Wahai Para Orang Tua, Tidak Ada Lagi Kewajiban Untuk Ijin Pada Hal-Hal Yang Hukumnya Fardlu ‘Ain.

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Muhammad bin Abdillah, yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam, juga kepada keluarga dan sahabatnya yang suci dan bersih, serta kepada seluruh ahli bait nya. Amma ba’du:

Di dalam kitab Al Kafi IV/256 Ibnu Qudamah mengatakan: “Dan amalan tathowwu’ yang paling utama adalah jihad fi sabilillah, hal itu dinyatakan oleh Ahmad. Pernah juga disampaikan kepadanya permasalahan tentang peperangan kemudian ia menangis dan mengatakan: Tidak ada amalan baik yang lebih baik daripadanya. Apa coba amalan yang lebih baik daripadanya, sedangkan orang-orang yang berperang di jalan Alloh itu adalah orang-orang yang mempertahankan Islam dan mempertahankan kehormatan mereka, dan mereka telah mengorbankan nyawanya. Semua orang dalam keadaan aman sedangkan mereka dalam ketakutan. Dan Abu Sa’id Al Khudzri telah meriwayatkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Rosululloh: Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling baik itu? Beliau menjawab:

مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ

Orang beriman yang berjihad di jalan Alloh dengan jiwa dan hartanya. (muttafaq ‘alaih)

…” Sampai di sini perkataan Ibnu Qudamah rohimahulloh mengenai jihad ketika hukumnya fardlu kifayah. Lalu apa kiranya yang beliau katakan jika jihad itu fardlu ‘ain?

Dan di antara yang menjadi penghalang jihad pada zaman sekarang ini dan yang pada hari ini senantiasa ditanyakan oleh mayoritas pemuda yang senantiasa merindukan medan-medan jihad adalah ijin kepada kedua orang tua. Berikut ini kami akan membahas secara detail tentang hukum ijin kepada kedua orang tua untuk berjihad. Namun sebelum saya bahas secara terperinci, saya katakan secara umum bahwasanya apabila jihad itu hukumnya fardlu ‘ain, dan inilah hukum jihad pada zaman kita sekarang ini karena musuh telah menyerang bumi kaum muslimin, maka dalam kondisi semacam ini telah gugur kewajiban meminta ijin kepada kedua orang tua untuk berjihad, sehingga seorang anak tidak perlu lagi meminta ijin kedua orang tuanya untuk berjihad, dan insya Alloh dia tidak berdosa.

Dalam lembaran-lembaran ini saya akan mengajak bicara dan memberikan penjelasan kepada kedua orang tua tentang hukum taat kepada keduanya untuk tidak berjihad, dan saya akan terangkan kepada keduanya tentang hukum jihad pada hari ini …

Bagi setiap orang tua yang hendak melarang anak-anaknya untuk berjihad pada jaman sekarang ini, hendaknya dia memahami bahwasanya mereka berdosa kepada Alloh karena mereka telah menghalangi jalan Alloh, padahal Alloh telah berfirman:

الَّذِيْنَ يَسْتَحِبُّوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلآخِرَةِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ وَيَبْغُوْنَهَا عِوَجًا أُوْلَئِكَ فِيْ ضَلاَلٍ بَعِيْدٍ

Orang-orang yang lebih mencintai kehidupan dunia daripada akherat dan menghalang-halangi jalan Alloh, dan mereka mengharapkan jalan itu bengkok, mereka itu dalam kesesatan yang jauh.

Dan hendaknya mereka memahami bahwasanya tidak boleh taat kepada mereka dalam rangka bermaksiat kepada Alloh. Kami akan memaparkan kaedah yang umum ini secara terperinci, serta dalil-dalilnya dari perkataan para ulama’, hanya Alloh sajalah yang dapat memberi petunjuk.

Wahai para orang tua: Sesungguhnya Islam di seluruh dunia pada hari ini tengah menghadapi serangan kaum Salib yang bersekutu dengan kaum Yahudi. Dan serangan ini ditujukan kepada Islam dan para penganutnya, berupa pembunuhan, pengusiran dan pelecehan terhadap harga diri. Sedangkan umat ini tidak mungkin dapat keluar dari keadaan yang menyedihkan ini, dan keluar dari kehinaan ini kecuali melalui tangan-tangan para pemuda dan rijalnya, tatkala mereka mengangkat bendera jihad dan mengerahkan jiwa mereka dan segala apa yang mereka miliki untuk mempertahankan agama ini. Jika ini terjadi maka kita akan menguasai kembali seluruh dunia ini sebagaimana dahulu para pendahulu kita telah menguasainya. Oleh karena itu hendaknya setiap bapak dan ibu mengetahui bahwasanya tanggung jawab mereka untuk membela agama ini sangatlah besar. Sehingga mereka wajib untuk berjihad dengan anak mereka, harta mereka dan lisan mereka supaya Islam menang dan umat ini jaya. Akan tetapi sangat disayangkan, kami telah tunggu-tunggu kalian supaya menjadi orang yang pertama kali mempersembahkan anaknya untuk agama ini, namun ternyata kalian malah orang yang pertama kali menghalangi anak-anaknya untuk berjihad mempertahankan agama ini. Ketahuilah wahai para orang tua, bahwasanya Alloh ta’ala tidaklah memberikan nilai sedikitpun pada perintah kalian jika perintah itu menyelisihi perintah-Nya. Karena taat kepada kalian itu hukumnya wajib dalam hal kebaikan dan ketaatan kepada Alloh, adapun jika dalam bermaksiat kepada Alloh maka tidak ada kata taat untuk kalian. Dan ketaatan kepada kalian itu lebih diutamakan jika itu berseberangan dengan ketaatan kepada Alloh, sehingga apabila ketaatan kepada kalian berseberangan dengan ketaatan kepada Alloh maka ketaatan kepada kalian tidak perlu lagi dihiraukan dan tidak perlu lagi diikuti. Di sini saya akan sampaikan kepada kalian secara detail tentang hukum taat kepada kalian supaya kalian tahu bahwa kalian itu berada di antara dua hal:

Pertama: Kalian relakan anak-anak kalian untuk berjihad, dan kalian berikan dorongan serta motifasi kepada mereka untuk berjihad niscaya kalian akan mendapatkan pahala mereka. Kedua: Kalian halangi mereka untuk berjihad di jalan Alloh maka kalian akan mendapatkan dosa dan kalian tidak berhak lagi untuk ditaati. Dan yang paling baik bagi kalian adalah hendaknya kalian menjadi golongan yang pertama, sehingga kalian menyerahkan anak-anak kalian kepada jihad dengan lapang dada dalam rangka taat kepada Alloh. Karena sesungguhnya kalian akan bertemu dengan suatu hari di mana pada saat itu tidak ada lagi gunanya harta dan anak, kecuali orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang bersih.

Mungkin kalian akan mengingkari dan marah mendengar kata-kataku ini, akan tetapi saya yakin dengan apa yang saya katakan dan saya yakin dengan apa yang saya fahami, meskipun kalian menentangku dan pasti kalian akan mengatakan kata-kata sebagai berikut:

Sesungguhnya taat kepada kedua orang tua itu hukumnya wajib dan fardlu ‘ain. Bahkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan yang lainnya dari Abdulloh bin Amr rodliyallohu ‘anhu, ia mengatakan: Ada seseorang yang datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu meminta ijin kepada beliau agar diijinkan untuk ikut berjihad. Maka Rosululloh bertanya kepadanya:

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ ؟

Apakah kedua orang tuamu masih hidup?

Orang itu menjawab: Ya. Maka beliau bersabda:

فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ

Berjihadlah pada keduanya!

Dan dalam Sunan Abu Dawud lebih jelas lagi daripada hadits tersebut, yang diriwayatkan dari Abu Sa’id rodliyallohu dengan lafadh:

ارْجِعْ فَاسْتَأْذِنْهِمَا فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ ، وَإِلاَّ فَبرَّهُمَا

Kembalilah, dan mintalah ijin kepada kedua orang tuamu, lalu jika keduanya mengijinkanmu maka berjihadlah, namun jika tidak maka berbaktilah kepada keduanya.

Kalian mungkin akan mengatakan bahwa dua hadits ini dan hadits-hadits lainnya, adalah nash yang memutuskan perkara ini dan juga merupakan bantahan atas anggapanmu bahwa tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua dalam jihad!! Namun saya tidak akan membantah kalian akan tetapi biarlah para ulama’ di sepanjang zaman yang akan membantah kalian, yang akan menjelaskan kesalahan kalian dalam menjadikan hukum yang terkandung dalam hadits tersebut berlaku pada sepanjang zaman, dan bahwasanya pendapat kalian ini bertentangan dengan dalil-dalil lainnya. Di antara dalil yang bertentangan dengan pendapat kalian ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban V/8, dari Abdulloh bin Amr rodliyallohu ‘anhu bahwasanya ada seseorang datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya kepadanya tentang amalan yang paling utama, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab: Sholat. Kemudian orang itu bertanya: Kemudian apa? Beliau menjawab: Kemudian sholat. Orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: Kemudian sholat. Lalu orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: Kemudian sholat. Tiga kali. Orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Orang itu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai dua orang tua. Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku memerintahkan kepadamu agar berbuat baik kepada kedua orang tuamu. Maka orang itu mengatakan: Demi (Alloh) yang telah mengutusmu sebagai Nabi, saya benar-benar akan berjihad dan akan kutinggalkan keduanya. Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Engkau lebih tahu.

Berdasarkan hadits di atas Ibnu Hajar di dalam Fat-hul Bari VI/140 mengatakan: “Mayoritas ulama’ mengharamkan bagi seseorang untuk jihad jika kedua orang tuanya atau salah satunya melarang, syaratnya kedua orang tua tersebut orang Islam. Karena taat kepada keduanya itu hukumnya fardlu ‘ain baginya sedangkan jihad itu fardlu kifayah. Namun ketika jihad itu hukumnya fardlu ‘ain maka tidak ada ijin lagi dan hal ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban … kemudian beliau menyebutkan hadits di atas lalu mengatakan … hadits ini dibawa kepada pemahaman ketika jihad hukumnya fardlu ‘ain, untuk mengkompromikan antara dua hadits tersebut. Lalu apakah kakek dan nenek hukumnya juga sama dengan kedua orang tua (dalam masalah ijin jihad)? Pendapat yang paling benar menurut madzhab Syafi’i adalah ya. (kakek dan nenek hukumnya sama dalam ijin jihad).”

Di dalam kitab Syarhuz Zarqoni ‘Ala Muwatho’ Malik III/20, Muhammad Az Zarqoni mengatakan: “Mengenai sabda beliau [maka berbaktilah kepada keduanya] mayoritas ulama’ mengatakan haram seseorang berjihad jika kedua orang tuanya atau salah satunya melarangnya, dengan syarat keduanya adalah orang muslim karena berbakti kepada keduanya hukumnya adalah fardlu ‘ain sedangkan jihad hukumnya fardlu kifayah. Namun ketika jihad hukumnya fardlu ‘ain maka tidak ada ijin lagi, karena Ibnu Hibban meriwayatkan hadits … kemudian beliau menyebutkan hadits di atas.

Di dalam kitab Ad Darori Al Mudliyah I/481 Asy Syaukani mengatakan: “Adapun keharusan ijin kepada kedua orang tua itu berlaku berdasarkan hadits Abdulloh bin Umar, ia mengatakan: Ada seseorang datang kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk meminta injin ikut berjihad. Maka Rosululloh bertanya kepadanya: Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Beliau menjawab: Ya. Maka Rosululloh bersabda: Berjihadlah pada keduanya. Dan di dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah disebutkan bahwasanya orang itu mengatakan: Wahai Rosululloh, sesungguhnya aku datang karena aku ingin berjihad bersamamu. Aku datang ke sini sedangkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis. Maka beliau bersabda: Kembalilah dan bikinlah keduanya tertawa sebagaimana engkau bikin keduanya menangis.

Dan Muslim telah meriwayatkan hadits ini dari jalur lain. Sedangkan Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id bahwasanya ada seseorang yang berhijroh kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dari Yaman. Maka Rosululloh bertanya kepadanya: Apakah ada orang yang engkau tinggalkan di Yaman? Orang itu menjawab: Ada, kedua orang tuaku. Maka Rosululloh bertanya: Apakah mereka berdua mengijinkanmu? Orang itu menjawab: Tidak. Maka beliau bersabda: Kembalilah kepada keduanya lalu mintalah ijin kepada keduanya. Jika keduanya mengijinkanmu maka berjihadlah, namun jika tidak maka jangan.

Hadits ini juga dishohihkan oleh Ibnu Hibban. Sedangkan Ahmad dan An Nasa-i dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Jahimah As Sulami bahwasanya Jahimah datang kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata kepada beliau: Wahai Rosululloh, aku ingin berjihad lalu aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu? Maka beliau bertanya: Apakah engkau memiliki ibu? Orang itu menjawab: Ya. Lalu beliau bersabda: Tetaplah bersama keduanya karena sesungguhnya syurga itu berada di kaki keduanya. Hadits ini isnadnya banyak diperselisihkan. Sedangkan mayoritas ulama’ berpendapat bahwasanya meminta ijin kepada kedua orang tua untuk berjihad itu hukumnya wajib dan haram hukumnya hukumnya berjihad jika keduanya atau salah satunya tidak mengijinkan, karena berbakti kepada keduanya itu hukumnya fardlu ‘ain sedangkan jihad itu hukumnya fardlu kifayah, dan mereka (mayoritas ulama’) mengatakan bahwasanya ketika jihad itu fardlu ‘ain tidak ada lagi ijin. Hal ini dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abdulloh bin Umar. Ia mengatakan bahwasanya ada seseorang datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya: Amalan apakah yang paling baik? Beliau menjawab:

الصَّلاَةُ قَالَ ثُمَّ مَهْ قَالَ اَلْجِهَادُ قَالَ فَإْنَّ لِيْ وَالِدَيْنِ قَالَ آمُرُكَ بِوَالِدَيْكَ خَيْرًا قَالَ وَالَّذِيْ بَعَثَكَ نَبِيًّا َلأُجَاهِدَنَّ وَلَأَتْرُكَنَّهُمَا قَالَ فَأَنْتَ أَعْلَمُ

Sholat. Kemudian orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: Kemudian jihad. Orang itu mengatkan: Sesungguhnya aku memiliki dua orang tua. Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku perintahkan engkau untuk berbuat baik kepada kedua orang tuamu. Orang itu berkata: Demi (Alloh) yang telah mengutusmu sebagai Nabi, aku benar-benar akan berjihad dan aku akan tinggalkan keduanya. Rosululloh bersabda: Engkau lebih tahu.

Para ulama’ mengatakan bahwasanya hadits ini adalah ketika jihad itu fardlu ‘ain, yakni ketika jihad itu hukumnya fardlu ‘ain bagi orang yang memiliki dua orang tua atau salah satunya, untuk mengkompromikan antara dua hadits tersebut.”

Di dalam Al Mughni IX/171, Ibnu Qudamah: “Jika jihad itu menjadi kewajibanmu maka tidak berlaku lagi ijin kepada kedua orang tua karena jihad hukumnya menjadi fardlu ‘ain sehingga meninggalkannya adalah maksiat dan tidak ada ketaatan kepada siapapun dalam bermaksiat kepada Alloh. Begitu pula setiap orang yang memiliki kewajiban seperti haji, sholat berjama’ah, sholat jum’at dan bersafar untuk menuntut ilmu yang wajib diketahui. Al Auza’i mengatakan: Tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua dalam meninggalkan kewajiban, sholat jum’at, haji dan perang, karena kewajiban-kewajiban tersebut hukumnya fardlu ‘ain baginya sehingga tidak berlaku lagi ijin kepada kedua orang tua dalam perkara-perkara tersebut seperti sholat, dan karena Alloh ta’ala berfirman:

وَ للهَ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

Dan manusia itu memiliki kawajiban kepada Alloh untuk melaksanakan haji ke baitulloh bagi siapa saja yang mampu menempuh perjalanan ke sana.

… dan di sini Alloh tidak mensyaratkan harus ijin kepada kedua orang tua.”

Sedangkan Al Khurofi mengatakan di dalam Mukhtashornya I/128, bahwasanya Ahmad mengatakan: “Dan apabila kedua orang tuanya muslim makan ia tidak boleh berjihad yang tathowwu’ (suka relawan) kecuali atas ijin dari keduanya, akan tetapi apabila ia diperintahkan untuk berjihad maka tidak ada lagi ijin kepada kedua orang tua. Dan begitu pula semua kewajiban yang lain, tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua untuk meninggalkannya.”

‘Ali bin Hasan Al Mardawi Al Hanbali mengatakan di dalam kitab Al Inshor II/109: “Dan yang dhohir dari perkataan pada sahabat kita dalam masalah jihad — yakni jika hukumnya fardlu ‘ain — mereka mengatakan bahwasanya tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua untuk meninggalkan suatu kewajiban, dan begitu pula hukum puasa jika kedua orang tua atau salah satu dari keduanya menyuruh untuk tidak berpuasa.”

Ibnu Qudamah mengatakan di dalam Al Kafi IV/253: “Jihad itu hukumnya fardlu ‘ain dalam dua keadaan:

Pertama: Apabila dua pasukan (pasukan Islam dengan pasukan kafir) saling berhadapan maka jihad hukumnya fardlu ‘ain bagi orang yang hadir di situ, berdasarkan firman Alloh ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا

Wahai orang-orang beriman apabila kalian bertemu dengan kelompok (kafir) maka bertahanlah…

… dan juga berdasarkan firman Alloh ta’ala:

إِذَا لَقِيْتُمْ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوْهُمُ اْلأَدْباَر

Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir dalam peperangan maka janganlah kalian mundur ke belakang. (Al Anfal)

Kedua: Apabila orang-orang kafir memasuki negari kaum muslimin maka fardlu ‘ain hukumnya bagi penduduk negeri tersebut untuk memerangi mereka dan barangkat semua untuk memerangi mereka, dan tidak diperkenankan bagi seorangpun untuk absen dari jihad kecuali orang yang diperlukan untu menjaga keluarga, tempat dan harta, dan juga orang yang dilarang oleh pemimpin untuk ikut berangkat, hal itu berdasarkan firman Alloh ta’ala:

انْفِرُوْا خِفَافًا وَثِقَالاً

Berangkatlah kalian berperang baik dalam keadaan ringan maupun dalam keadaan berat.

Dan juga karena mereka masuk dalam kategori orang yang hadir di medan perang sehingga jihad hukumnya fardlu ‘ain bagi mereka. Dan barangsiapa yang salah satu dari kedua orang tuanya muslim maka dia tidak boleh berjihad kecuali atas ijinnya. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwasanya adalah seseorang yang datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Wahai Rosululloh, bolehkah aku berjihad? Beliau ganti bertanya: Apakah engkau memiliki orang tua? Orang itu menjawab: Ya. Maka Rosululloh bersabda: Berjihadlah pada keduanya. At Tirmidzi mengatakan: Hadits ini hasan shohih. Dan juga karena jihad itu fardlu kifayah sedangkan berbakti kepada kedua orang tua itu hukumnya fardlu ‘ain, maka yang fardlu ‘ain itu harus didahulukan daripada yang fardlu kifayah. Namun jika kedua orang tuanya kafir maka tidak perlu ijin lagi kepada keduanya, karena Abu Bakar, Abu Hudzaifah bin ‘Utbah dan yang lainnya dahulu berjihad tanpa ijin kepada orang tua mereka, karena orang tua mereka cacat dari sisi agama … kemudian beliau mengatakan … dan jika jihad itu fardlu ‘ain maka tidak perlu lagi ijin kepada kepada kedua orang tua karena jihad menjadi fardlu ‘ain sehingga tidak berlaku lagi ijin kepada kedua orang tua dalam masalah ini sebagaimana haji yang wajib, demikian pula semua kewajiban yang lain tidak ada ketaatan kepada keduanya untuk meninggalkannya karena meninggalkannya adalah maksiat padahal tidak ada ketaatan kepada manusia untuk bermaksiat kepada Alloh, seperti bersafar untuk menuntut ilmu yang wajib diketahui jika ilmu tersebut tidak bisa didapatkan di negerinya atau yang lainnya.”

Ibnu Muflih mengatakan di dalam Al Mubdi’ III/316, setelah beliau menyebutkan bahwasanya mayoritas ulama’ melarang seorang anak pergi berjihad tanpa seijin kedua orang tua ketika jihad itu hukumnya fardlu kifayah. Kemudian beliau berkata: “Kecuali ketika jihad hukumnya fardlu ‘ain, karena tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua untuk meninggalkan kewajiban.” Asy Syaukani juga mengatakan di dalam Fat-hul Qodir IV/193: “Alloh berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا

Dan jika keduanya berusaha supaya kamu menyekutukan-Ku dengan apa-apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka janganlah engkau taati keduanya.

Yakni, jika keduanya meminta dan memaksa kepadamu agar engkau menyekutukan-Ku dengan sesembahan lain yang mana tidak engkau ketahui bahwa ia adalah sesembahan maka jangan engkau taati keduanya, karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam bermaksiat kepada kholiq. Dan Alloh mengungkapkannya dengan penafian ilmu tentang penafian sesembahan, karena sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya tidak boleh diikuti, terlebih lagi dengan sesuatu yang telah diketahui kebatilannya? Dan apabila kedua orang tua itu meminta dengan sungguh-sungguh saja tidak boleh ditaati apalagi jika keduanya hanya sekedar meminta tanpa ada usaha yang sungguh-sungguh. Dan seluruh kemaksiatan kepada Alloh hukumnya disamakan juga pemintaan untuk berbuat syirik ini, karena kedua orang tua itu tidak boleh ditaati dalam kemaksiatan kepada Alloh sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Asy Syaukani di dalam Nailul Author VIII/40 mengatakan: “Sabda Rosul yang berbunyi:

فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ

Jika keduanya mengijinkanmu maka berjihadlah.

Ini adalah dalil atas wajibnya meminta ijin kepada kedua orang tua dalam urusan jihad, dan inilah yang dikatakan oleh mayoritas ulama’, bahkan mereka menegaskan atas haramnya jihad jika kedua orang tua atau salah satunya melarang karena berbakti kepada keduanya itu hukumnya fardlu ‘ain sedangkan jihad itu fardlu kifayah. Namun ketika jihad fardlu ‘ain maka tidak ada lagi kewajiban untuk ijin.”

Bahkan Asy Syafi’i berpendapat bahwasanya tidak wajib taat kepada kedua orang tua dalam masalah jihad ketika jihad hukumnya fardlu kifayah, hal itu ketika diketahui bahwa kedua orang tuanya atau salah satunya manafik atau kafir atau membenci jihad dan tidak menyukai para pelaku jihad. Asy Syafi’i mengatakan di dalam Al Umm IV/163: “Apabila dia diperintahkan untuk mentaati kedua orang tuanya atau salah satunya untuk tidak berperang maka harus dijelaskan kepada orang itu bahwasanya ia tidak diperintahkan untuk mentaati salah satunya kecuali orang yang ditaati itu adalah orang mukmin … kemudian beliau berkata … lalu apabila keduanya masih berada di dalam agamanya maka hak keduanya (untuk ditaati) tidak hilang sama sekali, dan ia tidak boleh bersikap baro’ (berlepas diri) kepadanya, dan hendaknya dia tidak berjihad kecuali atas ijin dari keduanya. Namun jika keduanya tidak berada di dalam agamanya, maka sesungguhnya yang diperangi itu agamanya sama dengan keduanya sehingga tidak boleh taat kepada keduanya untuk meninggalkan jihad — ketika jihad fardlu kifayah — dan dia boleh berjihad meskipun kedua orang tuanya tidak setuju, dan biasanya kedua orang tua itu melarang karena ia membenci agamanya dan lebih senang dengan agama yang dianut keduanya, bukan murni karena sayang dengannya, selain itu telah terputus perwalian antara dirinya dengan kedua orang tuanya berdasarkan agama. Jika ada yang mengatakan; Apakah yang saya katakan ini ada dalilnya. Jawabnnya adalah; Ibnu Utbah bin Robi’ah telah berjihad bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan beliau memerintahkannya untuk berjihad,sedangkan bapaknya adalh orang yang memerangi Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka saya tidak meragukan lagi bahwasanya bapaknya itu tidak suka jika Ibnu Utbah berjihad bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Abdulloh bin Abdulloh bin Ubay dahulu juga berjihad bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sedangkan bapaknya tidak ikut perang bersama Nabi pada waktu perang Uhud bahkan dia melemahkan semangat jihad orang-orang yang masih taat kepadanya dan juga yang lainnya, sehingga insya Alloh tidak diragukan lagi mereka itu adalah orang-orang yang tidak suka jika anak-anak mereka berjihad bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam jika mereka sendiri bertentangan dengan Nabi dan memerangi beliau atau melemahkan semangat jihad. Asy Syafi’i rohimahulloh mengatakan: “Jika kedua orang tua itu masuk Islam, siapapun mereka, maka wajib bagi seorang anak untuk tidak berperang kecuali atas ijin darinya, kecuali jika anak itu mengetahui bahwasanya orang tuanya itu munafiq, maka ia tidak wajib taat kepada orang tuanya untuk berperang.”

Jika kami katakan tidak wajib taat kepada kedua orang tua untuk berangkat jihad itu bukan maksud kami untuk menggugurkan hak keduanya secara total. Akan tetapi kami katakan jika dia adalah anak satu-satunya yang menanggung kehidupan kedua orang tuanya, kemudian keberangkatannya untuk berjihad akan menyebabkan keduanya binasa atau menyebabkan keduanya murtad dari agamanya, maka ketika itu ia termasuk orang-orang yang memiliki udzur sehingga ia boleh untuk tidak berjihad secara fisik, sebagaimana orang-orang yang memiliki udzur yang lainnya, namun ia harus tetap berusaha untuk berjihad dengan harta dan lisannya, serta memberikan nasehat (kesetiaan) kepada Alloh dan Rosul-Nya serta kepada orang-orang beriman, sebagaimana yang Alloh perintahkan kepada orang-orang yang mempunyai udzur dalam firman-Nya:

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلاَ عَلَى الْمَرْضَى وَلاَ عَلَى الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ مَا يُنْفِقُوْنَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوْا للهِ وَرَسُوْلِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ مِنْ سَبِيْلٍ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٍ

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang lemah atau sakit atau yang tidak memiliki perbekalan jika mereka memberikan nasehat (kesetiaan) untuk Alloh dan Rosul-Nya. Tidaklah berdosa bagi orang-orang yang berbuat baik, dan Alloh itu maha pengampun lagi maha penyayang.

Perlu diketahui, bahwasanya jika kerusakan itu berbenturan dengan suatu kerusakan yang lebih besar lagi, maka yang menentukan mana yang lebih diutamakan begi setiap orang haruslah para ulama’. Tentang hal ini Ibnu Hazm mengatakan dalam Al Muhalla VII/292: “Kami telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodliyallohu ‘anhuma, ia berkata: Telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا

Tidak ada hijroh setelah penaklukan (kota Mekah) akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat, dan apabila kalian diperintahkan berangkat jihad berangkatlah.

… bersama sekelompok kaum muslimin. Maka jihad hukumnya wajib bagi orang yang memungkinkan untuk bergabung dengan mereka untuk menolong mereka, baik diijinkan oleh kedua orang tua atau tidak. Kecuali jika keduanya atau salah satunya akan terlantar sepeninggalnya, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan orang tuanya yang akan terlantar itu.”

Inilah hukum taat kepada kalian berdua wahai orang tua, jika ketaatan kepada kalian itu berseberangan dengan kataatan kepada Alloh, dan ketaatan kepada kalian dalam melaksanakan perintah Alloh, tidak ada ketaatan untuk kalian berdua dan tidak perlu meminta pertimbangan kepada kalian berdua dalam perkara-perkara yang hukumnya fardlu ‘ain. Persetujuan atau penolakan kalian berdua tidak dapat mengajukan atau mengundurkan pengamalannya. Akan tetapi persetujuan kalian itu lebih baik dan merupakan kemuliaan bagi kalian di sisi Alloh sedangkan penolakan kalian itu akan membuahkan murka dan siksa dari Alloh, wal ‘iyadzu billah

Atau mungkin kalian ragu-ragu, apakah jihad pada hari ini hukumnya fardlu ‘ain atau fardlu kifayah. Maka untuk mngusir keraguan dengan keyakinan, saya akan menyampaikan secara ringkas pendapat para ulama’ dan juga akan saya sampaikan ijma’ para ulma’ dan kesepakatan empat madzhab Ahlus Sunnah atas fardlu ‘ainnya jihad ketika dalam keadaan seperti apa yang kita alami pada hari ini. Sebelum saya sampaikan ijma’ tersebut, saya ingin menjelaskan kepada kalian berdua manakah negeri Islam yang diserang oleh musuh. Saya katakan: Sesungguhnya negara manapun yang pernah berkibar di sana bendera Islam, dan tentara Islam pernah menaklukkannya lalu menjalankan hukum Islam di sana dalam suatu hari atau suatu tahun atau suatu abad maka negara tersebut terhitung sebagai Darul Islam (Negara Islam), oleh karena itu apabila musuh menyerangnya dan merubah hukum-hukumnya lalu mengaturnya dengan hukum kafir, sehingga negara tersebut berubah dari Darul Islam (negara Islam) menjadi Darul Kufri (negara kafir), ketika itulah negara tersebut kita hitung sebagai wilayah Islam yang diserang musuh dan kewajiban kaum muslimin adalah berjihad untuk melawan musuh untuk mengambil kembali negara tersebut dari tangan musuh. Dan di sini saya sebutkan kepada kalian berdua negara-negara yang keadaannya sesuai dengan apa yang saya katakan tersebut. Pertama adalah Andalusia, kemudian Palestina, negara-negara Balkan, negara-negara Kaukasus, negara-negara di seberang sungai (dahulu adalah negara-negara Republik Soviet), sejumlah negara di Asia Timur, Eriteria, Somalia, Iran, Lebanon, Suriah, bagian barat Cina dan masih banyak lagi negara lainnya yang akan sangat panjang jika kita sebutkan semua, yang semua itu bisa tetap jika dikatakan musuh telah menguasainya dan merubahnya dari negara Islam menjadi negara Kafir. Dan di sini saya akan menyampaikan hukum jihad pada hari ini berdasarkan kondisi ini.

Para ulama telah berijma’ bahwasanya salah satu keadaan yang menjadikan jihad fardlu ‘ain adalah apabila musuh memasuki negara Islam, ketika itu jihad hukumnya menjadi fardlu ‘ain sehingga tidak boleh seorangpun absen dari jihad, yang mana sebelumnya hukumnya adalah fardlu kifayah. ijma’ tentang ini telah dinukil oleh semua fuqoha’ dari berbagai madzhab. Padahal musuh telah memasuki negeri-negeri Islam sejak berabad-abad yang lalu sehingga jihad hukumnya fardlu ‘ain, dan tidak ada lagi kewajiban ijin kepada kedua orang tua dalam masalah ini.

Dari madzhab Hanafi: Al Kasani di dalam Bada-i’ush Shona-i’ VII/97 mengatakan: “Adapun jika an nafir (kewajiban berangkat jihad) itu berlaku secara menyeluruh lantaran musuh menyerang sebuah negara, ini hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap indifidu kaum muslimin yang mempunyai kemampuan, berdasarkan firman Alloh ta’ala:

انفروا خفافاً وثقالاً

Berangkatlah kalian (berperang)baik dalam keadaan ringan maupun dalam keadaan berat.

Ada yang mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai an nafir (mobilisasi umum). Dan juga berdasarkan firman Alloh ta’ala:

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ اْلأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوْا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وِلاَ يَرْغَبُوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang yang berada di sekitarnya dari kalangan orang-orang Badui untuk tidak menyertai Rosululloh dan lebih mencintai diri mereka sendiri daripada dirinya.

Dan karena jihad itu pada awalnya telah menjadi kewajiban seluruh kaum muslimin sebelum ia ditetapkan an nafir (mobilisasi umum), karena kewajiban jihad itu akan gugur dari sebagian kaum muslimin jika telah ada sebagian dari mereka yang melaksanakannya. Namun apabila an nafir itu berlaku secara umum maka kewajiban itu tidak akan gugur kecuali jika semuanya melaksanakannya. Maka hukumnya menjadi fardlu ‘ain bagi semua orang sebagaimana puasa dan sholat. Sehingga seorang budak harus berangkat berjihad tanpa harus ijin kepada majikannya dan seorang wanita harus berangkat berjihad tanpa harus ijin kepada suaminya, karena hal-hal yang dimiliki oleh budak dan wanita yang berkaitan dengan ibadah-ibadah yang hukumnya fardlu ‘ain itu tidak termasuk dalam kepemilikan majikan dan suami berdasarkan syareat, sebagaimana puasa dan sholat. Begitu pula seorang anak, ia boleh berangkat berjihad tanpa ijin kepada kedua orang tuanya karena hak kedua orang tuanya tidak berlaku pada hal-hal yang hukumnya fardlu ‘ain seperti puasa dan sholat. Wallohu a’lam.

Dari madzhab Maliki: Ibnu Abdil Barr di dalam kitabnhya Al Kafi I/205: “Jihad hukumnya adalah fardlu ‘ain bagi setiap orang yang bisa melakukan perlawanan, berperang dan memanggul senjata dari kalangan orang-orang yang telah baligh dan merdeka. Hal itu ketika musuh menyerang dan memerangi Darul Islam (negara Islam). Jika hal itu terjadi maka wajib hukumnya bagi seluruh penduduk negeri tersebut untuk berangkat berperang baik dalam keadaan ringan maupun dalam keadaan berat, baik yang masih muda maupun yang sudah tua, dan tidak diperkenankan seorangpun untuk tidak berangkat bagi orang yang mampu untuk berangkat baik dia muqill (miskin) atau muktsir (kaya). Dan jika penduduk negeri tersebut tidak mampu melawan musuh mereka maka orang-orang yang tinggal di sekitar mereka wajib untuk berangkat — baik jumlah mereka sedikit atau banyak — sama dengan kewajiban orang yang tinggal di negeri tersebut sampai mereka tahu bahwasanya mereka telah memiliki kekuatan yang mencukupi untuk melawan musuh. Begitu pula bagi setiap orang yang mengetahui ketidak mampuan mereka untuk melawan musuh mereka dan ia mengetahui bahwasanya dirinya mampu untuk bergabung dengan mereka dan menolong mereka, maka ia juga wajib untuk berangkan jihad ke sana. Karena kaum muslimin itu semuanya adalah penopang bagi yang lainnya. Sampai apabila penduduk negeri yang diserang dan dijajah oleh musuh itu telah mampu melawannya maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya. Dan apabila musuh mendekati Darul Islam (negara Islam) dan belum memasukinya, hukumnya wajib juga untuk keluar menyongsong mereka.”

Dari Madzhab Asy Syafi’i: An Nawawi di dalam Syarah Muslimnya VIII/63 mengatakan: “Sahabat-sahabat kita mengatakan: Jihad itu pada hari ini hukumnya fardlu kifayah, kecuali jika musuh menduduki sebuah negeri kaum muslimin, maka ketika itu jihad hukumnya fardlu ‘ain bagi mereka. Jika penduduk negeri tersebut tidak mencukupi maka orang-orang yang berada di sekitar mereka wajib berjihad bersama mereka sampai jumlah mereka mencukupi.”

Dari madzhab Hanbali: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Al Fatawa Al Kubro (Al Ikhtiyarot) IV/520 mengatakan: “Dan adapun qitalud daf’i (perang defensif), ini adalah bentuk peperangan yang paling besar dalam melawan agresor yang menyerang kehormatan dan agama sehingga hukumnya wajib berdasarkan ijma’. Karena apabila ada musuh menyerang, yang merusak agama dan dunia, tidak ada sesuatu yang lebih wajib setelah beriman selain melawannya, dan tidak ada lagi satu syaratpun untuk melakukannya, akan tetapi musuh dilawan sesuai dengan kemampuan. Hal ini telah dinyatakan oleh sahabat-sahabat kita dan yang lainnya.” Beliau juga mengatakan: “Apabila musuh memasuki negeri Islam maka tidak diragukan lagi atas wajibnya untuk melawannya bagi orang yang berada paling dekat dengan mereka lalu orang yang terdekat selanjutnya, karena seluruh negeri Islam itu ibarat satu negeri. Dan bahwasanya wajib hukumnya untuk berangkat ke sana tanpa ijin kepada orang tua, atau orang yang menghutangi. Perkataan Ahmad tentang masalah ini sangatlah jelas.”

Terakhir kami simpulkan, wahai para orang tua yang mulia, bahwasanya jihad itu hukumnya fardlu ‘ain dan tidak ada lagi kewajiban untuk ijin kepada kalian, karena haram hukumnya mentaati kalian dalam bermaksiat kepada Alloh. Wahai para orang tua, mengapakah kalian tidak jawab pertanyaanku: Lihatlah Palestina, telah dikuasai musuh dan tidak ada seorangpun yang dapat melawan mereka baik orang yang berada di dekatnya atau yang jauh darinya, lalu apakah jihad hari ini hukumnya fardlu kifayah? begitu pula Andalusia (Spanyol) telah dikuasai oleh musuh sejak berabad-abad yang lalu, denikian pula Chechnya, Kasymir, Pilipina, Birma, Eriteria dan masih banyak lagi tanah kaum muslimin lainnya, seluruhnya dikuasai oleh musuh lalu ajaran Islam dihilangkan dari sana, kaum muslimin dihinakan, ditindas dan disiksa dengan berbagai macam siksaan. Sampai akhirnya kita menerima serangan kaum Salibis yang terbaru dilancarkan terhadap Afghanistan. Apakah setelah itu tetap akan kita katakan bahwa jihad hukumnya adalah fardlu kifayah dan taat kepada kalian untuk tetap tidak berangkat berjihad itu lebih wajib daripada berjihad itu sendiri? Sungguh kami telah berbicara secara maksimal sampai akhirnya kami merasakan kehinaan yang maksimal. Semoga sholawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Rosululloh, juga kepada seluruh keluarganya dan sahabatnya.

2 Tanggapan to “Wahai Para Orang Tua, Tidak Ada Lagi Kewajiban Untuk Ijin Pada Hal-Hal Yang Hukumnya Fardlu ‘Ain.”

  1. Dedhy Kasamuddin Says:

    Assalamu’alaikum mas.

    Abiss.. mampir dari blog mas nih, Wah.. BLog mas sangat bagus dan bermanfaat..!!

    Betapa senangnya bila mas mau mampir juga di BLog saya.

    Supaya kita bisa menjalin silaturahmi sesama Blogger lebih erat lagi.

    Alamat BLog saya: http://baru2.net

    Salam kenal,
    Dedy Kasamuddin

    • irhaby 71 Says:

      ‘alaikumussalam warohamtulloh… aamiin mudah2an ada konten dari blog aye yg bermanfaat buat bapak…, salam kenal salam ukhuwah.. moga terjalin silaturahim.. aamiin…
      langsung meluncur ke TKP…..😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: