Jalan Menuju Medan Jihad

Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam, yang telah berfirman di dalam kitab-Nya:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami.

Dan sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rosul-Nya yang terpercaya, Muhammad bin Abdillah, pemuka manusia pada generasi awal maupun generasi akhir, komandan al ghurrul muhajjalin, juga kepada seluruh keluarga dan sahabatnya, wa ba’du:

Sesungguhnya banyak kaum muslimin pada hari ini yang telah dapat menerima sepenuhnya bahwasanya jihad itu hukumnya adalah fardlu ‘ain karena musuh telah menyerang bumi kaum muslimin. Mereka juga dapat menerima sepenuhnya bahwasanya para mujahidin dan umat Islam sangat membutuhkan kepada rijal yang mau membela agama ini, dan membela darah serta kehormatan kaum muslimin.

Akan tetapi kelapangan dada mereka untuk menerima kenyataan ini belum ditindaklanjuti dalam praktek nyata oleh sebagian besar kaum muslimin, untuk bergabung ke bumi jihad? Akan tetapi kelapangan dada mereka untuk menerima kenyataan ini akan sirna dan hilang ketika dihadapkan dengan pertanyaan: Mana jalan menuju bumi jihad? Bagaimana caranya kita agar sampai ke bumi jihad? Namun sebagai jawaban atas pertanyaan ini, kebanyakan kaum muslimin tidak dengan terus-menerus mencari jalan akan tetapi justru mereka malah berpangku tangan, tidak mencarinya dan menipu diri sendiri dengan menganggap bahwasanya ini adalah udzur di hadapan Alloh.

Di sini saya akan membicarakan masalah jalan menuju medan jihad dan bagaimana caranya agar umat ini bisa sampai medan jihad, dan apa yang dimaksud dengan jalan menuju medan jihad.

Sesungguhnya jihad itu pada hari ini dianggap sebagai kekuatan menakutkan yang menggoncang singgasana kaum Yahudi dan kaum Salib. Dan ia adalah hantu yang mengancam dunia, beserta kebudayaan dan keamanannya. Demikianlah sebutan jihad yang tengah ditawarkan oleh kaum Salib. Oleh karena dunia menggambarkan jihad dengan gambaran semacam ini, maka jangan sekali-kali ada seorang muslim yang menyangka bahwa ia akan dapat sampai ke bumi jihad dengan mudah dan gampang, sekali-kali tidak. Akan tetapi ia akan menghadapi berbagai ancaman yang harus ia lalui supaya dia dapat sampai ke bumi jihad. Dan jangan sampai ada seorang muslimpun yang mempunyai anggapan bahwa musuhnya pada hari ini akan menaburi jalannya menuju jihad dengan bunga dan wewangian, lalu mengatakan kepadanya: Silahkan, silahkan, supaya kamu mendapatkan ridlo Alloh dan syurga. Sesungguhnya orang yang mengira bahwa musuhnya akan memperlakukannya seperti ini, dia adalah orang yang bodoh yang tidak memahami tabiat musuhnya yang Alloh ta’ala terangkan dalam Al Qur’an, Alloh berfirman:

وَلاَ يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوْا

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai memurtadkan kalian dari agama kalian jika mereka sanggup.

Mereka berusaha siang dan malam untuk menghalangi orang-orang beriman dari agama mereka dan dari jihad mereka.

Ini semua bukan untuk melemahkan semangat para rijal yang telah merindukan jihad, sama sekali tidak. Akan tetapi saya ingin mendekatkan gambaran jihad yang hendaknya diletakkan oleh setiap muslim dalam benaknya sebelum ia menempuh jalan menuju medan jihad. Dan hendaknya setiap orang yang ingin pergi ke medan jihad bahwasanya keinginan saja tidak cukup untuk dijadikan udzur di hadapan Alloh. Memang dengan mempunyai keinginan engkau akan terbebas dari sifat munafik, akan tetapi untuk mendapatkan udzur tidak berjihad dihadapan Alloh dibutuhkan usaha-usaha selain keinginan semata. Dan hendaknya semua pemuda Islam juga mengetahui bahwasanya orang-orang yang mempunyai keinginan tulus sebelum mereka telah berusaha dengan segenap kemampuan mereka sehingga mereka dapat masuk ke bumi jihad akan tetapi setelah apa? Yaitu setelah mereka merasakan kelelahan, ketakutan dan perburuan. Mereka mempunyai keinginan yang tulus sehingga Alloh mengabulkan keinginan mereka untuk sampai ke medan jihad.

Oleh karena itu Alloh menghitung menempuh jalan menuju medan jihad itu sendiri sebagai jihad tersendiri. Sehingga Alloh memberikan pahala dan balasan yang sangat besar. Alloh menganggap orang yang keluar ke bumi jihad itu sebagai mujahid dan jika ia mati maka ia mati syahid. Semua keutamaan dan balasan itu diberikan untuk memberikan motifasi kepada umat Islam agar memiliki semangat jihad. Karena mujahid itu apa yang ia inginkan dari jihadnya? Sesungguhnya ia ingin mendapatkan salah satu dari dua hal yang sangat baik, menang atau mati syahid. Maka apabila ia mendapatkan salah satu dari keduanya berarti dia telah mendapatkan kemenangan. Oleh karena itu Alloh ta’ala dan Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwasanya barangsiapa keluar rumah untuk berjihad, maka ia pasti akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan …

Alloh ta’ala berfirman:

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللهِ يَجِدْ فِي اْلأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَكَانَ اللهُ غُفُورَا رَّحِيمًا

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Alloh dan Rosul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nisa’: 100)

Di dalam ayat ini Alloh menerangkan bahwasanya barangsiapa keluar rumah menuju bumi jihad ia akan mendapatkan tempat untuk berlindung dan rizki yang banyak, dan jika ia mati maka ia telah tetap pahalanya di sisi Alloh yang Maha Mulia, yang tidak akan memberikan balasan selain syurga abadi. Alloh juga berfirman:

وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ثُمَّ قُتِلُوْا أَوْ مَاتُوْا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ

Dan orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh kemudian mereka terbunuh atau mati niscaya Alloh akan memberikan rizki yang baik kepada mereka. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar sebaik-baik pemberi rizki.

Dan dalam ayat ini Alloh menerangkan bahwasanya orang yang keluar untuk berjihad itu, baik ia terbunuh atau mati, maka ia dijanjikan Alloh akan diberi rizki yang baik …

Dan Alloh ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِي اللهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَلَأَجْرُ اْلآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Dan orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh setelah mereka di aniaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia, dan sungguh pahala yang akan ia dapatkan di akherat lebih besar lagi jika mereka mengetahui.

Di dalam ayat ini Alloh ta’ala juga menerangkan bahwasanya Alloh akan memberikan rizki yang baik kepada mujahid dan bukan hanya pahala saja, dan sungguh pahala di akherat itu lebih besar lagi meskipun di dunia ia belum sempat mendapatkan rizki yang baik lantara suatu hikmah yang hanya Alloh saja yang mengetahuinya.

Dan di dalam hadits, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menjelaskan permasalahan ini dengan ungkapan yang lebin indah, dan dapat mendekatkan gambaran kepada kita dengan memaparkan kemungkinan-kemungkinan bencana yang akan menimpa kita, dengan tujuan supaya membangkitkan semangat kita untuk keluar berjihad. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dari Abu Malik Al Asy’ari rodliyallohu ‘anhu, ia mengatakan: Saya pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَصلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَمَاتَ أَوْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيْدٌ أَوْ وَقَصَهُ فَرَسُهُ أَوْ بَعِيْرُهُ أَوْ لَدغَتْهُ هَامَةٌ أَوْ مَاتَ عَلىَ فِرَاشِهِ أَوْ بِأَيِّ حَتْفٍ شَاءَ اللهُ فَإِنَّهُ شَهِيْدٌ وَإِنَّ لَهُ الْجَنَّةَ

Barangsiapa keluar di jalan Alloh lalu ia mati atau terbunuh maka ia syahid, atau terpelanting oleh kudanya atau untanya atau disengat binatang berbisa atau mati di atas kasurnya atau dengan cara apapun yang Alloh kehendaki maka sesungguhnya ia syahid dan ia mendapatkan syurga.

Ibnu Muflih mengatakan di dalam kitab Al Furu’: Di dalam sanad hadits ini ada Baqiyah yang masih diperselisihkan statusnya akan tetapi hadits ini hasan insya Alloh. Ibnu Abi ‘Ashim juga mengatakan; Isnad hadits ini hasan lighoirihi. Sedangkan Al Hakim mengatakan; Hadits ini sesuai dengan syarat Muslim. Di dalam sanad hadits ini terdapat Baqiyah dan ‘Abdur Rohman bin Tsauban yang mana keduanya adalah dlo’if. Akan tetapi hadits ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi di dalam Sunannya. Di sana ia mengatakan: Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari, ia mengatakan: Saya pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ مَنِ انْتَدَبَ خَارِجًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ابْتِغَاءَ وَجْهِهِ وَتَصْدِيْقَ وَعْدِهِ وَإِيْمَانًا بِرِسَالاَتِهِ عَلَى اللهِ ضَامِنٌ فَإِمَّا يَتَوَفَّاهُ اللهُ فِي الْجَيْشِ بِأَيِّ حَتْفٍ شَاءَ فَيُدْخِلُهُ اْلجَنَّةَ ، وَإِمَّا يَسِيْحُ فِيْ ضِمَانِ اللهِ وَإِنْ طَالَتْ غَيْبَتُهُ ثُمَّ يَرُدُّهُ إِلَى أَهْلِهِ سَالِمًا مَعَ مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَ غَنِيْمَةٍ قَالَ وَمَن فَصَلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَمَاتَ أَوْ قُتِلَ يَعْنِي فَهُوَ شَهِيْدٌ أَوْ وَقَصَهُ فَرَسُهُ أَو بَعِيْرُهُ أَوْ لَدغَتْهُ هَامَةٌ أَوْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ بِأَيِّ حَتْفٍ شَاءَ اللهُ فَإِنَّهُ شَهِيْدٌ وَلَهُ الْجَنَّةُ

Sesungguhnya Alloh ‘azza wa jalla berfirman: Barangsiapa keluar di jalan Alloh untuk mencari wajah-Nya, karena membenarkan janji-Nya dan karena beriman kepada risalah-Nya, maka Alloh menjamin akan mematikannya dalam sebuah pasukan dengan cara mati yang bagaimanapun yang Alloh kehendaki sehingga Alloh memasukkannya ke dalam syurga. Atau ia akan terus berjalan dalam jaminan Alloh meskipun lama kepergiannya, kemudian Alloh mengembalikannya kepada keluarganya dalam keadaan selamat dengan membawa pahala dan ghonimah. Beliau bersabda: Dan barangsiapa keluar di jalan Alloh kemudian mati atau terbunuh maka dia syahid, atau ia terpelanting oleh kudanya atau untanya, atau disengat binatang berbisa atau ia mati di atas kasurnya dengan cara mati yang bagaimanapun yang Alloh kehendaki, maka sesungguhnya ia syahid dan ia mendapatkan syurga.

Hadits tersebut juga diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdulloh bin ‘Atiq rodliyallohu ‘anhu, ia berkata: Saya pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُجَاهِدًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ قَالَ بِأَصَابِعِهِ هَؤُلاَءِ الثَّلاَثُ الْوُسْطَى وَالسَّبَابَةُ وَاْلإِبْهَامُ فَجَمَعَهُنَّ وَقَالَ وَأَيْنَ الْمُجَاهِدُوْنَ فَخَرَّ عَنْ دَابَّتِهِ فَمَاتَ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ تَعَالى أَوْ لَدغَتْهُ دَابَّةٌ فَمَاتَ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ أَوْ مَاتَ حتف أَنْفِهِ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Barangsiapa keluar rumah untuk berjihad fi sabilillah .. kemudian beliau menunjukkan tiga jarinya, yakni jari tengah, telunjuk dan ibu jari, lalu beliau mengumpulkannya, dan beliau bersabda … dan manakah mujahidin, lalu ia tersungkur dari binatang tunggangannya lalu mati, maka ia pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh, atau dia disengat binatang kemudian ia mati maka pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh, atau dia mati dengan cara apapun maka pahalanya telah ditetapkan disisi Alloh ‘azza wa jalla.

Dalam sanad hadits ini juga terdapat Muhammad bin Is-haq, akan tetapi ayat-ayat di atas memperkuat hadits-hadits ini dan tidak bertentangan dengannya. Hal ini telah difahami Al Bukhori dan beliau membuat satu bab tersendiri dalam Shohih nya tentang masalah ini, yakni Bab Keutamaan orang yang terpelanting di jalan Alloh lalu ia mati maka di termasuk dalam golongan mereka, dan firman Alloh ta’ala:

وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ اْلمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ

Dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijroh kepada Alloh dan Rosul-Nya kemudian ia mati maka pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh.

وقع artinya adalah وجب. Ibnu Hajar berkata: Yang dimaksud dengan kaliamat [maka dia termasuk golongan mereka] adalah termasuk golongan mujahidin. Sedangkan yang dimaksud dengan firman Alloh [kemudian ia mati] itu lebih bersifat umum daripada hanya sekedar terbunuh atau terjatuh dari binatang tunggangan atau yang lainnya, maka ayat ini cocok dengan judul babnya. Dan Ath Thobari telah meriwayatkan dari jalur Sa’id bin Jubair, As Suddi dan yang lainnya, bahwasanya ayat ini turun berkenaan dengan seorang muslim yang tinggal di Mekkah, lalu tatkala ia mendengar firman Alloh ta’ala yang berbunyi:

أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا

Bukankah bumi Alloh itu luas sehingga kalian dapat berhijrah ke sana.

Ketika mendengar ayat ini ia mengatakan kepada keluarganya, sedangkan dia dalam keadaan sakit: Keluarkanlah aku ke arah Madinah! Maka keluarganya pun mengeluarkannya ke jalan arah Madinah kemudian ia mati di tengah jalan, maka turunlah ayat tersebut di atas. Dan yang benar nama orang tersebut adalah Dlomroh. Hal ini telah saya terangkan dalam kitabku yang membahas tentang sahabat. Sedangkan firman Alloh yang berbunyi [waqo’a: wajaba]. Ia mengatakan: Firman-Nya yang berbunyi:

وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ

Artinya adalah pahalanya telah ditetapkan.” Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas.

Jika pahala bagi orang yang menempuh perjalanan untuk berjihad saja seperti ini, lalu bagaimana dengan pahala jihad itu sendiri. Alloh tidak menjadikan pahala menempuh jalan menuju jihad dengan memberikan derajat dan jaminan seperti ini kecuali karena Alloh mengetahui bahwasanya perjalanan menuju jihad itu sangat berat. Hal itu karena dua hal: Pertama: Karena ini adalah awal dari kesusahan yang dihadapi oleh seorang mujahid ketika ia meninggalkan keluarga dan hartanya sedangkan jiwanya belum terbiasa dengan kesusahan, Kedua: Karena memotong jalan kaum muslimin menuju medan jihad itu lebih mudah bagi musuh daripada membunuh mujahidin setelah ia waspada dan memanggul senjata.

Dan dalam rangka membakar semangat serta memompa tekad, Alloh memberikan pahala yang sangat besar kepada orang yang menempuh perjalanan menuju jihad, dan Alloh juga menjamin akan memberikan pahala kepada mujahid, jaminan yang tidak meragukan sedikitpun. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Shohih Al Bukhori dan Shohih Muslim, sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh, ia mengatakan: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَضَمَّنَ اللهُ لِمَنْ خَرَجَ فِيْ سَبِيْلِهِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَإِيْمَانًا بِيْ وَتَصْدِيْقًا بِرُسُلِيْ فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ أُرْجِعُهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِيْ خَرَجَ مِنْهُ نَائِلاً مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيْمَةٍ

Alloh menjamin orang yang keluar di jalan-Nya tidak ada tujuan lain selain untuk berjihad di jalan-Ku dan karena iman kepada-Ku serta percaya kepada para Rosul-Ku, orang tersebut Aku jamin untuk Aku masukkan ke syurga atau Aku kembalikan dia ke rumahnya yang dia keluar darinya dengan memperoleh pahala dan ghonimah … (Al Hadits)

Jaminan kuat yang Alloh berikan kepada orang yang keluar untuk berjihad di jalan-Nya ini merupakan bukti yang nyata atas beratnya perjalanan menuju jihad bagi jiwa, yang dipenuhi dengan berbagai ancaman. Oleh karena itu Alloh ringankan kesulitan ini dengan pahala yang sangat besar.

Atas dasar ini, jika engakau benar-benar mempunyai keinginan untuk berjihad, maka jangan sekali-kali engkau berhenti dengan keinginan saja, karena ini tidak cukup untuk engkau jadikan alasan dihadapan Alloh untuk tidak berjihad, selama engkau mampu untuk keluar atau mampu untuk hanya sekedar melakukan usaha yang ada peluang berhasilnya. Maka berusahalah dan tempuhlah jalan menuju jihad. Dan ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang telah sampai ke bumi jihad itu bukanlah orang-orang yang mempunyai keajaiban, akan tetapi mereka mereka telah berusaha kemudian Alloh memberikan kemudahan kepada mereka sehingga Alloh palingkan pendengaran dan penglihatan orang dari mereka sehingga mereka dapat sampai ke medan jihad.

Dan sungguh jalan menuju medan jihad itu banyak sekali. Misalnya Afghanistan, engkau bisa melalui Pakistan, Iran, Uzbekistan, Tajikistan, Turkmanistan dan Cina. Begitu pula Chechnya, engkau dapat melalui Gorgia, Daghestan, Ingusetia dan Rusia. Kemudian Palestina, engkau dapat melalui Mesir, Yordan, Lebanon dan Suria. Kemudian Kasymir, engkau bisa melalui Pakistan dan India. Kemudian Indonesia, engkau dapatkan Indonesia dikelilingi oleh lautan dari semua arah. Kemudian Eriteria, engkau dapat melalui Sudan, Atsyubia dan laut merah. Dan lihatlah pula Philipina, Macedonia dan bumi-bumi jihad lainnya, juga memiliki jalan yang sangat banyak sehingga mustahil semua jalan itu tertutup bagi orang yang mempunyai tekad untuk berangkat ke medan jihad. Maka berfikirlah, atas ijin Alloh ta’ala engkau akan sampai ke medan jihad.

Dan umat Islam ini jumlahnya adalah satu milyar, sehingga seandainya ada satu juta saja dari kaum muslimin yang mau berusaha pergi ke medan jihad tentu dapat dipastikan seratus ribu orang di antara mereka yang sampai ke tujuan. Dangan jumlah itu insya Alloh seluruh medan jihad akan tercukupi.

Akan tetapi umat Islam seluruhnya berpaling dari jihad dan beralasan bahwasanya jalan menuju medan jihad telah tertutup. Padahal Alloh telah menolak alasan-alasan kita dan telah menjadikan pahala orang yang mati atau terbunuh dalam perjalanan jihad maka ia syahid. Namun kita ini masih saja mencari-cari alasan-alasan lain untuk mengulur-ulur waktu dan untuk tidak berjihad, semoga Alloh tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang Alloh firmankan dalam ayat yang berbunyi:

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِن كَرِهَ اللهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:”Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu”. (At Taubah: 46)

Selain itu kita juga berharap supaya Alloh tidak jadikan termasuk orang-orang yang Alloh sebutkan dalam firman-Nya:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاتَّبَعُوكَ وَلَكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah:”Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (At Taubah: 42)

Akan tetapi yakinlah wahai saudaraku, demi Alloh jika engkau jujur terhadap dalam mencari jalan jihad niscaya Alloh akan mengabulkan ketulusanmu, dan Dia telah menjamin akan menyampaikan dirimu ke medan jihad, karena Dia telah berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami niscaya Kami tunjuki dia kepada jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.

Satu Tanggapan to “Jalan Menuju Medan Jihad”

  1. Arman Says:

    Please help Muslim fighters through his skills as a hacker, strive for your religion. http://mualaf.com site hacked by the missionaries for help in give them that lesson.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: