Tanggapan to “pemilu dalam Islam”

  1. imran Says:

    asslm. ana mau bertanya, sekarang ada yang sedang mengumumkan kekhalifahan Islam, mereka menyatakan bahwasanya hanya khilafahnya sistem yang digunakan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. dan tidak ada syura yang tidak dipimpin oleh seorang khalifah/amir. apakah itu benar?? kalau tidak benar yang benar yang seperti apa???
    kalau bisa penjelasannya tolong dikirim melalui E-Mail ana aja imran_baraja@yahoo.co.id


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: